Rupiah Bangkit Usai Libur Panjang, Dolar AS Turun Jadi Rp16.905

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (25/3/2026), yang juga menjadi perdagangan perdana setelah libur panjang Lebaran.

Merujuk data Refinitiv, rupiah menutup perdagangan di level Rp16.905/US$ atau menguat 0,41%. Meski begitu, penguatan tersebut lebih kecil dibandingkan posisi saat pembukaan pagi tadi, ketika rupiah sempat melesat 0,74% ke level Rp16.850/US$.

Walau sebagian penguatannya terpangkas, rupiah tetap berhasil melanjutkan tren positif sejak perdagangan terakhir sebelum libur panjang. Sebelumnya, pada Selasa (17/3/2026), rupiah juga ditutup menguat tipis 0,06% di level Rp16.975/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia pada pukul 15.00 WIB terpantau sedang melemah 0,08% ke posisi 99,358.

Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini masih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama pelemahan dolar AS di pasar global.

Indeks dolar AS masih berada dalam tekanan setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat sedang mengupayakan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri konflik. Presiden AS Donald Trump juga menyebut Iran telah menunjukkan isyarat positif dalam negosiasi yang berkaitan dengan arus energi melalui Selat Hormuz.

Di saat yang sama, sejumlah laporan menyebut Washington sedang mendorong gencatan senjata sementara untuk membuka ruang negosiasi dengan Iran. Harapan meredanya konflik ini ikut menekan harga minyak, sehingga memberi sedikit kelegaan bagi pasar yang sebelumnya khawatir lonjakan harga energi akan memicu inflasi lebih tinggi dan mendorong kenaikan suku bunga.

Kondisi tersebut membuat dolar AS melemah dan memberi ruang bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, untuk bergerak menguat.

Meski begitu, pasar belum sepenuhnya tenang. Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan AS, sementara sejumlah negara Teluk juga dikabarkan siap terlibat lebih jauh dalam konflik. Artinya, ketidakpastian global masih tetap tinggi.

Selain itu, pasar juga masih mencermati arah kebijakan moneter AS. Gubernur bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Michael Barr mengatakan The Fed kemungkinan masih perlu mempertahankan suku bunga tinggi untuk beberapa waktu guna meredam inflasi. Pernyataan ini menandakan bahwa ruang penguatan rupiah tetap bisa terbatas jika tekanan dari dolar AS kembali meningkat.

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |