Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali menanjak pada perdagangan Kamis pagi (5/3/2026) seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan energi global, terutama setelah jalur pelayaran strategis di kawasan Teluk mengalami hambatan.
Berdasarkan Refinitiv per pukul 10.00 WIB, harga minyak mentah Brent tercatat di US$83,49 per barel, melonjak dari posisi sehari sebelumnya di US$81,40 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga menguat ke US$76,93 per barel, naik dari US$74,66 per barel pada perdagangan Rabu.
Kenaikan harga ini memperpanjang reli minyak dalam beberapa hari terakhir. Jika melihat pergerakan sejak akhir Februari, Brent telah melonjak tajam dari US$72,48 per barel pada 27 Februari menjadi di atas US$83 per barel saat ini. Dalam periode yang sama, WTI juga melesat dari US$67,02 ke hampir US$77 per barel, mencerminkan lonjakan lebih dari 15% hanya dalam waktu sekitar sepekan.
Lonjakan tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk Persia. Konflik AS-Iran dilaporkan semakin meluas setelah serangan militer AS terhadap kapal perang Iran di dekat Sri Lanka. Situasi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat mempengaruhi produksi maupun distribusi minyak di kawasan tersebut.
Selain konflik militer, jalur pengiriman energi global juga mengalami tekanan. Selat Hormuz-yang menjadi jalur penting bagi hampir seperlima konsumsi energi dunia-dilaporkan mengalami gangguan selama beberapa hari terakhir akibat meningkatnya risiko keamanan di wilayah tersebut. Sejumlah kapal tanker bahkan tertahan di kawasan Teluk karena aktivitas pelayaran yang terganggu.
Gangguan logistik juga terjadi di sisi produksi. Irak, produsen minyak terbesar kedua di dalam OPEC, dilaporkan memangkas produksi hingga sekitar 1,5 juta barel per hari karena keterbatasan fasilitas penyimpanan dan terhambatnya jalur ekspor. Kondisi ini semakin mempersempit pasokan minyak global di tengah permintaan yang masih relatif stabil.
Di sisi lain, pasar energi juga dihadapkan pada gangguan di sektor gas alam. Qatar sebagai salah satu eksportir LNG terbesar dunia dilaporkan menghentikan sebagian pengiriman gas setelah kondisi force majeure diberlakukan. Normalisasi produksi diperkirakan membutuhkan waktu setidaknya satu bulan, menambah tekanan terhadap pasar energi global.
Meski demikian, sebagian analis menilai gangguan produksi minyak di kawasan Teluk berpotensi bersifat sementara. Sejumlah ladang minyak diperkirakan dapat kembali beroperasi dalam hitungan hari, sementara pemulihan kapasitas produksi penuh biasanya membutuhkan waktu dua hingga tiga pekan setelah situasi logistik kembali normal. Namun selama ketegangan geopolitik masih berlangsung, volatilitas harga energi global diperkirakan akan tetap tinggi.
CNBC Indonesia
(emb/emb)
Addsource on Google

















































