Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas anjlok hampir 2% dan menyentuh level terendah dalam 11 minggu. Harga jeblok seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan naiknya harga minyak akibat kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap inflasi dan kenaikan suku bunga.
Merujuk Refinitiv, pada hari ini, Rabu (10/6/2026) pukul 11.32 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4174,74 per troy ons atau jatuh 2,05%.
Pelemahan ini memperpanjang derita emas di mana harganya juga jatuh. Harga emas pada perdagangan Selasa (9/6/2026) ditutup di posisi US$ 4262,52 per troy ons. Harganya jatuh 1,53%. Pelemahan ini memperpanjang derita emas degan melemah tiga hari beruntun dan anjlok 4,7%.
Dolar AS menguat sehingga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Harga minyak juga naik 1%, meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi lebih lama.
Indeks dolar kini bergerak di 99,918.
"Pendorong utamanya adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve, kenaikan imbal hasil obligasi, dan penguatan dolar AS. Semua faktor itu menekan harga emas," kata Kepala Strategi Makro Global Tastylive, Ilya Spivak, dikutip dari Refinitiv.
Pada Selasa, Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Teheran telah menembak jatuh helikopter Apache milik AS di Selat Hormuz. Insiden tersebut memperdalam keraguan terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dan semakin membebani gencatan senjata yang rapuh.
Menurut alat pemantau CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 70% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebelum Desember.
Meski emas sering dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil (yield).
Pasar kini menantikan sejumlah data inflasi penting AS pekan ini, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) Mei yang akan dirilis kemudian pada hari yang sama, serta Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis. Data tersebut akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter The Fed ke depan.
"Jika harga emas menembus level US$4.100, saya pikir arah pergerakannya akan berubah secara fundamental. Kita mungkin mulai melihat US$3.500 sebagai target berikutnya hingga akhir tahun," ujar Spivak.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































