Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
02 August 2026 11:30
Jakarta, CNBC Indonesia - FIFA berencana membentuk FIFA Forward Enterprise atau FFE, perusahaan baru yang akan mengelola hak siar, sponsor, tiket, hospitality, lisensi, dan operasional berbagai turnamen FIFA.
Melalui FFE, FIFA ingin menghimpun modal maksimal US$4,2 miliar atau sekitar Rp75,6 triliun, menggunakan asumsi kurs Rp18.000 per dolar AS. Investor akan memperoleh saham minoritas pada FFE yang mempunyai valuasi awal US$20 miliar.
Rencana tersebut mendapat perlawanan keras. Seluruh 55 federasi anggota UEFA menyatakan tidak akan mengikuti kompetisi FIFA selama proposal masih berjalan. CONCACAF juga menolak, sedangkan AFC mempertanyakan dampaknya terhadap kompetisi regional dan domestik.
Dana Besar untuk Federasi
FIFA menawarkan pendanaan US$20 juta kepada setiap federasi untuk periode 2027-2030. Setiap anggota juga bisa memperoleh tambahan satu kali sebesar US$20 juta melalui program sukarela.
Artinya, satu federasi berpotensi mendapatkan US$40 juta atau sekitar Rp720 miliar. Bagi negara berkembang seperti Indonesia, jumlah tersebut dapat digunakan untuk membangun pusat latihan, memperkuat kompetisi usia muda, mengembangkan sepak bola perempuan, dan meningkatkan pendidikan pelatih.
FIFA menyebut pembentukan FFE bisa membantu meningkatkan total pendanaan pengembangan sepak bola menjadi lebih dari US$10 miliar dalam empat tahun.
Uang Investor Hampir Langsung Habis
Hitungan penggunaan dana menjadi bagian paling menarik dari proposal ini.
Apabila seluruh 211 anggota FIFA mengambil pendanaan tambahan sebesar US$20 juta, kebutuhan dananya mencapai US$4,22 miliar. Nilai tersebut hampir sama dengan seluruh modal US$4,2 miliar yang akan dihimpun dari investor.
Dengan demikian, sebagian besar modal eksternal berpotensi langsung dibagikan kepada federasi, bukan digunakan untuk membangun teknologi atau sumber pendapatan baru.
Secara akuntansi, uang US$4,2 miliar tersebut juga bukan pendapatan. Dana itu merupakan pembiayaan karena FIFA memberikan sebagian kepemilikan ekonomi FFE kepada investor.
FIFA dan federasi menerima uang besar sekarang. Sebaliknya, investor akan mempunyai kepentingan ekonomi terhadap pendapatan Piala Dunia pada masa depan.
FIFA Sebenarnya Tidak Kekurangan Kas
Pada akhir 2025, FIFA memiliki kas, setara kas, dan aset keuangan sebesar US$6,95 miliar. Total cadangannya mencapai US$2,70 miliar.
FIFA juga mempunyai liabilitas sebesar US$6,78 miliar, terutama berupa kewajiban kontrak terkait pendapatan komersial Piala Dunia 2026 yang telah ditagihkan sebelum turnamen selesai diselenggarakan. Karena itu, tidak seluruh kas FIFA bisa langsung dibagikan.
Meski demikian, posisi tersebut menunjukkan FIFA tidak sedang mengalami krisis likuiditas. Pembentukan FFE lebih tepat dilihat sebagai perubahan cara FIFA membiayai pertumbuhan dan mendistribusikan uang kepada anggotanya.
Investor Tetap Membutuhkan Keuntungan
FIFA menegaskan investor tidak akan menentukan regulasi, kalender, atau keputusan olahraga. Namun, investor tetap membutuhkan keuntungan atas modal yang ditanamkan.
Untuk menaikkan nilai FFE, pendapatan dari hak siar, sponsor, tiket, hospitality, dan lisensi harus meningkat. Cara lainnya adalah menambah pertandingan atau menggelar turnamen lebih sering.
Tekanan tersebut dikhawatirkan mengambil ruang dari Liga Champions, EURO, Piala Asia, Copa América, dan liga domestik. UEFA memiliki kepentingan besar karena sekitar 81% dari proyeksi pendapatannya sebesar €5,1 miliar pada musim 2026/2027 berasal dari hak media.
Ancaman Boikot Bisa Menjatuhkan Valuasi
Piala Dunia tanpa Inggris, Spanyol, Prancis, Jerman, Italia, Portugal, dan negara Eropa lainnya tidak akan memiliki nilai komersial yang sama.
Broadcaster dapat menunda pembelian atau meminta harga hak siar lebih rendah sampai terdapat kepastian mengenai peserta turnamen. Sponsor juga berpotensi menegosiasikan ulang kontrak karena absennya tim dan pemain bintang Eropa akan mengurangi eksposur merek.
Dampaknya kemudian merambat ke penjualan tiket, paket hospitality, merchandise, dan lisensi komersial. Negara tuan rumah juga berisiko menerima lebih sedikit wisatawan dan aktivitas ekonomi dari proyeksi awal. Situasinya semakin kompleks karena Spanyol dan Portugal menjadi tuan rumah utama Piala Dunia 2030 bersama Maroko.
Bagi calon investor, ketidakpastian tersebut dapat mengubah valuasi FFE. Investor mungkin meminta diskon dari valuasi awal US$20 miliar, mengurangi modal yang ditanamkan, atau membatalkan transaksi.
Karena itu, ancaman UEFA bukan sekadar konflik politik. Boikot dapat langsung menurunkan pendapatan dan nilai bisnis yang sedang ditawarkan FIFA kepada investor.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/luc)

















































