Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah rencana luar biasa baru saja diumumkan sekelompok pendiri perusahaan teknologi. Mereka berniat mengirim pesawat ruang angkasa berukuran kecil menuju bintang terdekat dari Bumi selain Matahari, Alpha Centauri. Perjalanan tersebut diperkirakan memakan waktu 80.000 tahun.
Pesawat itu tidak ditujukan untuk tiba pada masa hidup manusia yang meluncurkannya, melainkan sebagai pesan bagi peradaban masa depan yang belum lahir, dikutip dari laporan TechCrunch, Rabu (2/9/2026).
Proyek bernama Fermi Explorer ini digagas oleh para pendiri perusahaan Starcloud, startup yang berencana menempatkan data center di luar angkasa.
Fermi Explorer ingin mengirim benda buatan manusia menuju bintang lain untuk pertama kalinya dalam sejarah. Pesawat kecil berukuran sisi 10 sentimeter dan berat 1 kilogram itu direncanakan meluncur pada tahun 2029 dengan biaya sekitar US$ 15 juta atau sekitar Rp 234 miliar.
Selama ini rencana perjalanan ke bintang lain selalu bermasalah dengan jarak yang tak terbayangkan. Bintang terdekat, Alpha Centauri, berjarak 41 triliun kilometer dari Bumi. Pesawat tercepat buatan manusia butuh puluhan ribu tahun untuk sampai ke sana.
Proyek ambisius bernama Breakthrough Starshot yang digagas miliarder Yuri Milner dan didukung Mark Zuckerberg sebelumnya berharap dapat menempuh perjalanan itu dalam 20 hingga 30 tahun menggunakan teknologi pendorong laser senilai miliaran dolar. Namun proyek itu akhirnya berhenti pada tahun 2025.
Fermi Explorer justru punya pikiran yang berbeda. Mereka bukan menunggu teknologi canggih yang belum ada, melainkan menggunakan teknologi yang sudah ada saat ini.
"Kami sangat bertekad meluncurkan sesuatu dalam tiga tahun ke depan. Perbedaan terbesar dengan proyek lain adalah mereka semua berusaha sampai dalam rentang hidup manusia, yang berarti butuh biaya riset miliaran dolar. Kami justru secara sadar memilih 80.000 tahun sebagai waktu tempuh yang paling masuk akal," ujar Philip Johnston, salah satu pendiri proyek.
Pesawat itu nantinya akan meluncur menumpang roket yang sudah ada, lalu menggunakan pendorong listrik yang hemat energi untuk meninggalkan Tata Surya. Pesawat akan aktif sekitar 12 tahun sebelum meluncur menuju tujuannya selama puluhan ribu tahun.
"Jika tulang dinosaurus dapat bertahan 200 juta tahun, kotak logam pasti dapat bertahan melampaui 50.000 tahun," tutur Johnston.
Pesawat itu tidak direncanakan menyala atau mengirim sinyal saat tiba di tujuan nanti. Harapannya, peradaban manusia di masa depan yang jauh ke depan suatu hari nanti akan menemukan pesawat itu dan mengetahui bahwa ribuan generasi sebelumnya, nenek moyang mereka pernah mengirimkan pesan ke bintang.
Muatan lain berupa alat pengukur dan rekaman, serupa dengan Piringan Emas yang dibawa pesawat penjelajah Voyager milik NASA yang diluncurkan tahun 1977 dan kini telah berada di luar Tata Surya. Namun perbedaan utamanya, Fermi Explorer adalah benda buatan manusia pertama yang secara khusus ditujukan untuk menuju bintang lain, bukan sekadar meninggalkan Tata Surya.
Tujuan proyek ini disebut juga untuk menguji Paradoks Fermi yaitu pertanyaan besar yaitu mengapa jika alam semesta begitu luas, hingga saat ini kita belum pernah menjumpai tanda kehidupan cerdas dari tempat lain.
Dengan mengirim pesawat menuju bintang lain, manusia meninggalkan jejak bahwa kita ada, dan kita berusaha melangkah keluar.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]


















































