Raja Ojol Makin Ganas, Kiamat Driver Online Mendekat ke Indonesia

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Raja ride-hailing dunia, Uber, mengoperasikan layanan ojek online (ojol) dan taksi online di Indonesia, sebelum akhirnya 'menyerah' dan menjual seluruh bisnisnya di Asia Tenggara ke Grab pada 2018 silam. Sejak saat itu, Uber tampak fokus ke pasar-pasar intinya, seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa.

Namun, Uber tampaknya akan kembali mengekspansi bisnis di Asia, salah satunya ditandai dengan pembukaan operasional di Makau. Padahal, Uber sebelumnya sudah angkat kaki dari wilayah China sekitar 9 tahun lalu, dengan menyerahkan bisnisnya ke Didi Global.

Kembalinya Uber ke pasar Asia juga disertai dengan inovasi baru. Bukan cuma berperan sebagai ride-hailing konvensional, Uber juga dalam beberapa tahun terakhir gencar menggandeng mitra di sektor taksi otomatis tanpa sopir (robotaxi).

Industri robotaxi memang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Raksasa teknologi asal AS dan China berlomba-lomba mengimplementasikan robotaxi dan menggarap pasar yang lebih luas. Hal ini bisa berdampak pada pekerjaan sopir (driver) online, sebab robotaxi tak memerlukan driver untuk mengemudi kendaraan.

Memang, implementasi robotaxi sejauh ini masih terhambat dengan regulasi yang berbeda-beda di setiap negara. Uji coba masih terus dilakukan, termasuk layanan robotaxi dari Tesla milik Elon Musk. Namun, tak jarang juga perusahaan yang sudah menggelar robotaxi secara komersil, misalnya Waymo dan Didi.

Dikutip dari Reuters, Kamis (5/2/2026), Uber berencana untuk menambah ketersediaan layanan robotaxi di Hong Kong, Madrid, Houston, dan Zurich. Hong Kong akan menandai bisnis robotaxi pertama Uber di wilayah Asia. Sejauh ini Uber sudah menggelar robotaxi di 15 kota di dunia.

Belum jelas kapan ekspansi tahap berikutnya di pasar Asia akan digenjot, dan apakah Indonesia menjadi salah satu pasar yang disasar untuk implementasinya. Hingga kini, pemerintah belum menetapkan regulasi untuk mengatur teknologi transportasi baru ini.

Uber mengatakan akan menginvestasikan modal pada mitra kendaraan untuk mengamankan pasokan awal dan mempercepat penerapan robotaxi. Pasalnya, platform mereka memiliki keunggulan struktural, sambil bekerja sama dengan bank dan perusahaan ekuitas swasta untuk membiayai sebagian besar armada robotaxi.

Komitmen ini diungkap Uber saat labanya merosot gara-gara tekanan untuk layanan yang lebih murah di saat biaya pajak makin tinggi. Saham Uber dilaporkan anjlok 5%.

Prediksi laba kuartal pertama (Q1) 2026 Uber dipatok di bawah ekspektasi pasar. Target pada Q4 2025 juga melesat. Uber memperingatkan pajak yang lebih tinggi sekitar 22% hingga 25% pada 2026 karena operasionalnya yang sudah menjangkau lebih dari 70 negara.

Kendati demikian, jumlah perjalanan dengan Uber meningkat 22% di Q4 2025 karena konsumen cenderung memilih layanan transportasi online dengan biaya lebih murah.

Uber mengatakan robotaxi kemungkinan akan memperluas pasar mobilitas daripada menggantikan permintaan yang ada, karena robotaxi akan menambah pasokan, meningkatkan keandalan, dan menurunkan harga, sekaligus meningkatkan volume perjalanan.

CEO Dara Khosrowshashi mengatakan kendaraan yang beroperasi melalui platform Uber telah mencapai tingkat pemanfaatan yang lebih tinggi dan waktu penjemputan yang lebih singkat daripada layanan robotaxi mandiri. Hal ini mendukung pandangannya bahwa platform multi-produk yang besar dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih baik seiring dengan peningkatan penyebaran kendaraan otonom (AV).

"Kami percaya Uber akan mampu beroperasi di lingkungan pasar AV yang makin berkembang dan model ini akan terus berkembang baik dalam bisnis inti maupun arus kas bebas, meskipun kemungkinan akan ada perdebatan AV yang berkelanjutan," kata analis William Blair, Ralph Schackart.

Startup kendaraan otonom Waabi bulan lalu mengumpulkan dana sebesar US$1 miliar dan menjalin kerja sama dengan Uber untuk menyebarkan robotaxi. Khosrowshashi mengatakan 25.000 kendaraan penumpang pertama yang diproduksi startup tersebut akan secara eksklusif digunakan di platform Uber.

"Kami menginvestasikan modal kami untuk menjamin pasokan ke depan, dan sebagian besar pasokan tersebut akan menguntungkan secara ekonomi, yang sangat bagus, dan kami akan terus membuat komitmen semacam ini," kata Khosrowshashi.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |