PDIP Sorot Siswa SD NTT Bunuh Diri: Momentum Evaluasi Serius bagi Negara

3 hours ago 3
Jakarta -

Informasi dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Kapoksi Komisi VIII DPR RI Fraksi PDIP Selly Andriany Gantina menilai kasus siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), merupakan bentuk nyata kemiskinan struktural. Selly mengatakan hal tersebut terjadi lantaran negara belum dapat menjamin hak dasar anak atas pendidikan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya menegaskan bahwa kemiskinan tidak hanya soal keterbatasan ekonomi, tetapi juga soal runtuhnya martabat, kesehatan mental, dan perlindungan sosial, terutama bagi perempuan dan anak," kata Selly kepada wartawan, Rabu (4/2/2026).

Selly mengatakan dalam banyaknya keluarga miskin, anak-anak kerap menjadi pihak paling rentan menanggung dampak psikologis dan sosial. Padahal, kata dia, konstitusi telah mengatur dengan jelas hak anak untuk mendapatkan pendidikan.

"Tragedi ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan belum sepenuhnya berpihak pada kelompok paling rentan," katanya.

Dia mengatakan kasus tersebut harus menjadi alarm bagi negara untuk melakukan evaluasi. Dia berharap tak ada kasus serupa terulang lagi di masa depan.

"PDI Perjuangan menegaskan posisinya sebagai partai penyeimbang yang menjalankan fungsi kontrol dan pengawasan secara kritis terhadap kebijakan pemerintah. Tragedi ini harus menjadi momentum evaluasi serius bagi negara, baik di tingkat pusat maupun daerah, agar tidak ada lagi anak Indonesia yang kehilangan masa depan, bahkan nyawa akibat kemiskinan dan kelalaian system," ujar Selly.

Selly pun mendesak adanya penguatan dan integrasi program perlindungan sosial. Dia menegaskan setiap ajak berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

"Negara tidak boleh berhenti pada bantuan sesaat, tetapi harus memperkuat kapasitas keluarga miskin, terutama yang memiliki anak usia sekolah, melalui penguatan ekonomi, akses pendidikan yang utuh, dan pendampingan sosial berbasis kebutuhan nyata di lapangan, agar kemiskinan tidak terus diwariskan lintas generasi," tutupnya.

Siswa SD Tewas Gantung Diri

Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar (SD) yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban menulis sosok ibunya dalam surat itu.

Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya. Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.

(amw/isa)


Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |