Polisi: Sejumlah Airsoft Gun di Sekolah Jaksel dalam Kondisi Rusak-Tak Utuh

5 hours ago 3

Jakarta -

Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri mengecek senjata yang ditemukan di sekolah swasta di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan (Jaksel). Polisi menyebut airsoft gun yang ditemukan sudah dalam kondisi rusak.

"Senjata airsoft gun itu sudah kondisinya menurut Puslabfor sudah rusak, sudah tidak utuh," kata Kanit Krimum Polres Metro Jakarta Selatan, Ipda Alpino De Tech, kepada wartawan, Selasa (11/8/2026).

Puslabfor Polri menerjunkan dua tim saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), yakni tim pengecek DNA dan pemeriksa senjata. Pengecekan DNA dilakukan untuk mengecek siapa saja yang masuk ke tiga ruangan tempat ditemukannya senjata.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Polisi menyebut senjata-senjata itu ditemukan di tiga lokasi, yaitu di ruangan mantan ketua yayasan, ruangan sekretaris, serta ruangan sarana dan prasarana. Polisi menyita total 30 senjata dari lokasi.

"Hasil temuannya masih sama, ada airsoft gun, ada juga amunisi, ada juga magasin airsoft gun, dan sparepart dari senjata, contohnya sasaran tembak dan gagang senjata. Itu aja. Totalnya ada 30 item yang telah ditemukan Puslabfor yang berkaitan dengan senjata, senjata angin, amunisi, dan sparepart-nya," jelasnya.

Saat ini police line atau garis polisi di lokasi sudah dilepas. Pihak kepolisian masih melakukan serangkaian pendalaman terkait temuan tersebut.

Sebagai informasi, 996 pucuk senjata tersebut ditemukan pada 10-11 Juli 2026 dan kembali ditemukan pada Rabu (5/8) malam. Pihak kepolisian merinci, 995 pucuk senjata yang ditemukan merupakan senapan angin, sementara satu pucuk lainnya merupakan senjata api jenis Franchi SPA, SPAS-15 kaliber 12 GA milik pria DS yang merupakan direktur di PT Lokta Karya Perbakin.

"Perlu kita luruskan bersama, penemuan barang yang diduga berupa senjata. Ada 996 yang ditemukan, 995 merupakan senjata angin," tutur Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto kepada wartawan di Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (8/8).

Konflik Kepengurusan Yayasan Kubu IWD dan Kubu N

Alhadid selaku kuasa dari eks ketua yayasan IWD menyebut pihak yayasan kubu N ini sebetulnya sudah tahu soal adanya senjata yang disimpan di gudang itu. Ia merasa heran pihak yayasan sekolah seakan-akan tidak mengetahui asal-usul senjata tersebut.

"Saya juga tidak tahu tiba-tiba 'meledak', mereka seakan-akan baru tahu. Mereka tahu juga sudah ada izinnya," ungkap Alhadid.

Alhadid menduga persoalan ini mencuat karena ada konflik di internal kepengurusan yayasan sekolah. Konflik itu terjadi sejak pembina yayasan yang sebelumnya diberhentikan secara sepihak.

"Ternyata saya ulik ada konflik di yayasan itu. Ini mengenai pembina Bu N sudah menjadi pembina sudah menduduki fisik dari April 2026. Jadi 5 bulan itu menduduki di sana, sebelum dia menduduki itu dia memberhentikan pembina lain," jelasnya.

Sementara itu, pihak yayasan mengakui soal adanya konflik kepengurusan tersebut. Konflik ini pula yang menjadi pintu masuk temuan senjata tersebut.

"Iya, karena tanpa ada sengketa itu kami nggak bisa masuk. Justru karena sengketa itu, kami kemudian memberhentikan dia ketua," kata Kuasa hukum pihak sekolah, Hermawanto kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/8).

Setelah IWD diberhentikan, kata Hermawanto, pihaknya mendapatkan akses untuk membuka ruangannya. Saat dibuka, ditemukan ratusan senjata berbagai jenis. Pihaknya juga menemukan narkotika hingga 30 compact disk (CD) porno.

"Lalu kemudian kami punya akses untuk masuk ke dalam ruangan, ruangan sekolah kan? Akhirnya kami coba buka-buka, nggak tahunya ketika kami buka ruangan itu menjadi... kita temukan barang terlarang. Seandainya tidak ada sengketa, mungkin senjata itu masih ada di sini," jelasnya.

(wnv/mea)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |