Makanan Pemicu Risiko Kanker Payudara, Kenali Gejala Awalnya

3 hours ago 1
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Kanker payudara masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di Indonesia. Namun, risiko penyakit ini dapat ditekan lewat pola makan sehat, gaya hidup aktif, dan deteksi dini.

Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan konsumsi makanan ultra-proses, daging olahan, hingga lemak jenuh berlebihan dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Meski demikian, para ahli menegaskan tidak ada satu jenis makanan tertentu yang secara langsung menyebabkan kanker payudara.

Profesor di Harvard Medical School sekaligus dokter senior Breast Oncology Center Dana-Farber Cancer Institute, Jennifer Ligibel mengatakan hingga kini alkohol menjadi faktor makanan dan minuman yang paling konsisten dikaitkan dengan kanker payudara.

"Selain alkohol, belum ada makanan yang terbukti secara langsung menyebabkan kanker payudara," ujar Ligibel, seperti dikutip BreastCancer.org, Rabu (27/5/2026).

Waspadai Makanan Pemicu Risiko Kanker Payudara

Meski begitu, sejumlah pola makan tertentu diketahui dapat meningkatkan risiko penyakit tersebut. Salah satunya adalah konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed food.

Makanan jenis ini umumnya tinggi gula, garam, lemak jenuh, serta mengandung banyak bahan tambahan dan pengawet. Contohnya seperti minuman bersoda, makanan cepat saji, nugget, sosis, keripik kemasan, mi instan, pizza beku, hingga aneka makanan manis kemasan.

Sebuah studi tahun 2023 yang melibatkan sekitar 462 ribu peserta menemukan semakin tinggi konsumsi makanan ultra-proses, maka risiko kanker payudara ikut meningkat.

Ahli gizi onkologi dari Scripps Health, Alison Meagher menjelaskan makanan ultra-proses dapat memicu obesitas, peradangan, serta mengganggu kesehatan mikrobioma usus yang diduga berpengaruh terhadap risiko kanker.

"Makanan ultra-proses biasanya mengandung gula tambahan, lemak jenuh, dan zat aditif yang bila dikonsumsi terus-menerus dapat berdampak buruk pada berat badan, inflamasi, dan mikrobioma usus," kata Meagher.

Selain makanan ultra-proses, konsumsi daging olahan seperti sosis, bacon, salami, dan hot dog juga dikaitkan dengan kenaikan risiko kanker payudara. Kajian terhadap 13 studi dengan lebih dari 1 juta peserta menunjukkan konsumsi rutin daging olahan meningkatkan risiko kanker payudara sebesar 9%.

Sementara itu, konsumsi daging merah seperti sapi, kambing, dan babi dalam jumlah tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko sekitar 6%.

Penelitian lain pada 2024 terhadap lebih dari 500 ribu peserta menemukan asupan lemak jenuh tinggi turut meningkatkan risiko kanker payudara. Lemak jenuh banyak ditemukan pada mentega, keju, makanan cepat saji, gorengan, hingga makanan panggang kemasan.

Diet Sehat dan Serat Tinggi Bisa Jadi Pelindung

Di sisi lain, pola makan sehat justru dinilai mampu membantu menurunkan risiko kanker payudara. Salah satu yang paling banyak diteliti adalah pola makan Mediterania yang kaya buah, sayur, biji-bijian utuh, ikan, minyak zaitun, dan protein rendah lemak.

Penelitian menunjukkan perempuan pascamenopause yang rutin menjalani pola makan Mediterania memiliki risiko 40% lebih rendah terkena kanker payudara tipe estrogen receptor-negative.

"Kami tahu pola makan Mediterania membantu orang hidup lebih lama, menghindari diabetes dan penyakit jantung, serta menjaga berat badan tetap stabil," ujar Ligibel.

Selain itu, asupan serat tinggi juga disebut berperan penting. Kajian pada 2020 menemukan perempuan yang mengonsumsi banyak serat memiliki risiko kanker payudara 8% lebih rendah dibandingkan mereka yang minim serat.

"Serat adalah salah satu komponen makanan paling penting dalam pencegahan penyakit," kata Meagher.

Kenali Gejala Awal Kanker Payudara

Kementerian Kesehatan RI juga mengingatkan bahwa kanker payudara dapat menyerang siapa saja, terutama perempuan dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga, obesitas, gaya hidup tidak sehat, penggunaan hormon jangka panjang, hingga tidak pernah menyusui.

Kemenkes menegaskan deteksi dini menjadi kunci penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan.

"Semakin cepat kanker payudara terdeteksi, semakin besar peluang untuk sembuh dan menjalani hidup yang sehat dan produktif," tulis Kemenkes RI dalam keterangan resminya.

Masyarakat diminta tidak mengabaikan perubahan pada payudara. Sebab, gejala awal sering kali muncul tanpa rasa nyeri.

Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

- Benjolan keras di payudara atau ketiak

- Perubahan ukuran dan bentuk payudara

- Puting tertarik ke dalam

- Cairan abnormal keluar dari puting

- Kulit payudara mengerut seperti kulit jeruk

Kemenkes mendorong perempuan rutin melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri), SADANIS oleh tenaga medis, serta mammografi terutama bagi perempuan usia di atas 40 tahun.

Selain deteksi dini, risiko kanker payudara juga dapat ditekan dengan menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, berhenti merokok, menghindari alkohol, serta memperbanyak konsumsi makanan kaya antioksidan seperti buah dan sayur.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |