Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang peneliti bernama Kristian Louis Jensen mencoba menelusuri jejak mikroplastik di Greenland. Dia membekali diri dengan alat bernama Plastsaq selama perjalanan.
Plastsaq merupakan alat sains untuk mengumpulkan sampel air permukaan yang mengandung puing dari barang seperti botol dan kemasan. Dari tempat-tempat paling alami di Bumi, dia kemudian berpikir untuk mengarahkan perjalanannya menuju ke Greenland.
Ternyata Jensen menemukan banyak partikel mikroplastik, termasuk dari ban. Hal ini memastikan masalah ini bukan hanya berasal dari perkotaan saja.
"Menemukan partikel-partikel itu di gletser yang alami di Greenland Timur adalah kejutan sebab memvalidasi tesis paling menakutkan: partikel-partikel ini bukan lagi hanya masalah perkotaan," jelasnya dikutip dari Euronews, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, partikel itu menjadi debu dan terbawa udara sejauh ribuan kilometer ke daratan arktik. Pada akhirnya menunjukkan dataran ini jadi penyerap polusi dunia.
Sebagai informasi, terdapat lebih dari lima miliar ban beredar di dunia. Selama masa pakaiannya, ban akan kehilangan 10%-30%.
Namun menurut Jensen, massa itu tidak menghilang. Melainkan menjadi debu beracun yang berada mengendap di bagian awal rantai makanan manusia.
Dari hasil temuan itu, dia menyimpulkan terdapat tiga dampak pada masyarakat di Greenland. Salah satunya jejak ban itu membahayakan ikan-ikan yang berada di sana.
"Misalnya bahan kimia seperti 6PPD mematikan untuk salmon Coho," ucap dia.
Selain itu polusi ban mobil bisa menyebabkan kelainan bentuk pada telur ikon kod Atlantik. Pada akhirnya dapat mengancam fondasi perikanan nasional. Untuk masyarakat adat setempat, dia menjelaskan ini akan menimbulkan risiko kesehatan gratis.
(dem/dem)
Addsource on Google


















































