Meski Harga Tertekan, Produksi Nikel Vale Melewati Target 2025

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatatkan kinerja yang positif sampai pada tutup tahun 2025. Salah satunya adalah kinerja produksi nikel yang tumbuh di tengah tantangan dari harga komoditas tersebut.

Meski data produksi bijih nikel belum final sampai akhir tahun 2025, di bulan November 2025 produksi bijih nikel sudah mencapai 12,80 juta ton dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025 tang mencapai 16,60 juta ton.

Kemudian, untuk produksi nikel matte mencapai 66.848 ton hingga November 2025 dari target RKAP 71.234 ton. "Walaupun yang mungkin ada di slide itu kan sampai dengan November tahun 2025, bisa saya sampaikan sambil nanti menunggu audit yang tengah berlangsung bahwa produksi PT Vale untuk produksi nickel matte itu melebihi budget yang dicanangkan di tahun 2025," ungkap Direktur Utama INCO Bernardus Irmanto dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR, Senin (19/1/2026).

"Demikian juga penjualan ore sampai dengan akhir tahun itu juga melebihi budget yang dicanangkan di tahun 2025," tambah Bernardus.

Berdasarkan paparannya, penjualan bijih nikel per November 2025 tercatat mencapai 1,9 juta ton atau sudah melebihi target penjualan perusahaan tahun 2025 sebesar 1,36 juta ton.

Adapun produksi nikel matte, mencapai 66.848 ton hingga November 2025 meningkat 3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sepanjang tahun berjalan, total penjualan matte mencapai 67.351 ton, mencerminkan pertumbuhan sebesar 2% secara tahunan (year-on-year/yoy).

Perusahaan juga mencatat kemajuan signifikan dalam ekspansi kegiatan komersial tahun ini melalui keberhasilan penjualan bijih nikel saprolit dari wilayah Pomalaa dan Bahodopi. Hingga November 2025, total penjualan bijih nikel saprolit mencapai 1.905.740 wmt.

Di tengah tekanan harga nikel, perusahaan mencatat total pendapatan hingga November sebesar US$902 juta, ini didorong oleh peningkatan volume produksi nikel matte dan bijih nikel saprolit.

"Memang tantangannya adalah mengenai harga realisasi karena realisasi harga nikel sepanjang tahun 2025 ini di bawah dari apa yang kita harapkan," tegas Bernardus.

Sudah Ajukan RKAB 2026

Yang terbaru, Vale Indonesia sudah mengajukan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 ke Kementerian ESDM. Bernardus mengatakan tahun 2026 ini perusahaan hanya diberikan kuota produksi nikel sebesar 30% dari RKAB yang diajukan tersebut.

Meski tidak menyebutkan angka spesifiknya, kuota produksi yang minim tersebut dinilai tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan bijih nikel bagi proyek-proyek perusahaan. Pihaknya memiliki komitmen pasokan yang besar untuk tiga proyek hilirisasi utama yang sedang berjalan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

"Saat ini kami sudah memperoleh approval atau persetujuan atau pengesahan RKAB namun demikian kuota yang diberikan kepada PT Vale sekitar 30% dari apa yang kami minta. Kemungkinan besar tidak akan bisa memenuhi komitmen-komitmen kami terhadap pabrik-pabrik yang tadi saya jelaskan di atas," ungkap Bernadus

Padahal menurutnya, kinerja produksi Vale sebenarnya sangat positif. Berdasarkan data hingga November 2025, produksi nickel matte dan penjualan bijih nikel perseroan berhasil melampaui target anggaran yang ditetapkan. Namun, keberlanjutan pasokan bijih untuk pabrik pengolahan menjadi tantangan jika kuota penambangan tidak ditambah.

"Jadi mudah-mudahan kami PT Vale bisa mendapatkan kesempatan untuk mengajukan revisi RKAB dan juga mendapatkan volume yang cukup untuk memenuhi komitmen terhadap partner dan juga komitmen terhadap pemegang saham kami," tandasnya.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |