- Pasar keuangan Tanah Air bergerak beragam pada Jumat pekan lalu, IHSG dan rupiah melemah sementara imbal hasil obligasi stabil
- Bursa saham Amerika, Wall Street, ambruk pekan lalu di tengah kekhawatiran sikap plin pan Trump
- Rilis Inflasi Indonesia hingga data ketenagakerjaan AS akan menjadi penggerak pasar hari ini hingga satu pekan ke depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air di tutup beragam pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (27/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga nilai tukar rupiah melemah, sedangkan yield obligasi bergerak stabil.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2026) dan sepanjang pekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini hingga sepekan ke depan dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pada penutupan perdagangan Jumat akhir pekan lalu, IHSG berakhir di posisi 7.097,06. Dalam sehari IHSG melemah 0,94%.
Pada perdagangan Jumat, terdapat 396 saham turun, 292 naik, dan 270 tidak bergerak. Nilai transaksi pun cukup lesu dengan total sebesar Rp11,64 triliun dengan melibatkan 18,83 miliar saham dalam 1,38 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp12.516 triliun.
Meski IHSG, investor asing pun tercatat melakukan aksi jual di seluruh pasar, dengan net outflow sebesar Rp1,76 triliun.
Secara pergerakan emiten, investor banyak berkutat dengan menjual saham Bank Central Asia (BBCA). Saham emiten grup Djarum tersebut mencatat total transaksi jual dan beli terbesar, yakni Rp 4,14 triliun atau nyaris 36% dari total transaksi perdagangan.
Seiring dengan aksi jual tersebut, saham BBCA turun 2,55% ke level 6.700. Hal ini diikuti pula dengan aksi jual investor asing yang membukukan net sell Rp 609 miliar di saham BBCA. Mengutip Refinitiv, BBCA menjadi beban utama IHSG dengan bobot -16,58 indeks poin.
Selain BBCA, sejumlah saham big cap lain juga menjadi beban utama IHSG. Telkom (TLKM) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyeret IHSG sebesar -12,62 indeks poin dan -11 indeks poin.
Beralih ke pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu rupiah mesti ditutup melemah meskipun secara kumulatif sepekan masih menguat.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,38% ke level Rp16.960/US$. Pergerakan ini berbalik dari perdagangan sebelumnya, Kamis (26/3/2026), saat rupiah masih mampu ditutup menguat tipis 0,06% di level Rp16.895/US$.
Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pagi hari, rupiah dibuka melemah 0,09% ke posisi Rp16.910/US$.
Meskipun, secara kumulatif sepekan lalu rupiah mampu menguat tipis sebesar 0,09%.
Pergerakan rupiah pada Jumat pekan lalu dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, terutama dari eksternal.
Dari pasar global, dolar AS kembali menguat setelah harapan meredanya konflik di Timur Tengah mulai memudar. Pelaku pasar menilai peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran masih kecil, sehingga kekhawatiran terhadap perang yang lebih panjang kembali meningkat. Kondisi ini membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset aman.
Kekhawatiran pasar juga bertambah karena Selat Hormuz masih berisiko terganggu. Jika jalur ini tetap terhambat, pasokan energi global bisa semakin tertekan dan memicu lonjakan harga minyak. Risiko tersebut pada akhirnya meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan ikut menopang penguatan dolar AS.
Beralih ke pasar obligasi, yield untuk surat utang acuan RI dengan tenor 10 tahun terpantau stabil di posisi 6,848% pada penutupan perdagangan Jumat lalu.
Yield yang stabil artinya tekanan jual dan beli masih berimbang. Perlu dipahami juga, bahwa gerak yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah. Kalau yield naik, maka harga turun, begitupun sebaliknya.
Addsource on Google


















































