Perang Memanas: Ini Peta Kekuatan Militer Iran, Irak, Arab Saudi-Mesir

2 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

30 July 2026 19:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) semakin meluas hingga menjangkau Mesir. Sebuah drone menghantam kapal penyimpanan gas Energos Winter di Pelabuhan Damietta pada Rabu (29/7/2026) dan memicu kebakaran yang merembet ke kapal GasLog Salem.

Eskalasi turut melibatkan Irak dan Arab Saudi. Saudi dua kali mencegat drone yang diarahkan ke fasilitas minyaknya pada Senin (27/7/2026) dan Selasa (28/7/2026). Riyadh menyebut drone tersebut diluncurkan kelompok pro-Iran dari Irak.

AS dan Saudi kemudian menyerang basis kelompok pro-Iran di Irak pada Rabu (29/7/2026). Sehari kemudian, AS pun kembali menggempur puluhan fasilitas militer milik Iran.

Meluasnya konflik membuat kekuatan militer Iran, Irak, Arab Saudi, dan Mesir menarik untuk dibandingkan. Lantas, negara mana yang paling kuat?

Iran Menjadi yang Terkuat

Global Firepower 2026 menempatkan Iran sebagai negara dengan kekuatan militer terbesar di antara keempat negara tersebut.

Iran menempati peringkat ke-16 dari 145 negara dengan skor PowerIndex sebesar 0,3199. Mesir berada tidak jauh di bawahnya pada peringkat ke-19 dengan skor 0,3651.

Arab Saudi menduduki posisi ke-25 dunia dengan skor 0,4473, sedangkan Irak berada pada peringkat ke-44 dengan skor 0,8115.

Dalam perhitungan Global Firepower, skor yang semakin mendekati nol menunjukkan kekuatan militer yang semakin besar. Penilaiannya tidak hanya menghitung jumlah senjata, tetapi juga personel, anggaran, sumber daya alam, logistik, dan kondisi geografis.

Peringkat tersebut menunjukkan Iran memiliki kekuatan paling merata. Namun, setiap negara sebenarnya mempunyai keunggulan yang berbeda.

Iran mempunyai sekitar 610.000 tentara aktif. Jumlah ini menjadi yang terbesar di antara empat negara tersebut.

Mesir berada di urutan kedua dengan sekitar 438.500 tentara aktif, disusul Arab Saudi sebanyak 247.000 orang dan Irak sekitar 193.000 orang.

Kekuatan Iran semakin besar jika pasukan cadangan dan paramiliter turut dihitung. Global Firepower memperkirakan jumlah keseluruhan personel militer Iran mencapai sekitar 1,18 juta orang.

Mesir justru memiliki jumlah personel militer keseluruhan yang sedikit lebih besar, yakni sekitar 1,22 juta orang. Angka tersebut mencakup 438.500 personel aktif, 479.000 tentara cadangan, dan 300.000 anggota paramiliter.

Irak memiliki sekitar 100.000 personel paramiliter di luar tentara aktif. Keberadaan kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan kekuatan politik dan negara lain membuat struktur keamanan Irak jauh lebih rumit.

Saudi Unggul Telak dari Sisi Anggaran

Keunggulan Arab Saudi terlihat paling jelas dari sisi anggaran pertahanan.

Global Firepower mencatat anggaran pertahanan Saudi mencapai US$63,99 miliar. Nilainya hampir tujuh kali lipat anggaran Iran yang sebesar US$9,23 miliar.

Anggaran militer Irak tercatat sebesar US$8 miliar, sedangkan Mesir hanya sekitar US$5,19 miliar.

Besarnya anggaran memungkinkan Arab Saudi membeli pesawat, rudal, radar, serta sistem pertahanan udara berteknologi tinggi dari AS dan Eropa. Namun, anggaran besar tidak otomatis menghasilkan personel, tank, artileri, atau kapal dalam jumlah lebih banyak.

Saudi hanya memiliki 247.000 tentara aktif, jauh di bawah Iran dan Mesir. Jumlah tank Saudi juga menjadi yang paling sedikit di antara keempat negara, yakni sekitar 1.085 unit.

Iran Mengandalkan Rudal dan Drone Murah

Kekuatan utama Iran tidak sepenuhnya terlihat dalam perhitungan Global Firepower. Salah satu penyebabnya adalah inventaris drone tidak dimasukkan dalam jumlah armada pesawat GFP.

Padahal, Iran merupakan salah satu produsen drone militer terbesar di dunia. Senjata yang paling dikenal adalah keluarga drone Shahed.

Shahed-136 merupakan drone serang satu arah yang membawa bahan peledak menuju sasaran. Bentuknya menyerupai sayap delta dan dapat diterbangkan pada ketinggian rendah untuk menyulitkan radar.

Keunggulan terbesarnya berada pada biaya. Reuters memperkirakan sebuah drone Shahed berharga sekitar US$20.000-US$50.000. Biayanya jauh lebih murah dibandingkan rudal pertahanan udara yang digunakan untuk menembak jatuhnya.

Iran dapat meluncurkan drone tersebut dalam jumlah besar bersama rudal atau drone pengecoh. Tujuannya membuat radar mendeteksi banyak sasaran sekaligus dan memaksa lawan menghabiskan persediaan rudal pencegat.

In this photo released on Wednesday, Jan. 6, 2021 by the Iranian army, a drone is launched during a military exercise in undisclosed location in Iran. On Tuesday, the Iranian military began a wide-ranging, two-day aerial drill in the country's north, state media reported, featuring combat and surveillance unmanned aircraft, as well as naval drones dispatched from vessels in Iran's southern waters. (Iranian Army via AP)In this photo released on Wednesday, Jan. 6, 2021 by the Iranian army, a drone is launched during a military exercise in undisclosed location in Iran. On Tuesday, the Iranian military began a wide-ranging, two-day aerial drill in the country's north, state media reported, featuring combat and surveillance unmanned aircraft, as well as naval drones dispatched from vessels in Iran's southern waters. (Iranian Army via AP) Foto: AP/

Selain drone, Iran disebut memiliki persediaan rudal balistik terbesar di Timur Tengah. Salah satu senjata yang paling banyak diperbincangkan adalah Fattah.

Iran memperkenalkan Fattah pada 2023 sebagai rudal hipersonik pertamanya. Teheran mengklaim rudal tersebut memiliki jangkauan sekitar 1.400 kilometer dan mampu melaju hingga 13-15 kali kecepatan suara.

Kecepatannya dan kemampuan hulu ledak untuk bermanuver diklaim membuat Fattah lebih sulit diprediksi oleh sistem pertahanan udara. Namun, kemampuan tersebut merupakan klaim pemerintah Iran dan belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.

Saudi Ditopang Senjata Canggih AS

Arab Saudi memiliki kekuatan udara paling mahal dan modern di antara keempat negara.

Global Firepower mencatat Saudi mempunyai 283 pesawat tempur, lebih banyak dibandingkan Mesir sebanyak 242 unit, Iran 188 unit, dan Irak 26 unit.

Tulang punggung angkatan udara Saudi adalah keluarga F-15 buatan Boeing. Armada ini mencakup F-15C, F-15D, F-15S, dan F-15SA.

Saudi juga mengoperasikan Eurofighter Typhoon dan Tornado buatan Eropa.

Untuk pesawat buatan AS lainnya, Riyadh memiliki helikopter AH-64 Apache dan UH-60 Black Hawk, pesawat pengintai E-3 AWACS, serta pesawat pengisi bahan bakar di udara.

Keberadaan pesawat pengintai dan tanker membuat Saudi mampu mendeteksi ancaman dari jarak jauh sekaligus memperpanjang jangkauan operasi pesawat tempurnya.

Pada sisi pertahanan udara, Saudi juga mengandalkan sistem Patriot buatan AS. Sistem ini digunakan untuk menghadapi pesawat, rudal jelajah, dan rudal balistik yang menuju sasaran penting.

Tank dan Kapal Menjadi Kekuatan Mesir

Mesir menjadi negara dengan kekuatan militer konvensional paling besar dalam sejumlah kategori.

Negara tersebut mempunyai sekitar 3.620 tank, mengalahkan Iran dengan 2.675 unit, Irak 1.188 unit, dan Saudi 1.085 unit.

Mesir juga memiliki 1.056 artileri swagerak dan 100 helikopter serang. Kedua jumlah tersebut menjadi yang terbesar di antara keempat negara.

Di kekuatan udara, Mesir tercatat mempunyai 1.088 pesawat dari berbagai jenis.

F-16 Fighting Falcon menjadi tulang punggung angkatan udara Mesir.

Mesir kemudian memperkuat armadanya dengan Rafale buatan Prancis. Kairo membeli 24 Rafale pada 2015 dan memesan tambahan 30 unit pada 2021 sehingga keseluruhan pesanan mencapai 54 pesawat.

Rafale dapat digunakan untuk pertempuran udara, serangan jarak jauh, pengintaian, serta operasi terhadap kapal.

Kekuatan Mesir juga terlihat di laut. Negara tersebut memiliki sekitar 149 kapal dan aset angkatan laut, lebih banyak dibandingkan Iran sebanyak 109, Irak 67, dan Saudi 32.

Armada Mesir mencakup 13 fregat, tujuh korvet, delapan kapal selam, serta 61 kapal patroli. Mesir juga memiliki dua kapal pengangkut helikopter kelas Mistral.

Kekuatan laut itu penting karena Mesir menguasai Terusan Suez, jalur yang menghubungkan Laut Tengah dengan Laut Merah dan menjadi salah satu rute perdagangan serta energi paling penting di dunia.

Irak Masih Tertinggal

Irak menjadi negara dengan peringkat militer paling rendah di antara keempat negara.

Global Firepower 2026 hanya mencatat 26 pesawat tempur dalam inventaris Irak. Selain itu, Irak juga tercatat memiliki 1.188 tank, 37.496 kendaraan militer, 434 artileri, serta 572 peluncur roket.

Irak juga mempunyai 39 helikopter serang, lebih banyak dibandingkan Iran dan Saudi.

Dari 67 aset laut yang dimiliki Irak, sebanyak 55 merupakan kapal patroli. Negara tersebut tidak memiliki kapal selam maupun fregat dan hanya tercatat mempunyai satu korvet.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |