Serangan Siber di RI Menggila-Melonjak Sampai 714%, Awal 2026 Segini

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman mengatakan, ancaman kejahatan siber meningkat, seiring dengan perkembangan teknologi digital. Menurutnya serangan siber kini tidak hanya menyasar individu, tapi juga lembaga pemerintahan, sektor ekonomi, layanan publik, hingga keamanan nasional.

Dudung mengatakan perkembangan teknologi digital memang membawa banyak manfaat, tapi kemajuan itu juga menghadirkan tantangan serius berupa meningkatnya kejahatan siber. Seperti, pencurian data pribadi, penipuan online, penyebaran hoaks, provokasi, peretasan sistem, hingga propaganda radikalisme melalui media digital.

Berdasarkan data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) yang disampaikan Dudung, jumlah serangan siber sepanjang 2025 mencapai 5,5 miliar serangan.

"Angka tersebut melonjak 7 kali lipat atau naik 714% dibandingkan rata-rata tahunan selama periode 2020-2024. Tren peningkatan tersebut berlanjut pada awal 2026. Selama periode 1 Januari hingga 15 April 2026, tercatat 1,52 miliar serangan cyber," kata Dudung, dalam keterangan video yang diberikan, Selasa (2/6/2026).

Tingginya angka serangan itu menjadi perhatian bahwa perlindungan data pribadi dan keamanan digital harus menjadi perhatian bersama.

Dudung juga menegaskan kesadaran menjaga keamanan digital harus menjadi perhatian bersama. Selain itu pemerintah melalui berbagai kementerian dan lembaga juga terus memperkuat sistem keamanan siber nasional.

"Kantor staf presiden juga mendorong penguatan koordinasi lintas sektor agar penanganan ancaman cyber dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu," katanya.

"Namun, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Peran masyarakat sangat penting dalam menjaga keamanan digital," tambahnya.

Dudung mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga ruang digital Indonesia agar tetap aman, sehat, dan produktif. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat pemersatu dan pendorong kemajuan bangsa, bukan menjadi celah bagi kejahatan maupun perpecahan.

"Kita harus lebih bijak menggunakan media sosial, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terprovokasi informasi palsu maupun tindakan penipuan digital," katanya.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |