Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
18 May 2026 10:33
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda melanjutkan tren pelemahan dan semakin menjauh dari level psikologisnya.
Melansir Refinitiv, pada perdagangan hari ini, Senin (18/5/2026), rupiah bahkan sempat menembus level Rp17.660/US$. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sekitar 1,15%.
Level ini sekaligus menjadi all time low atau level terlemah terbaru rupiah secara intraday di pasar spot.
Tekanan terhadap rupiah sudah terlihat dalam beberapa waktu terakhir. Ketidakpastian global, kuatnya permintaan terhadap dolar AS, tekanan dari pasar keuangan domestik, hingga kekhawatiran terhadap arus keluar dana asing membuat rupiah sulit keluar dari tekanan.
Tekanan terhadap rupiah kali ini tidak berdiri dari satu faktor saja. Pasar membaca sejumlah risiko secara bersamaan, mulai dari perubahan komposisi indeks MSCI, kualitas pertumbuhan ekonomi, hingga persepsi investor terhadap arah kebijakan fiskal di dalam negeri.
Potensi Penyusutan Bobot RI di MSCI
Salah satu tekanan utama terhadap rupiah datang dari kekhawatiran pasar terhadap perubahan komposisi indeks MSCI. Dalam review Mei 2026, MSCI resmi mengeluarkan enam saham Indonesia dari Global Standard Index.
Penghapusan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat membuat bobot Indonesia di indeks emerging market menyusut.
Menurut ekonom DBS Radhika Rao, bobot Indonesia di indeks emerging market diperkirakan turun menjadi sekitar 0,5-0,6%, dari sebelumnya hampir 0,8%.
"Porsi Indonesia yang lebih rendah ini akan mendorong investor untuk menyesuaikan kembali portofolio mereka, sehingga berpotensi memicu tambahan arus keluar asing dalam skala moderat," tulis Radhika Rao dalam riset Indonesia markets: MSCI rebalances index, slippery rupiah.
Investor global yang mengikuti indeks MSCI berpotensi menyesuaikan kembali portofolio mereka.
Ketika bobot Indonesia turun, kebutuhan untuk memegang saham-saham Indonesia juga ikut berkurang.
Tekanan ini dapat membuka ruang keluarnya dana asing tambahan dari pasar saham domestik. Pada akhirnya, permintaan terhadap rupiah ikut melemah karena aliran dana asing ke pasar saham belum cukup kuat.
Pertumbuhan Ekonomi Belum Cukup Kuat Tahan Rupiah
Data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 sebenarnya terlihat kuat. Namun, angka yang solid belum cukup menjadi penopang rupiah.
Pasar menilai dorongan pertumbuhan lebih banyak berasal dari belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga. Sementara itu, kontribusi dari investasi dan perdagangan belum cukup kuat untuk membangun kepercayaan yang lebih besar terhadap prospek ekonomi.
"Laporan pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 yang kuat juga gagal menggairahkan rupiah, karena dorongan pertumbuhan berasal dari belanja pemerintah dan konsumsi yang lebih tinggi, bukan dari investasi atau perdagangan," tulis Radhika.
Investor tidak hanya melihat angka pertumbuhan. Mereka juga mencermati sumber pertumbuhannya.
Jika pertumbuhan lebih banyak ditopang oleh belanja pemerintah, pasar akan melihat apakah belanja tersebut produktif, efisien, dan mampu menciptakan dampak jangka panjang terhadap ekonomi.
Kredibilitas Fiskal
Selain faktor pasar keuangan, pelemahan rupiah juga tidak bisa dilepaskan dari persepsi investor terhadap kebijakan fiskal.
Pasar mencermati arah belanja pemerintah, kualitas penggunaan anggaran, serta kemampuan menjaga defisit tetap kredibel.
Dalam tulisan Ezaridho Ibnutama, pelemahan rupiah tidak semata-mata bisa dibaca sebagai persoalan moneter. Nilai tukar juga mencerminkan penilaian pasar terhadap perilaku fiskal pemerintah.
"Nilai tukar, dalam jangka panjang, adalah vonis atas perilaku fiskal pemerintah," tulis Ezaridho.
Poin ini menjadi penting karena ketika rupiah melemah, beban kewajiban dalam dolar AS juga ikut meningkat. Artinya, semakin dalam pelemahan rupiah, semakin besar pula beban dalam rupiah untuk membayar kewajiban berdenominasi valuta asing.
"Setiap penurunan nilai rupiah menggelembungkan biaya riil cicilan utang," tulis Ezaridho.
Karena itu, pasar tidak hanya memantau langkah BI. Investor juga melihat seberapa kuat disiplin fiskal pemerintah dijaga di tengah kebutuhan belanja yang besar.
Konflik AS-Iran
Tekanan terhadap rupiah juga datang dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang belum menemukan titik terang.
Kondisi ini membuat harga energi, khususnya minyak mentah, masih bergerak volatil dengan kecenderungan menguat.
Pada perdagangan Intraday pagi ini, harga minyak Brent naik 1,9% ke US$111,34 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,3% ke US$107,84 per barel.
Kenaikan harga minyak ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan dari kawasan Teluk, termasuk risiko berkepanjangan di Selat Hormuz.
Harga minyak yang tinggi menjadi sentimen negatif karena dapat menambah tekanan terhadap inflasi, subsidi energi, neraca perdagangan, hingga kebutuhan valuta asing.
"Kekhawatiran atas review MSCI, geopolitik, dan perkembangan domestik terus menekan rupiah, ketika mata uang ini melemah melewati Rp17.500/US$ dan menjadi salah satu mata uang kawasan dengan kinerja terlemah secara year to date," tulis Radhika.
Dengan demikian, tekanan rupiah tidak hanya berasal dari pasar keuangan domestik. Ketidakpastian AS-Iran dan harga minyak yang masih tinggi juga ikut membuat investor lebih berhati-hati terhadap aset rupiah.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google


















































