Rupiah Terburuk di Asia, Baht Jadi Raja

2 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

19 January 2026 10:12

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar mata uang Asia bergerak beragam dalam melawan pergerakan dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan pagi ini, Senin (19/1/2026).

Melansir data Refinitiv, pada pukul 09.35 WIB Terpantau mata uang baht Thailand berhasil jadi tampi yang paling kuat dalam melawan greenback, sementara rupiah Garuda justru mengalami pelemahan terbesar diantara mata uang Asia lainnya.

Melihat pergerakan rupiah di pagi ini, rupiah terpantau mengalami pelemahan sebesar 0,21% atau terdepresiasi ke level Rp16.915/US$ setelah di sepanjang pekan lalu melemah hingga ditutup pada level terlemah sepanjang masa di level Rp16.880/US$.

Namun rupiah tidak sendirian, pelemahan juga terjadi pada dong Vietnam yang turut terdepresiasi 0,11% di level VND 26.264/US$. Selain itu, won Korea dan peso Filipina juga melemah dengan pelemahan masing-masing sebesar 0,09 DAN 0,08% ATAU di level KRW 1.474,64/US$ dan PHP 59,384/US$.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia lainnya justru berhasil menguat. Penguatan dipimpin oleh Baht Thailand yang menugat 0,41%. di level THB 31,29/US$. Diikuti oleh dolar Taiwan yang terapresiasi 0,33% di level 31,505/US$.

Dolar Singapura dan yen Jepang pun menguat masing-masing 0,18% dan 0,15%. Penguatan yen sejalan dengan karakter mata uang tersebut yang kerap diburu saat pasar global sedang mencari perlindungan.

Tak hanya itu, yuan China juga terpantau menguat 0,06% ke level 6,9638/US$, sementara ringgit Malaysia cenderung stagnandi posisi 4,055/US$.

Pergerakan mata uang Asia sebenarnya mendapat angin segar dari pelemahan dolar AS di pasar global. Hal ini tercermin dari Indeks dolar AS (DXY) yang pada pukul 09.35 WIB terpantau melemah 0,18% ke level 99,212.

Tekanan pada greenback muncul setelah investor merespons meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Sentimen pasar kembali memanas usai Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland.

Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran baru soal eskalasi tensi dagang global, sekaligus berpotensi menekan hubungan ekonomi AS dengan mitra utamanya di Eropa.

Respons keras dari sejumlah negara Uni Eropa ikut menambah lapisan ketidakpastian. Situasi ini mendorong pelaku pasar bersikap lebih defensif, mengurangi eksposur pada aset berisiko, dan menilai ulang prospek dolar AS dalam jangka menengah.

Menariknya, berbeda dari pola risk-off pada umumnya, dolar AS justru ikut tertekan. Ini menunjukkan pasar mulai menyimpan keraguan terhadap arah kebijakan ekonomi AS di tengah meningkatnya nada proteksionis.

Investor juga masih mengingat gejolak pasca pengumuman tarif besar-besaran pada April 2025 yang sempat mengguncang kepercayaan terhadap aset berdenominasi dolar.

Tekanan pada dolar AS itulah yang membuka ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang, termasuk mata uang Asia, setidaknya pada awal perdagangan hari ini. Meski begitu, pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan lanjutan kebijakan AS dan respons global, karena volatilitas pasar tetap berpotensi tinggi dan membuat arah mata uang Asia bisa berubah cepat sepanjang hari.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |