Jakarta, CNBC Indonesia — Rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Kamis (22/1/2026).
Merujuk data Refinitiv, rupiah berakhir di level Rp16.880/US$ atau menguat 0,30% dibandingkan penutupan sebelumnya. Sebagai catatan, pada perdagangan kemarin, Rabu (21/1/2026), rupiah juga ditutup menguat 0,09% di level Rp16.930/US$.
Rupiah sejatinya sudah menguat sejak pembukaan pagi tadi, dengan apresiasi 0,18% di posisi Rp16.900/US$. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di rentang Rp16.920-Rp16.875/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau relatif stabil di level 98,769, tidak jauh berbeda dari penutupan sebelumnya di 98,761.
Penguatan rupiah hari ini terjadi seiring respons lanjutan pasar terhadap keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diumumkan kemarin, Rabu (21/1/2026). Dengan keputusan ini, BI tercatat sudah empat kali beruntun mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% sejak September 2025.
Keputusan tersebut dinilai membantu menjaga daya tarik aset berdenominasi rupiah, sehingga menopang stabilitas nilai tukar di tengah tekanan yang sempat membayangi rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar global cenderung lebih tenang setelah Presiden AS Donald Trump meredakan tensi kebijakan dengan menarik kembali ancaman tarif dan menegaskan tidak akan mengambil Greenland dengan kekuatan.
Pernyataan ini mendorong minat terhadap aset berisiko seperti saham, sementara permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas mulai berkurang.
Kondisi risk-on tersebut umumnya memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil. Meski demikian, pelaku pasar tetap berhati-hati karena arah kebijakan AS dinilai masih bisa berubah cepat.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

















































