Susi Setiawati, CNBC Indonesia
13 January 2026 08:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten yang terafiliasi dengan konglomerat Prajogo Pangestu (PP) kompak ambles pada perdagangan Senin kemarin (12/1/2026). Hal tersebut menjadi salah satu penyebab utama IHSG jeblok 2% secara intraday.
Seperti diketahui, IHSG mendadak ambruk dalam 15 menit pada perdagangan intraday kemarin , Senin (12/1/2025).
Pada rentang pukul 14.20-14.35 WIB, IHSG tiba-tiba turun hingga lebih dari 2%. Indeks sempat berada di level terendah atau 8.715,41 atau anjlok 2,48%.
Tekanan jual terlihat merata di PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Petrosea Tbk (PTRO), hingga PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA). Berikut pergerakannya kemarin :
Lima dari enam saham PP masuk deretan 10 saham teratas yang paling membebani IHSG sepanjang perdagangan kemarin. Saham BREN menyeret indeks turun paling dalam hingga 19,79 poin, disusul BRPT sebesar 13,29 poin. Secara berurutan, TPIA, PTRO, dan CUAN juga ikut menggerus IHSG masing-masing di kisaran empat poin. Jika ditotal, tekanan dari saham-saham Grup PP saja sudah memangkas IHSG hampir 47 poin.
Padahal, IHSG kemarin turun 0,58% yang setara 52,03 poin menuju posisi 8.884,72. Artinya, disini saham PP menyumbang mayoritas penurunan IHSG sampai 90%. Semakin menjadi bukti nyata kalau saham dari grup PP itu adalah penopang IHSG selama ini, tetapi kalau posisi sekarang itu koreksi, mereka juga yang jadi beban.
Dari sisi sentimen, pelemahan saham-saham Grup Prajogo Pangestu dinilai bukan semata dipicu aksi ambil untung jangka pendek, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika cerita di sektor energi dan migas yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.
Sebelumnya, Grup Prajogo Pangestu melalui TPIA telah menuntaskan ekspansi strategis dengan mengakuisisi kilang Shell di Singapura bersama Glencore. Aset tersebut merupakan fasilitas terintegrasi yang difokuskan untuk mendukung bisnis petrokimia, terutama dalam penyediaan bahan baku seperti naphtha dan aromatics, sekaligus memperkuat integrasi rantai pasok industri dan posisi regional perusahaan.
Seiring waktu, perhatian pasar kembali tertuju pada sektor energi domestik setelah Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan kilang minyak terbesar milik Pertamina dan menegaskan arah penguatan kemandirian energi nasional, termasuk peningkatan kapasitas pengolahan dalam negeri hingga Indonesia mulai mencatatkan surplus BBM dan solar.
Narasi kebijakan ini menjadi konteks baru yang ikut membentuk persepsi investor terhadap sektor energi secara keseluruhan. Meski kedua peristiwa tersebut memiliki fokus yang berbeda, pasar masih menyesuaikan ekspektasinya.
Ekspansi kilang TPIA lebih berorientasi pada kebutuhan industri petrokimia, sementara penguatan kilang Pertamina diarahkan untuk ketahanan energi dan BBM konsumsi domestik. Sebenarnya, tidak adanya perubahan fundamental yang material pada bisnis emiten-emiten Grup PP membuat tekanan yang muncul lebih bersifat sentimen jangka pendek.
Alhasil, tekanan jual yang terkonsentrasi pada saham-saham berbobot besar memicu volatilitas tinggi dan menyeret IHSG sempat terkoreksi hingga 2% secara intraday.
Namun, tanpa katalis fundamental negatif yang signifikan, IHSG akhirnya berhasil rebound cepat dan koreksi menyusut jadi sekitar 0,5% di akhir sehari. Pergerakan IHSG yang volatil kemarin lebih mencerminkan dinamika sentimen dan rotasi portofolio jangka pendek, atau yang kerap disebut sebagai intraday flush, ketimbang perubahan arah pasar secara struktural.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)


















































