Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti dari Flinders University, Australia, mengembangkan pendekatan baru untuk mengobati apnea tidur obstruktif (obstructive sleep apnea/OSA), gangguan pernapasan yang terjadi ketika saluran napas tersumbat saat tidur atau sering kita kenal dengan ngorok.
Metode ini merupakan pengembangan dari terapi stimulasi saraf hipoglosus (hypoglossal nerve stimulation/HNS), yakni teknik yang menggunakan pulsa listrik untuk mengontrol gerakan lidah agar tidak menutup saluran napas.
Selama ini, terapi HNS membutuhkan operasi dan pemasangan implan berukuran relatif besar. Prosedurnya tergolong invasif, memakan waktu, serta tidak selalu efektif untuk semua pasien.
Dalam studi terbaru, peneliti menguji elektroda berukuran lebih kecil yang dirancang agar lebih mudah dipasang dan diatur. Hasil uji coba awal menunjukkan hasil yang menjanjikan.
Dalam uji stimulasi singkat selama beberapa siklus napas, elektroda HNS baru mampu membuka saluran napas pada 13 dari 14 partisipan, atau setara dengan tingkat keberhasilan 93 persen.
Bahkan, pada beberapa kasus, alat ini tetap efektif ketika pernapasan sudah berhenti sepenuhnya.
"Ini adalah prosedur selama 90 menit yang dilakukan dengan panduan ultrasonografi dan hanya menimbulkan ketidaknyamanan minimal," kata ahli THT dari Flinders University, Simon Carney, dikutip dari ScienceAlert, Senin (9/2/2026).
"Yang terpenting, kami mampu membuka saluran napas pada pasien yang sebelumnya dianggap tidak cocok untuk HNS," lanjutnya.
Meski masih memerlukan pengembangan lanjutan sebelum digunakan secara luas, teknologi ini berpotensi mengubah cara penanganan apnea tidur. Prosedur pemasangan alat dapat dilakukan dalam waktu singkat di klinik, tanpa operasi besar di rumah sakit.
Artinya, terapi ini berpotensi menjadi pilihan bagi lebih banyak penderita apnea tidur obstruktif. Pasien yang memenuhi syarat bisa mendapatkan perawatan lebih cepat dan memiliki waktu pemulihan yang lebih singkat dibandingkan operasi.
Saat ini, HNS cukup efektif, tetapi tidak selalu berhasil pada semua pasien. Para peneliti menyebut dengan pendekatan yang lebih minim invasif, pasien bisa mendapatkan perawatan lebih cepat dan waktu pemulihan yang lebih singkat. Selain itu, terapi ini juga berpotensi disesuaikan secara lebih presisi untuk tiap pasien.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]


















































