Perang Makin Parah, Orang Kaya Ramai-Ramai Tarik Uang dari Dubai

7 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan rudal dan pesawat tak berawak Iran ke Dubai baru-baru ini telah memicu kepanikan luar biasa di kalangan investor kelas kakap. Sejumlah pengusaha dan orang kaya asal Asia kini mulai mengambil langkah drastis dengan menarik aset mereka keluar dari Uni Emirat Arab (UEA) untuk dipindahkan ke pusat keuangan yang dianggap lebih aman seperti Singapura dan Hong Kong.

Ketegangan ini bermula saat dua pengusaha asal India yang berbasis di Dubai mencoba memindahkan dana masing-masing lebih dari US$100.000 (Rp1,69 miliar) dari rekening bank lokal mereka ke Singapura segera setelah serangan terjadi. Upaya tersebut awalnya sempat terhambat oleh gangguan teknis pasca-serangan, namun salah satu dari mereka akhirnya berhasil mengalihkan dananya melalui bank lain yang berbasis di Emirat.

"Salah satu dari mereka mengatakan dia berhasil mentransfer jumlah tersebut ke rekening bank Singapura miliknya melalui bank lain yang berbasis di Emirat," tulis laporan tersebut sebagaimana dikutip Reuters, Senin (16/3/2026).

Fenomena ini bukan kasus tunggal, karena puluhan orang kaya Asia lainnya dilaporkan tengah melakukan penyelidikan serupa untuk memindahkan aset mereka. Pengacara kekayaan pribadi yang berbasis di Singapura, Ryan Lin, mengungkapkan bahwa sekitar enam atau tujuh dari 20 kliennya yang berbasis di Dubai telah menghubunginya pekan ini, di mana tiga di antaranya berencana melakukan transfer aset segera.

"Satu klien sedang memeriksa seberapa cepat mereka dapat mentransfer semuanya ke Singapura," ujar Lin.

Ketakutan akan perang yang berkepanjangan antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah merusak citra Dubai yang selama ini dikenal sebagai tempat perlindungan aman (safe haven) bagi modal asing. Iris Xu, prinsipal di penyedia layanan dana global Anderson Global, mencatat adanya lonjakan permintaan dari 10 hingga 20 family office yang ingin memindahkan aset kembali ke Singapura dari Timur Tengah.

"Dubai selalu tentang manfaat pajak, tetapi sekarang saya rasa manfaat pajak mungkin bukan prioritas utama bagi mereka," kata Xu.

Sentimen negatif ini juga dirasakan oleh para penasihat manajemen kekayaan di Singapura yang menangani klien-klien dari UEA. Salah satu penasihat yang enggan disebutkan identitasnya menyatakan bahwa lebih dari separuh dari 13 klien yang ia hubungi sangat serius untuk memindahkan aset mereka demi menghindari risiko operasional akibat konflik.

"Terbang bolak-balik akan menjadi tantangan bahkan jika konflik berakhir besok. Ini adalah masalah kepercayaan," ungkap penasihat tersebut.

Grace Tang, CEO Phillip Private Equity, juga mengonfirmasi bahwa klien-kliennya yang didominasi warga Asia merasa gelisah. Sekitar 10 hingga 20 klien telah bertanya tentang pemindahan kekayaan ke Singapura demi menjaga keamanan modal mereka di tengah situasi geopolitik yang memanas.

"Klien kami merasa gelisah, dengan 10 hingga 20 orang bertanya tentang pemindahan kekayaan mereka ke Singapura dan berupaya melestarikan modal mereka," tutur Tang.

Meskipun terjadi tren penarikan dana, beberapa pihak di industri keuangan Dubai masih menunjukkan optimisme. CEO WRISE Private Middle East, Dhruba Jyoti Sengupta, mengklaim bahwa pihaknya belum melihat diskusi penarikan modal yang serius karena klien masih percaya pada ketahanan jangka panjang UEA.

"Mereka adalah investor global yang canggih, sudah terdiversifikasi secara internasional, namun berinvestasi secara mendalam dalam kisah pertumbuhan UEA. Terlepas dari gejolak geopolitik yang lebih luas di kawasan ini, klien merasa aman dan terjamin," jelas Sengupta.

Pemerintah Uni Emirat Arab pun berusaha meredam kekhawatiran pasar. Gubernur Bank Sentral UEA, Khaled Mohamed Balama, menegaskan bahwa sektor perbankan dan keuangan negara tersebut tetap tangguh, kuat, dan stabil dalam menghadapi perkembangan regional yang ada.

"Sektor perbankan dan keuangan UEA tetap tangguh, kuat, stabil, dan berada pada posisi yang baik untuk menavigasi perkembangan regional. Bank, lembaga keuangan, dan perusahaan asuransi beroperasi secara normal dan tanpa gangguan," tegas Balama.

Senada dengan itu, beberapa manajer kekayaan besar seperti Bank of Singapore dan DBS Group menyatakan bahwa sebagian besar klien masih dalam posisi memantau perkembangan situasi (wait and watch). Jeremy Lim, co-founder GrandWay Family Office, bahkan tetap melanjutkan rencana pembukaan kantor di Abu Dhabi selama UEA tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut.

"Pemutus kesepakatan yang nyata bagi bisnis adalah jika UEA menjadi terlibat langsung bersama salah satu pihak dalam konflik," pungkas Lim.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |