Perang AS-Israel VS Iran Makan Korban, Harga BBM Meledak di 95 Negara

6 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga bahan bakar minyak (BBM) global melonjak tajam setelah pecahnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran sejak 28 Februari 2026. Setidaknya 95 negara melaporkan kenaikan harga bensin, memicu tekanan luas pada ekonomi global.

Data dari Global Petrol Prices, yang dikutip Kamis (19/3/2026), menunjukkan lonjakan harga terjadi di berbagai kawasan. Sejumlah negara mencatat kenaikan signifikan hanya dalam hitungan pekan sejak konflik dimulai.

Di AS harga bensin rata-rata naik dari US$2,94 per galon pada Februari menjadi US$3,58 per galon. Dengan kurs sekitar Rp16.300 per dolar AS, harga tersebut setara Rp47.922 menjadi Rp58.354 per galon, atau melonjak sekitar 20%.

Kenaikan lebih tajam terjadi di sejumlah negara berkembang dan tetangga RI. Kamboja mencatat lonjakan tertinggi hingga sekitar 68%, dari US$1,11 (Rp18.093) per liter menjadi US$1,32 (Rp21.516) sementara Vietnam menyusul dengan kenaikan sekitar 50%, diikuti Nigeria 35%, Laos 33%, dan Kanada 28%.

Lonjakan harga ini tak lepas dari terganggunya jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia yang kini terdampak konflik. Kawasan Asia menjadi salah satu yang paling terpukul karena ketergantungan tinggi terhadap impor energi dari Timur Tengah.

Jepang dan Korea Selatan (Korsel) termasuk negara paling rentan, masing-masing mengimpor sekitar 95% dan 70% kebutuhan minyaknya dari kawasan Teluk. Kedua negara telah mengambil langkah darurat, termasuk menyiapkan cadangan strategis dan menetapkan batas harga BBM.

Di Asia Selatan, dampaknya bahkan lebih berat. Bangladesh menutup seluruh universitas untuk menghemat energi, sementara Pakistan menerapkan sistem kerja empat hari dan kebijakan kerja dari rumah hingga 50% untuk menekan konsumsi bahan bakar.

Kenaikan harga minyak juga berdampak langsung pada harga pangan global. Biaya energi memengaruhi seluruh rantai pasok, mulai dari produksi pupuk hingga distribusi makanan.

Ekonom David McWilliams menilai sektor transportasi menjadi faktor kunci dalam lonjakan harga energi dan dampaknya ke ekonomi global. Menurutnya, pergerakan barang dan distribusi logistik sangat bergantung pada energi, sehingga setiap kenaikan harga minyak langsung merambat ke berbagai sektor.

"Napas kehidupan ekonomi global adalah transportasi. Ini tentang mengangkut barang dari A ke B. Ini masalah logistik dan rantai pasokan, dan pada akhirnya transportasi adalah energi ekonomi global," ujarnya kepada Al Jazeera.

Lonjakan harga energi ini turut memicu kekhawatiran stagflasi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang melambat. Sejarah menunjukkan krisis minyak besar seperti pada 1973, 1978, dan 2008 kerap diikuti perlambatan ekonomi global.

Selain sebagai bahan bakar, minyak dan gas juga menjadi bahan baku berbagai produk sehari-hari, mulai dari plastik, tekstil sintetis, hingga kosmetik dan produk rumah tangga. Gas alam juga berperan penting dalam produksi pupuk yang menopang ketahanan pangan dunia.

Dengan tekanan yang terus meningkat, banyak negara kini bersiap menghadapi dampak lanjutan, termasuk potensi lonjakan harga lanjutan pada April seiring penyesuaian harga energi di berbagai pasar global.

(tfa/sef)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |