Luhut Tegaskan Pengawasan Ekspor Mineral Bakal Pakai AI

1 hour ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut B. Pandjaitan mengungkapkan bahwa Indonesia sudah memiliki sistem monitoring atau pengawasan ekspor mineral yang canggih.

Sistem ini bernama SIMBARA atau Sistem Informasi Mineral dan Batubara Antar Kementerian/Lembaga yang telah terhubung dengan National Single Window (NSW) di Kementerian Keuangan.

Luhut pun mengingatkan keberadaan sistem pengawasan ini kepada CEO BPI Danantara Rosan P. Roeslani. Dia meminta Rosan untuk menyampaikan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki sistem pengawasan impor komoditas sumber daya alam.

Seperti diketahui, Danantara kini menjadi pengelola badan ekspor khusus, yakni PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). DSI yang berbentuk BUMN ini akan menjadi perantara dan pengawas ekspor komoditas penting, yakni CPO, Ferro Alloy dan Batu Bara, untuk tahap awal.

"Sistemnya sudah ada dan tadi malam saya menelepon Rosan, saya berkata, 'Rosan, hei, kita punya sistem ini, kita punya sistem ini, jadi ingatkan Bapak Presiden tentang hal ini'," kata Luhut dalam konferensi pers, seminar "ASEAN Regional Economic Outlook and Fiscal Policy" dengan tema "Navigating Global Uncertainty: Sustaining Growth and Stability in ASEAN" di kantor DEN, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Menurut Luhut dengan pemanfaatan sistem ini, kredibilitas Indonesia di mata investor akan meningkat. Bahkan, Luhut mengatakan sistem SIMBARA ini nantinya akan memanfaatkan Artificial Intelligence atau AI. Hal ini telah disampaikannya kepada perwakilan Bank Dunia di Indonesia.

Luhut pun menilai jika pemerintah membuat lembaga baru, maka potensi korupsi atau penyalahgunaan kekuasaan akan selalu ada dan dengan AI hal ini seharusnya bisa ditekan.

"Jadi kita membangun ekosistem untuk meminimalkan pertemuan tatap muka sehingga mereka menggunakan teknologi," paparnya.

"Saya pikir itu dapat meningkatkan efisiensi, dapat meningkatkan transparansi, dan juga deregulasi secara otomatis yang dapat kita lakukan melalui sistem ini. Karena deregulasi, tanpa deregulasi saya rasa kita tidak akan bisa tumbuh 8-9%," sambung Luhut.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |