Penggal Kepala Ular Babak II: Benarkah MBS Desak Trump Bombardir Iran?

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) disebut-sebut mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump agar tidak segera menghentikan serangannya terhadap Iran. Aksi AS-Israel menggempur Iran disebut sebagai kesempatan bersejarah untuk membentuk kembali Timur Tengah.

Demikian pemberitaan The New York Times mengutip sumber yang mengetahui percakapan kedua pihak. Dikatakan, MBS mendorong Trump agar menghancurkan pemerintahan garis keras Iran.

Sumber itu menyebut, MBS menyatakan Iran sebagai ancaman jangka panjang bagi negara-negara Teluk. Dan hanya dapat dihilangkan dengan menyingkirkan pemerintahannya.

Benarkah demikian?

The Guardian melansir sumber intelijen yang menyebut Riyadh tidak hanya menyerukan agar serangan terus dilanjutkan, tapi juga agar ditingkatkan.

Sementara Trump disebut mengonfirmasi laporan mengenai MBS tersebut. "Ya, dia seorang pejuang Dia berjuang bersama kita," demikian The Guardian mengutip pernyataan Trump.

Di sisi lain ditambahkan, belum ada laporan yang mengonfirmasi keterlibatan Arab Saudi secara aktif di perang AS-Israel terhadap Iran, yang sudah berlangsung selama sebulan terakhir.

Pakar Pertahanan Hesham Alghannam mengatakan, Arab Saudi sebenarnya masih mempertahankan netralitasnya. Namun, hal itu bisa saja tak bertahan lama jika Houthi menyerang aset Riyadh.

"Saya yakin Arab Saudi masih mempertahankan netralitas yang hati-hati dalam perang Iran-Israel-AS. Jika Houthi menyerang aset Saudi, Riyadh mungkin akan beralih ke dukungan koalisi defensif atau pembalasan terbatas," katanya kepada AFP, seperti dilansir The Guardian.

Arab Saudi sendiri telah menjadi sasaran serangan pesawat tak berawak Iran, sebagai bagian dari respons Teheran terhadap serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026 lalu. Satu serangan pesawat tak berawak seminggu lalu menghantam kilang minyak di Yanbu di pantai Laut Merah Arab Saudi.

Kemampuan Arab Saudi untuk mengangkut ekspor minyaknya melalui pipa ke Laut Merah berarti negara itu tidak rentan seperti negara-negara tetangganya terhadap taktik Iran yang memberlakukan blokade hampir total pada pengiriman kapal tanker minyak yang meninggalkan Teluk melalui Selat Hormuz.

Serangan terhadap Yanbu menandakan peringatan Iran, mereka juga dapat mengancam jalur ekonomi vital tersebut. Ancaman itu akan berlipat ganda jika sekutu Iran di Yaman, gerakan Houthi, ikut serta dalam perang dengan persenjataan rudal mereka sendiri.

Dikatakan, Arab Saudi dan Iran sejak lama telah menjadi rival di kawasan regional. Masing-masing mengklaim peran kepemimpinan di dunia Islam Sunni dan Syiah.

The Guardian menyoroti bocoran dokumen Departemen Luar Negeri AS yang menyebutkan, paman dari pihak ayah Putra Mahkota, Raja Abdullah, mendesak militer AS pada tahun 2008 agar "memenggal kepala ular", yang disebut merujuk pada rezim teokratis di Teheran.

(dce/dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |