Serahkan Bantuan, Khofifah Beri Atensi Pendampingan Korban Gempa NTT

7 hours ago 4

Jakarta -

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa hadir langsung di Manggarai, NTT, untuk memastikan tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) mengoptimalkan pendampingan psikososial dan layanan kesehatan bagi warga terdampak gempa bumi, terutama kelompok rentan seperti lansia yang masih berada di lokasi pengungsian.

"Bukan hanya kebutuhan logistik yang harus kita pikirkan. Layanan kesehatan dan pendampingan psikososial juga penting, terutama untuk kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia," kata Khofifah dalam keterangan tertulis, Senin (24/8/2026).

Hal tersebut dilakukan saat Khofifah menyerahkan bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Provinsi Jatim dan CSR di SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri'i, Kabupaten Manggarai, Minggu (23/8).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk itu, Pemprov Jatim telah mengirimkan tim LDP yang terdiri dari lima orang. Tim tersebut telah berada di lokasi selama tiga hari untuk memberikan pendampingan kepada warga terdampak, khususnya anak-anak dan lansia.

"Kami mengirim tim LDP, Layanan Dukungan Psikososial. Tim LDP ini ada 5 orang yang sudah 3 hari berada di sini. Ini tim trauma healing. Yang bisa kita lakukan adalah memberikan penguatan kepada anak-anak, bapak-ibu dan lansia. Mereka membutuhkan waktu untuk mendapatkan pendampingan, konseling dan trauma healing," ujar Khofifah.

Khusus bagi lansia, pendampingan psikososial dilakukan dengan membantu mereka menenangkan perasaan, mengurangi kepanikan, dan meredakan dampak stres setelah mengalami bencana.

Tim juga menerapkan teknik defusing dan debriefing sebagai bagian dari pendampingan untuk mencegah munculnya secondary trauma atau trauma lanjutan.

Pendekatan tersebut dilakukan dengan memberi ruang kepada lansia untuk menceritakan pengalaman yang mereka alami, sekaligus membantu mereka mengelola rasa takut dan kepanikan setelah gempa.

Khofifah mengatakan pendampingan psikososial tidak bisa dilakukan hanya dalam satu kali pertemuan. Selama warga masih berada dalam situasi bencana dan pengungsian, dukungan tersebut perlu terus diberikan.

"Prosesnya tidak cukup hanya sekali. Penguatan, konseling dan trauma healing ini membutuhkan waktu. Karena itu, selama masih dalam situasi bencana dan pengungsian, pendampingan perlu terus dilakukan agar anak-anak, bapak-ibu dan lansia bisa kembali kuat," kata Khofifah.

Selain dukungan psikososial, Khofifah juga memastikan lansia di pengungsian tetap mendapatkan layanan kesehatan. Mereka perlu mendapat pemantauan karena berada dalam situasi pengungsian setelah mengalami gempa.

Pemprov Jatim sebelumnya juga telah mengirimkan tujuh dokter ortopedi serta 10 dokter dan perawat untuk membantu pelayanan kesehatan di RSUD Ruteng. Selain itu, sebanyak 14 jenis obat-obatan yang dibutuhkan warga di pengungsian turut dikirim untuk mendukung penanganan kesehatan di lapangan.

"Untuk para lansia, mereka membutuhkan perhatian dan pendampingan. Kita berharap layanan kesehatan bisa berjalan dengan baik sehingga mereka merasa lebih aman dan tidak sendiri dalam menghadapi situasi ini," lanjutnya.

Khofifah mengatakan penanganan warga terdampak membutuhkan gotong royong berbagai pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, relawan, dunia usaha, dan masyarakat dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing untuk membantu proses pemulihan.

"Kita semua bersaudara. Mudah-mudahan yang sakit segera sembuh dan seluruh warga diberikan kekuatan. Yang penting sekarang bagaimana kita bersama-sama memberikan penguatan agar mereka tidak merasa sendiri dalam menghadapi ujian ini," tegas Khofifah.

Simak Video 'BRIN Siapkan Teknologi untuk Pemulihan NTT Pascagempa, Apa Saja?':

(prf/ega)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |