Ramai Negara Punya Iron Dome, Secanggih Apa Golden Dome AS?

1 hour ago 5

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia

02 May 2026 16:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) sedang berupaya membangun perisai rudal nasional yang dirancang untuk mengalahkan ancaman canggih dari China dan Rusia, menandai pergeseran besar menuju pertahanan dalam negeri terhadap senjata hipersonik dan balistik.

Upaya "Golden Dome for America" senilai US$17,9 miliar ini bertujuan untuk menutup celah kritis dalam peringatan dini dan intersepsi, memperkuat pencegahan dengan mengurangi efektivitas kemampuan serangan jarak jauh.

Arsitektur ini berpusat pada sensor dan pencegat berbasis ruang angkasa yang terhubung dengan sistem kinetik dan non-kinetik untuk melacak dan menyerang rudal di semua fase penerbangan.

Pendekatan berlapis ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bertahan hidup dan kecepatan respons sekaligus selaras dengan tren yang lebih luas menuju pertahanan rudal multi-domain terintegrasi dan peperangan yang didukung ruang angkasa.

Diumumkan pada 21 April 2026, sebagai bagian dari pengajuan anggaran pertahanan Pentagon untuk tahun fiskal 2027 kepada Kongres, Golden Dome mencerminkan pergeseran strategis menuju pertahanan tanah air AS terhadap ancaman rudal setara, bukan hanya skenario negara nakal yang terbatas.

Inisiatif ini secara langsung mengatasi tantangan operasional yang semakin meningkat yang ditimbulkan oleh kendaraan luncur hipersonik China, sistem strategis canggih Rusia, dan persenjataan rudal yang berkembang yang mampu menembus pertahanan lama.

Golden Dome bukanlah sistem pertahanan udara tunggal, melainkan "sistem dari sistem" komprehensif yang mengintegrasikan semua kemampuan pertahanan udara dan rudal AS yang tersedia ke dalam arsitektur nasional yang terpadu.

Berasal dari Perintah Eksekutif 14186 yang ditandatangani pada 27 Januari 2025, program ini bertujuan untuk menggabungkan aset ruang angkasa, udara, darat, dan maritim ke dalam jaringan pertahanan berkelanjutan yang mampu menangkal "serangan udara dari musuh mana pun."

Pendekatan ini merupakan perubahan mendasar dari strategi pertahanan rudal sebelumnya yang sangat bergantung pada pencegahan nuklir terhadap musuh setara, dan beralih ke pertahanan berlapis aktif terhadap wilayah AS dan infrastruktur penting.

Inti dari konsep Golden Dome adalah penciptaan medan pertempuran yang sepenuhnya terhubung dalam jaringan, di mana sensor, pencegat, dan sistem komando beroperasi sebagai satu jaringan terintegrasi.

Kemampuan yang ada seperti Radar Diskriminasi Jarak Jauh (LRDR), radar AN/TPY-2, Radar Peringatan Dini yang Ditingkatkan, dan Radar X-Band Berbasis Laut diharapkan akan dihubungkan dengan konstelasi inframerah dan pelacakan berbasis ruang angkasa generasi berikutnya.

Sistem-sistem ini secara kolektif akan menyediakan deteksi, pelacakan, dan diskriminasi berkelanjutan terhadap ancaman kompleks, termasuk senjata hipersonik yang sulit dideteksi dan kendaraan masuk kembali yang lincah.

Iron Dome Semakin Dicari

Sistem pertahanan udara Iron Dome, yang dikembangkan oleh Israel untuk menangkal serangan roket jarak pendek, semakin menarik perhatian global. Keberhasilan sistem ini dalam melindungi wilayah sipil dari ancaman udara telah membuat banyak negara mempertimbangkan, bahkan membeli teknologi ini sebagai bagian dari strategi pertahanan nasional mereka.

Sejumlah negara telah membeli teknologi serupa untuk pertahanan wilayahnya. Sejak Iron Dome sukses beroperasi pada 2011, sejumlah negara lain di Eropa dan Asia telah membeli atau mempertimbangkan pembelian komponen radar atau seluruh Iron Dome untuk melindungi wilayahnya.

Tingginya permintaan terhadap Iron Dome tak lepas dari situasi global yang penuh ancaman. Di sisi lain, Israel dianggap terbukti mampu menghadirkan teknologi keamanan mumpuni.

Negara Azerbaijan juga diketahui telah membeli sistem ini sejak 2016, menjadikannya negara pertama yang memiliki Iron Dome secara resmi di luar Israel. Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk menyeimbangkan kekuatan regional, terutama setelah tetangganya, Armenia, memperoleh rudal Iskander.

Singapura, meskipun tidak pernah mengonfirmasi secara terbuka, diduga kuat telah memiliki dan mengoperasikan sistem ini sejak pertengahan 2010-an. Negara ini dikenal sebagai salah satu pelanggan strategis pertahanan Israel dan telah berinvestasi dalam berbagai sistem pertahanan canggih.

Selain itu, Rumania menandatangani kesepakatan pada tahun 2018 untuk membeli Iron Dome dan memproduksi sebagian komponennya di dalam negeri melalui perusahaan Romaero. Siprus menyusul dengan pembelian sistem ini pada 2022 sebagai tanggapan atas meningkatnya ancaman drone dari kawasan sekitarnya.

Sementara itu, beberapa negara lain memilih untuk hanya membeli komponen utama dari sistem ini, seperti radar EL/M-2084. Negara seperti Republik Ceko, Slovakia, dan Hungaria telah mengakuisisi radar ini untuk memperkuat sistem pertahanan udara nasional mereka, meskipun belum membeli sistem Iron Dome secara penuh.

Di sisi lain, India dan Arab Saudi pernah menyatakan minat untuk mengadopsi Iron Dome. India bahkan menandatangani kesepakatan besar dengan Israel pada 2017, namun hingga kini masih lebih fokus pada pengembangan sistem pertahanan buatan dalam negeri. Arab Saudi mulai mempertimbangkan opsi ini setelah sistem pertahanan rudal AS ditarik dari wilayahnya pada 2021.

Dengan terus meningkatnya ancaman dari udara, baik berupa rudal balistik, roket, maupun drone, sistem seperti Iron Dome menjadi solusi strategis yang semakin diminati negara-negara di berbagai belahan dunia. Meskipun mahal dan kompleks, kemampuannya dalam memberikan perlindungan real-time menjadikannya salah satu sistem pertahanan paling relevan di era modern.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |