Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang, meski sempat tertatih pada awal perdagangan. Indeks ditutup naik 199,87 poin atau 2,52% ke level 8.122,6.
Indeks dibuka turun 0,43% ke level 7.888,77.Setelah 10 menit perdagangan, IHSG anjlok lebih dalam dan terkoreksi hingga 2,07% ke level 7.758,46.
Namun setelahnya indeks mulai bangkit memangkas koreksi hingga bergerak di zona hijau. Hingga pukul 10.44 WIB IHSG naik 1,07% ke level 8.007,65 atau melesat 295 poin dari level terendah perdagangan intraday hari ini.
Laju IHSG semakin kuat pada akhir sesi 1. Indeks ditutup naik 1,57% atau 124,49 poin ke level 8.047,22.
Mengutip Refinitiv, hanya ada dua sektor yang merah hari ini, yaitu utilitas (-0,9%) dan konsumer non-primer (-0,35%). Bahan baku menjadi sektor yang naik paling kencang dengan penguatan 5,8%. Kemudian diikuti properti yang naik 4,86% dan energi serta industri yang masing-masing naik 2,86% dan 2,84%.
Tercatat DCI Indonesia (DCII) menjadi penggerak utama IHSG hari ini. DCII menyumbang 23,12 indeks poin. Emiten milik Otto Toto Sugiri ini naik 11,8% ke level 220.250.
Selain itu Astra (ASII), Amman Mineral (AMMN), Bumi Resources (BUMI), dan Chandra Asri Pacific (TPIA) juga masuk dalam daftar penggerak utama IHSG hari ini. Secara berurutan, masing-masing menyumbang 15,36 indeks poin, 12,14 indeks poin, 11,42 indeks poin, dan 11,41 indeks poin.
Kondisi berbeda terjadi di saham MD Entertainment (FILM) hingga Bank Central Asia (BBCA). FILM yang turun hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) menyeret IHSG sebesar -14,55 indeks poin. Lalu Mora Telematika Indonesia (MORA) yang juga ARB berkontribusi -12,17 indeks poin.
Barito Renewables Energy (BREN), BBCA, dan Telkom (TLKM) masing-masing membebani -6,48 indeks poin, -4,74 indeks poin, dan -4,21 indeks poin.
Seiring dengan pergerakan positif IHSG, aliran dana asing mulai kembali masuk ke pasar modal. Sepanjang sesi 1, foreign buy mencapai Rp 5,2 triliun, selisih tipis dengan foreign sell yang juga berada di level Rp 5,2 triliun.
Tercatat Bumi Resources (BUMI) menjadi saham yang paling banyak diincar asing dengan nilai mencapai Rp 402 miliar. Kemudian diikuti oleh Darma Henwa (DEWA) Rp 171,9 miliar dan Bumi Resources Minerals (BRMS) Rp 85,7 miliar.
Selain itu, saham emiten milik Hapsoro juga masuk dalam keranjang belanja asing. Bukit Uluwatu Villa (BUVA) mencatat net buy Rp 85,7 miliar dan Rukun Raharja (RAJA) Rp 85,5 miliar.
Begitu pula dengan emiten milik Prajogo Pangestu, seperti Barito Pacific (BRPT), Petrosea (PTRO), dan Chandra Daya Investasi, dengan masing-masing net buy Rp 56,7 miliar, Rp 49 miliar, dan Rp 39 miliar. Pun saham emiten perkapalan Buana Lintas Lautan (BULL) juga diborong dengan net buy Rp 40,5 miliar.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan asing sudah mulai lebih terkonfirmasi lagi kepercayaan dan kepastian mengenai rencana besar Indonesia untuk mendorong dan mengedepankan reformasi integritas.
"Artinya asing sudah mulai masuk ke pasar kita dan mulai itu menunjukkan adanya tingkat kepercayaan atas apa yang kita luncurkan kemarin," jelas Hasan.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]


















































