Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terjadi pada awal masa jabatan kedua Presiden Donald Trump dinilai berpotensi mengubah peta kekuatan global. Analisis majalah kebijakan luar negeri Foreign Policy menyebut kebijakan militer Washington terhadap Iran dapat mempercepat penurunan pengaruh global Amerika.
Saat perang antara AS dan Israel melawan Iran memasuki minggu ketiga, para analis menilai dampak paling besar mungkin bukan hanya pada jalur pelayaran di Selat Hormuz atau fluktuasi harga minyak dunia. Dampak yang lebih penting adalah bagaimana konflik ini dapat membentuk ulang posisi Amerika Serikat dalam sistem internasional.
"Selama beberapa dekade, Washington telah berada di pusat tatanan global, yang berarti setiap pergeseran pengaruhnya akan memiliki konsekuensi yang jauh melampaui Amerika Serikat," tulis laman itu, dikutip Jumat (13/3/2026).
"Menurut analisis Foreign Policy pada hari Kamis, perubahan mendalam dalam sistem global mungkin sudah berlangsung," tulis laman Al-Mayadeen yang terkait Iran.
Selama beberapa dekade, Washington menjadi pusat tatanan global setelah berakhirnya Perang Dunia II. Karena itu, setiap perubahan pada pengaruh Amerika Serikat diperkirakan akan berdampak luas pada stabilitas geopolitik dunia.
Kebijakan Luar Negeri yang Lebih Unilateral
Sejak akhir Perang Dunia II, Amerika Serikat hampir tidak pernah berhenti melakukan operasi militer di luar negeri. Hal ini memperkuat peran Washington sebagai aktor utama dalam urusan keamanan global.
Namun memasuki abad ke-21, sebagian kalangan politik AS mulai mempertanyakan bagaimana negara tersebut seharusnya menggunakan kekuatan militernya. Dominasi ekonomi dan militer Amerika yang dulu sangat besar mulai menyempit, sementara negara lain memperkuat posisinya.
Kondisi ini mendorong sebagian pembuat kebijakan untuk lebih selektif dalam menggunakan kekuatan militer.
Kekuatan Ekonomi Dunia Mulai Bergeser
Laporan tersebut menyebut bahwa bahkan tanpa Trump, pengaruh ekonomi AS secara relatif diperkirakan akan menurun dalam jangka panjang. Hal ini dipicu oleh kebangkitan ekonomi negara-negara seperti China dan India, serta meningkatnya peran negara berkembang lain yang disebut sebagai "middle powers".
Negara yang saat ini belum dianggap sebagai kekuatan utama, bahkan diperkirakan dapat menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia pada akhir abad ini. Laman itu menyebut Nigeria sebagai salah satunya.
Analogi "Bintang Sebelum Runtuh"
Analisis tersebut juga menggunakan analogi dari ilmu astronomi. Dalam Astronomi, sebuah bintang sering mencapai ukuran terbesar tepat sebelum memasuki fase runtuh.
Kebijakan luar negeri Trump yang agresif dan konfrontatif dinilai bisa mencerminkan kondisi serupa. Bukan kebangkitan kekuatan Amerika, tetapi justru tanda adanya "overreach" atau penggunaan kekuatan yang berlebihan.
Para pengkritik juga menilai sistem aliansi Amerika-yang selama ini menjadi pilar utama pengaruh global Washington-mulai mengalami tekanan. Beberapa sekutu di Eropa dan Asia disebut mungkin akan mencari kemitraan alternatif atau mengambil jalur strategis yang lebih independen.
Risiko Perang Berkepanjangan
Penggunaan kekuatan militer yang semakin besar juga dinilai membawa risiko besar bagi AS. Pengalaman perang di Irak dan Afghanistan sebelumnya menunjukkan biaya finansial dan strategis yang sangat besar dari konflik berkepanjangan.
Analis memperingatkan bahwa perang dengan Iran berpotensi mengulang pola yang sama jika tidak ada jalan keluar diplomatik yang jelas. Dengan konflik yang terus berlanjut di kawasan Asia Barat dan meningkatnya ketegangan dengan Israel, perang tersebut berisiko menjadi beban jangka panjang bagi sumber daya dan fokus strategis Amerika Serikat.
(sef/sef)
Addsource on Google


















































