Aisha Mayra, CNBC Indonesia
27 May 2026 11:00
Jakarta,CNBC Indonesia - Padang Arafah menjadi titik paling penting dalam ibadah haji karena di tempat inilah jutaan jemaah menjalani wukuf, ritual yang dianggap sebagai puncak seluruh rangkaian haji.
Begitu pentingnya Arafah hingga muncul istilah, "Haji itu adalah Arafah." Artinya, tanpa wukuf di Arafah, ibadah haji dianggap tidak sah.
Setiap 9 Zulhijah, jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Padang Arafah sejak matahari tergelincir hingga menjelang fajar keesokan harinya. Di tengah hamparan padang pasir itu, para jemaah memperbanyak doa, zikir, dan memohon ampunan.
Momen wukuf di Arafah juga sering disebut sebagai titik paling emosional dalam ibadah haji. Seluruh jemaah mengenakan pakaian ihram yang sama, tanpa membedakan jabatan, kekayaan, maupun status sosial.
Karena itu, Arafah bukan sekadar lokasi ritual keagamaan, tetapi juga simbol kesetaraan, pengampunan, dan refleksi spiritual bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Muslim pilgrims gather to pray at Jabal al-Rahmah, also known as Mount Arafat, during the annual hajj pilgrimage, outside the holy city of Mecca, Saudi Arabia, June 5, 2025. REUTERS/Khaled Abdullah Foto: REUTERS/Khaled Abdullah
Menjelang Arafah, jutaan orang bergerak menuju satu titik yang sama di tengah gurun Arab Saudi. Mereka mengenakan pakaian ihram serba putih, berjalan di bawah suhu yang bisa mendekati 47 derajat Celsius, lalu berkumpul di hamparan terbuka yang nyaris tanpa bangunan tinggi.
Di tempat itu, pejabat, pengusaha, hingga petani berdiri di bawah matahari yang sama. Selama beberapa jam, jutaan orang datang untuk melakukan satu hal sederhana: berdoa dan berdiam diri di Padang Arafah.
Momen itu dikenal sebagai wukuf, puncak ibadah haji yang setiap tahun menjadi salah satu pergerakan manusia terbesar di dunia.
Tahun ini, pelaksanaan wukuf Arafah pada Selasa (26/5/2026).
Inti Haji Ada di Arafah
Padang Arafah berada sekitar 21 kilometer dari Kota Mekkah dengan luas sekitar 8 kilometer persegi. Di tempat inilah inti ibadah haji berlangsung setiap 9 Dzulhijjah, dimulai sejak masuk waktu zuhur hingga menjelang subuh pada Hari Raya Idul Adha.
Dalam tradisi Islam, wukuf di Arafah menjadi bagian paling penting dalam ibadah haji. Bahkan ada ungkapan yang sangat dikenal: "Al-hajju Arafah" atau "Haji adalah Arafah."
Karena itu, meski berlangsung hanya beberapa jam, jutaan orang rela menunggu antrean bertahun-tahun dan menempuh perjalanan jauh demi bisa berada di tempat tersebut setidaknya sekali seumur hidup.
Para peziarah Muslim menggunakan payung untuk melindungi diri dari terik matahari setelah salat Zuhur di luar Masjid Nimrah di Dataran Arafat selama ibadah haji tahunan, di luar kota suci Mekah, Arab Saudi, 26 Mei 2026. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa) Foto: Para peziarah Muslim menggunakan payung untuk melindungi diri dari terik matahari setelah salat Zuhur di luar Masjid Nimrah di Dataran Arafat selama ibadah haji tahunan, di luar kota suci Mekah, Arab Saudi, 26 Mei 2026. (REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa)
Hari Arafah sendiri juga memiliki makna penting bagi umat Islam, termasuk bagi mereka yang tidak sedang berhaji. Banyak Muslim di berbagai negara menjalankan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah yang diyakini memiliki keutamaan besar dalam tradisi Islam.
Gurun yang Dipenuhi Jutaan Orang
Skala pergerakan manusia menuju Arafah membuat musim haji berubah menjadi operasi logistik raksasa.
Menjelang haji 2026, otoritas Saudi menyebut telah menyelesaikan berbagai persiapan transportasi, metro kawasan suci, pengaturan pergerakan jemaah, hingga peningkatan jaringan pendingin dan keamanan di area tenda Mina.
Perusahaan Kidana Development Co. bahkan mengganti dan meningkatkan jaringan pendingin serta keamanan di 565 tenda dengan total jaringan mencapai 339 ribu meter.
Di saat yang sama, otoritas kesehatan Saudi juga memeriksa lebih dari 187 ton suplai medis dari 20 negara untuk mendukung layanan kesehatan selama musim haji berlangsung.
Cuacanya pun tidak ringan. Suhu siang hari di Arafah umumnya berada di kisaran 38 hingga 42 derajat Celsius dan dalam beberapa musim haji dapat mendekati 47 derajat Celsius.
Tempat yang Sarat Sejarah
Bagi banyak Muslim, Arafah bukan hanya penting karena menjadi lokasi wukuf.
Tempat ini juga sering dikaitkan dengan momen khutbah wada' atau khutbah perpisahan Nabi Muhammad SAW menjelang akhir hayatnya. Dalam khutbah tersebut, Nabi berbicara tentang persaudaraan, keadilan, hingga pentingnya menghormati sesama manusia.
Karena itu, Padang Arafah sering dipandang bukan hanya sebagai tempat berkumpulnya jutaan jemaah, tetapi juga simbol refleksi dan kesetaraan.
Di kawasan itu, hampir semua jemaah mengenakan ihram putih sederhana tanpa banyak penanda status sosial.
"Di Arafah, semua orang datang sebagai manusia," kata salah satu jemaah Indonesia beberapa tahun lalu.
Di Tengah Dunia yang Semakin Sibuk
Di tengah dunia yang semakin cepat, jutaan orang masih datang ke Padang Arafah untuk melakukan sesuatu yang sangat sederhana: berhenti sejenak.
Banyak jemaah menghabiskan waktunya dengan diam, berdoa, atau memandang hamparan gurun di sekitarnya.
Kontras itu yang membuat Arafah terasa begitu kuat bagi banyak orang. Di saat hidup sehari-hari terasa semakin sibuk dan bising, beberapa jam di tempat itu justru dipenuhi hal-hal yang sangat sunyi.
Padang Arafah mungkin hanya hamparan gurun terbuka di luar Mekkah. Namun bagi jutaan Muslim, beberapa jam di tempat itu menjadi salah satu momen paling penting dalam hidup mereka.
Dan di bawah matahari yang sama, jutaan orang datang membawa doa, harapan, penyesalan, dan cerita hidup mereka masing-masing.
Muslim pilgrims gather to pray at Jabal al-Rahmah, also known as Mount Arafat, during the annual hajj pilgrimage, outside the holy city of Mecca, Saudi Arabia, June 5, 2025. REUTERS/Khaled Abdullah Foto: REUTERS/Khaled Abdullah
(mae/mae)
Addsource on Google


















































