Satanic Temple Diakui Jadi Agama Baru di AS, Pengikutnya Banyak Gen Z

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - The Satanic Temple (TST) muncul sebagai fenomena unik dalam lanskap kebebasan beragama di Amerika Serikat. Satanic Temple resmi diakui sebagai institusi keagamaan oleh Internal Revenue Service (IRS) pada 2019. Pengakuan ini menempatkan TST sejajar secara hukum dengan agama-agama lain.

Meski namanya "Satanic", The Satanic Temple tidak percaya atau menyembah sosok Setan. Kata "setan" dipakai sebagai simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang sewenang-wenang dan dogma yang membatasi kebebasan individu.

"Misi dari The Satanic Temple adalah untuk mendorong kebajikan dan empati, menolak otoritas tirani, mendorong akal sehat yang praktis, menentang ketidakadilan, dan melakukan hal-hal yang mulia," demikian tulis The Satanic Temple di laman resmi mereka.

Satanic Temple didirikan pada 2012 di Amerika Serikat oleh dua tokoh yang menggunakan nama samaran, Lucien Greaves dan Malcolm Jarry. Berbeda dari Church of Satan (Gereja Setan) yang lebih dulu berdiri pada 1960-an, Satanic Temple menegaskan dirinya sebagai organisasi keagamaan non-teistik, yang menggunakan simbol Setan secara metaforis untuk mengampanyekan nilai rasionalitas, kebebasan individu, dan keadilan sosial, terutama melalui jalur hukum dan wacana publik.

The Baphomet statue is seen in the conversion room at the Satanic Temple where a Foto: Patung Baphomet yang ada di Satanic Temple di AS. (AFP/JOSEPH PREZIOSO)

Alih-alih kitab agama, Satanic Temple punya Seven Tenets yang menekankan empati, rasionalitas, keadilan, dan kebebasan tubuh. Prinsip-prinsip ini sering dibandingkan dengan nilai humanisme modern.

Laporan AP News dan Religion News Service menunjukkan bagaimana organisasi ini memanfaatkan kebebasan beragama untuk menantang dominasi agama mayoritas. Contohnya, saat negara bagian AS mengizinkan simbol Kristen di gedung publik, TST menuntut hak menempatkan patung Baphomet-bukan karena ingin memuja, tapi untuk menyoroti standar ganda.

Salah satu langkah paling kontroversial mereka adalah mengklaim aborsi sebagai bagian dari ritual keagamaan, untuk menantang pembatasan aborsi di sejumlah negara bagian AS dengan argumen kebebasan beragama.

Banyak pengamat menyebut TST sebagai gerakan politik-legal berbasis simbol agama, bukan komunitas spiritual biasa. Pengikutnya didominasi generasi muda urban, yakni milenial dan Gen Z, yang skeptis terhadap institusi agama, tetapi aktif dalam isu kebebasan sipil dan politik identitas.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |