Kombes Tri Hadirkan Polisi lewat Seni Budaya, Kelola 5 Museum-18 Sanggar Tari

4 hours ago 2

Jakarta -

Analis Kebijakan (Anjak) Staf Utama bidang Operasi (Stamaops) Polri, Kombes Tri Suhartanto, merupakan polisi pelestari budaya, dengan kekhususan budaya pascakemerdekaan. Ia aktif mengelola lima museum swasta dan 18 sanggar tari yang beranggotakan anak-anak putus sekolah hingga anak jalanan.

Sosoknya diusulkan sebagai kandidat Hoegeng Awards kategori inovatif oleh pembaca detikcom bernama Denny Yusuf. Denny menilai Kombes Tri berkomitmen pada gagasan 'polisi hadir melalui seni budaya'.

"Saya kenal Pak Tri mulai saya usia muda. Tapi kita mulai aktif (melestarikan budaya) itu 2010, 2011. Jadi waktu itu dia jadi Wakapolres Kota Mojokerto, waktu itu kami ada gerakan sosial bersama yaitu bakti sosial keliling ke desa-desa, beri pengobatan gratis, menggelar acara hiburan ke warga di antaranya wayang potehi, wayang kulit," kata Denny kepada detikcom, Jumat (6/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski akhirnya Kombes Tri pindah tempat dinas, namun Denny dan kakaknya terus berkomunikasi dengan perwira menengah Polri tersebut. Hingga akhirnya lahir rasa kebersamaan yang kuat untuk memperjuangkan kelestarian seni budaya pasca kemerdekaan di antara mereka.

"Kemudian Pak Tri pindah tugas, tapi kami tetap berkomunikasi. Tahun 2015, atas inisiatif Pak Tri dan kakak saya, kami menjadikan sebuah sanggar sebagai Museum Gubuk Wayang. Pak Tri menjadi Penasihat Museum Gubuk Wayang. Tahun 2015, Museum Gubuk Wayang diresmikan oleh Almarhum Pak Raden, penciptanya Si Unyil. Karena koleksi-koleksinya beliau 90 persen ada di Gubuk Wayang, sebagian kecil di Museum Wayang Jakarta, lalu Taman Mini Indonesia Indah," cerita Denny.

Kombes Tri Suhartanto, polisi pelestari budaya kelola 5 museum dan 18 sanggar tari.Kombes Tri Suhartanto, polisi pelestari budaya kelola 5 museum dan 18 sanggar tari. Foto: dok. istimewa

Denny menerangkan awal museum dibuat karena inisiatif Kombes Tri serta kakaknya. Denny menyebut sang kakak prihatin dengan sebagian orang yang menganggap benda seni budaya seperti keris hingga wayang tempat bernaung roh jahat. Benda-benda yang sarat budaya bangsa, oleh sebagian orang, malah dibakar atau dirusak karena anggapan tersebut.

"Ada di masa-masa tertentu, budaya kita itu dicap syirik, setan. Misalnya keris itu disebut ada setannya, wayang bisa jalan sendiri. Sehingga banyak yang dihancurkan, padahal itu artefak, peninggalan. Dari situ kami merasa sayang ya, benda-benda itu kan jati diri bangsa kita. Dari situlah mulai tergerak untuk tidak hanya menikmati tapi turut aktif melestarikan budaya," tutur Denny.

Keseriusan dia, Kombes Tri dan kakaknya dalam mengenalkan kebudayaan Indonesia, khususnya masa pascakemerdekaan, juga diwujudkan dengan berdirinya Museum Ganesya di 2019, Museum Srimulat di 2024, dan terbaru dua museum yang rencananya diresmikan April mendatang yakni Museum Dolanan Bocah dan Cipta Mahardika.

"Setelah Gubuk Wayang tahun 2015 di Kota Mojokerto, kemudian tahun 2019 sebelum COVID kita buka museum kedua di Kota Malang yaitu Museum Ganesya yang satu lokasi dengan Hawaii Waterpark. Kemudian 2024 kita buka Museum Srimulat di Kota Batu, dan seingat saya Pak Kapolri juga memberikan selamat saat pembukaan. Jadi beliau juga memberikan apresiasi dan dukungan kepada kita," papar Denny.

"April ini kalau tidak meleset kami mau buka dua museum di Mojokerto, seberangnya Museum Gubuk Wayang. Dua museum yang rencananya dibuka April, Museum Dolanan Bocah dan Museum Cipta Mahardika," sambung dia.

museum gubuk wayang mojokertoFoto: Museum Gubuk Wayang Mojokerto. (Enggran Eko Budianto/detikJatim)

Bimbing Ratusan Anak Putus Sekolah agar Punya Keahlian Seni

Mendirikan museum, kata Denny, tak lepas dari tantangan yakni legalitas dan izin menyimpan benda-benda yang menyimpan sejarah. Ia mengatakan Kombes Tri membimbing dirinya dan sang kakak agar museum yang mereka dirikan bersama tak melanggar aturan, termasuk aturan dari Kementerian Kebudayaan.

"Dia memberikan banyak bimbingan, aturan-aturan bagaimana agar kita mengoleksi tidak melanggar hukum. Dulu kan awalnya sanggar, kemudian menjadi museum di 2018. Pak Tri yang memberikan arahan-arahan dari sisi hukumnya agar apa yang kami lakukan tak bertentangan dengan hukum," kata Denny.

Denny melanjutkan, Kombes Tri tak hanya berada di balik meja. Dia juga turun ke sanggar-sanggar tari yang mereka kelola.

"Dia juga turun ke lapangan, maksud saya ke sanggar-sanggar yang kami kelola. Ada sangar tari Barongsai, Liong, tari Ramayana, nah beliau juga memberikan arahan agar kita tidak keluar dari jalur dan niat tulus melestarikan budaya Indonesia," ucap Denny.

"Anggota-anggota sanggar kita itu kebanyakan anak putus sekolah, anak-anak punk, anak-anak yang perlu diperhatikan. Pak Tri dan kami merangkul mereka. Karena kami yakin kegiatan kebudayaan dapat menjadi salah satu media penyaluran energi anak-anak muda. Pusatnya Mojokerto," tambah Denny.

museum gubuk wayang mojokertoFoto: Museum Gubuk Wayang Mojokerto. (Enggran Eko Budianto/detikJatim)

Kombes Tri disebut selalu menyelipkan edukasi dan nasihat-nasihat terkait keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) saat berkumpul dengan anggota-anggota sanggar tari. Denny menyebut Kombes Tri berupaya menanamkan pola pikir kepada anak-anak di sanggar tari, bahwa belajar seni budaya merupakan salah satu sarana cara anak-anak tersebut menyalurkan energi mereka, dan jika ditekuni terus-menerus dapat menjadi keterampilan dapat menjadi sumber penghasilan.

"Sering saat kegiatan dan Pak Tri ikut, dia memberikan bimbingan, arahan-arahan supaya mereka nggak jadi remaja yang perilakunya menyimpang. Energi mereka malah disalurkan ke seni dan budaya agar menjadi sumber penghasilan untuk anak-anak itu. Dulu awalnya 30 anak, sekarang hampir 190 anak. Jadi lewat seni dan budaya, atau kegiatan positif, mereka punya penghasilan," jelas Denny.

Denny menjelaskan lebih jauh, berkat komitmen Kombes Tri memperkenalkan produk serta kegiatan seni budaya yang dibinanya, lima museum dan 18 sanggar tari yang mereka kelola kini dikenal luas, bahkan hingga mancanegara.

"Dari sanggar tari juga kami lalu diundang ke kegiatan-kegiatan di dalam maupun luar negeri," kata Denny.

Selama berkegiatan di museum, di sanggar tari hingga acara-acara publik, Denny mengatakan Kombes Tri tak pernah melepas seragam dinasnya. Dia pun sempat menanyakan alasan Kombes Tri selalu mengenakan seragam, meski acara yang dihadiri tak ada hubungannya dengan tugas kedinasan.

"Saya tanya kenapa kok setiap kali kegiatan pakai seragam polisi? Di satu sisi banyak orang bilang ngapain pake seragam, kan bukan tugas dinas. Bagi Pak Tri, saat ini banyak oknum kepolisian yang merusak citra polisi itu sendiri. Dengan kegiatan yang ia lakukan, dia ingin menunjukkan, 'Ini loh masih ada polisi yang masih peduli dan tidak semua polisi buruk. Masih ada polisi baik'," cerita Denny.

"Makanya tiap kali kegiatan, menjalin relasi dengan jaringan-jaringan budaya itu, dia selalu pakai seragamnya. Pesannya, 'Ini loh masih ada polisi yang masih mau turun ke masyarakat, nggak cuma ngomong doang'," imbuh Denny.

Dalam kesempatan terpisah, Kombes Tri mengatakan kepada detikcom soal prinsip sederhana hubungan polisi dengan masyarakat yang ia yakini. Dia mengatakan polisi saat ini ingin dikenal baik oleh masyarakat, namun keinginan tersebut tak bisa terwujud jika tak pernah ada interaksi yang terus-menerus dengan masyarakat.

"Sebenarnya masyarakat nggak mau yang ribet-ribet, neko-neko atau dan aneh-aneh. Harapan masyarakat ke kami (Polri), hanya pingin polisi itu baik. Supaya bisa dinilai baik, polisi harus mendekatkan diri ke masyarakat, berbaur dengan komunitas masyarakat, sehingga masyarakat mengenal betul sosok polisi itu," kata Kombes Tri kepada detikcom, Jumat (6/3).

Berangkat dari prinsipnya dan hobi masa muda, Kombes Tri menjadikan pendekatan budaya sebagai strategi utama dalam merangkul masyarakat. Dia mengatakan budaya itu adalah media komunikasi yang tidak kaku dan mudah disesuaikan.

"Saya merasa pendekatan kebudayaan paling pas karena interaksinya luwes. Dulu Memang saya suka, hobi dari muda nonton wayang, ludruk, srimulat, tari-tarian. Saya juga suka tontonan Boneka Si Unyil, karena masih kategori wayang golek," ujar Kombes Tri.

Menanggapi kesaksian Denny, Kombes Tri menuturkan baksos yang dilakukan dirinya sewaktu Wakapolres Mojokerto berlangsung tiap akhir pekan. Suatu ketika saat menggelar baksos, dia melihat perajin batu bata memecahkan benda-benda yang menurutnya artefak, untuk dijadikan material bangunan. Hal itu menggerakkan hati Kombes Tri, hingga akhirnya dia meminta izin pada perajin untuk mengambil artefak tersebut.

"Pada waktu di Mojokerto, itu saya awalnya bikin baksos kepada masyarakat hasil tiap akhir pekan, membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan medis dan obat-obatan secara gratis karena waktu itu belum ada BPJS. Ternyata masyarakat antusias. Sekali kita baksos di Mojokerto, Jombang, Pasuruan, sekitaran Lamongan dan Surabaya, itu yang hadir 300 hingga 400 orang," terang Kombes Tri.

"Dalam baksos itu saya melihat loh itu perajin batu bata atau linggah, mecahin artefak-artefak, pecahannya diambil buat semen. Kan sayang banget, eman banget. Akhirnya saya minta ke mereka semua artefak lalu saya ganti dengan mahar. Banyak banget artefak Majapahit itu, sampai kita evakuasi kita simpan," lanjut dia.

Dia pun menjelaskan museumnya fokus pada seni budaya pascakemerdekaan. Ini merupakan cara Kombes Tri menunjukkan nasionalismenya.

"Museum-museum kita ini bertemakan kemerdekaan, yakni Indonesia-sentris, atau mengumpulkan benda-benda seni budaya asli Indonesia. Beberapa museum di Indonesia masih berbau kolonial, seolah-olah Bumiputera nomor dua, nah saya tidak mau begitu. Jadi museum yang saya dirikan bertemakan kamardikan," ucap Kombes Tri.

Kombes Tri juga menampung keris-keris buatan empu di para empu di Desa Aeng Tong-tong, Sumenep, Madura. Kombes Tri menyampaikan harapan para empu agar puluhan bahkan ratusan tahun mendatang, keris-keris tersebut menjadi media generasi masa depan belajar seni budaya bangsa Indonesia.

"Kalau masing-masing empu bikin keris, itu rasanya saya harus nambah satu museum lagi. Mereka ingin karya-karya mereka diabadikan agar generasi masa mendatang tahu kita punya budaya sendiri yang Indonesia-sentris," ujar Kombes Tri.

Museum Ganesya Malang dan koleksi bersejarah di dalamnya.Foto: Museum Ganesya Malang. Muhammad Aminudin/detikJatim)

Sumber Dana Pengelolaan Museum

Kombes Tri mengaku sumber dana untuk mengelola museum berasal dari pembelian tiket masuk. Ada juga yang berasal dari dana corporate social responsibility (CSR). Harga tiket masuk museum yang dikelolanya Rp 25.000 per orang.

"Kita kan mendirikan museum karena hobi, dapat atau nggak dapat penghargaan sebenarnya bukan itu yang dikejar. (Sumner dana pengelolaan museum dari) tiket masuk museum yaitu Rp 25.000. Hasil penjualan tiket museum itu khusus untuk operasional, walaupun untuk bayar pegawai kadang masih kurang," kata Kombes Tri.

Kekurangan biaya operasional itulah yang mendorong Kombes Tri untuk membuka silaturahmi, salah satunya ke pengusaha setempat. "Caranya mencukupi ya banyak kerja sama dengan instansi atau stakeholders terkait, kita tidak bisa jadi superman," tuturnya.

Salah satu contoh adalah biaya perawatan Museum Gubuk Wayang, yang sebagian berasal dari dana CSR. Selam acara mendapatkan CSR sesuai prosedur dan tak menyalahi aturan, atau bersinggungan dengan statusnya sebagai polisi, Kombes Tri menilai sah-sah saja.

"Museum Gubuk Wayang sudah jadi cagar budaya Mojokerto, biaya perawatan ada juga yang dari CSR. Nah ini menarik, kita berupaya bagaimana bahan baku wayang kulit yang kita pakai berperikehewanan, karena aktivis di luar negeri bilang kalau pakai kulit hewan tidak berperikehewanan. Bikinlah kita wayang dari sak atau bungkus semen, itu kan limbah tapi anti-air jadi kita kelola," terang Kombes Tri.

Melihat Museum Srimulat di BatuFoto: Melihat Museum Srimulat di Kota Batu., (M Bagus Ibrahim/detikJatim)

Dengan membantu mengolah limbah sak semen, pihak museum mendapat CSR dari perusahaan semen. "Kita press 9 sampai 10 sak semen, itu jadilah bahan yang kuat untuk wayang kulit. Itu kita dapat CSR limbah dari perusahaan semen," sambung Kombes Tri.

Kombes Tri mengatakan pengolahan limbah industri untuk karya seni budaya sangat memungkinkan. Sehingga dalam kesempatan ini, Kombes Tri pun terbuka menjalin kerja sama dengan para pengusaha yang kesulitan mengolah limbah.

"(Bahan baku wayang kulit dari limbah sak semen) itu hanya satu contoh kita Kelola. Maka pengusaha-pengusaha atau perusahaan yang kesulitan mengelola limbah dan hendak menyalurkan CSR-nya, bisa kita bantu," ujar Kombes Tri.

"Untuk melestarikan budaya, kita nggak bisa bekerja sendiri. Kita butuh dukungan pemerintah pusat, daerah, stakeholders terkait. Kita tidak bisa sendiri dalam mewujudkan cinta kebudayaan Tanah Air ke generasi muda, maka harus ada kebersamaan," imbuh dia.

Museum Ramai Pengunjung, Sanggar Tari Padat Undangan

Kombes Tri mengatakan dirinya bersyukur karena museum-museum yang diinisiasinya bersama komunitas sipil pecinta budaya telah dikenal luas. Seperti Museum Gubuk Wayang yang dijadikan rujukan studi mahasiswa Fakultas Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur (Jatim).

"Didatangi 198 mahasiswa Fakultas HI Unair untuk kegiatan perkuliahan di museum kami. Mahasiswa-mahasiswa luar juga, orang luar negeri suka juga dengan budaya kita," cerita Kombes Tri.

Undangan untuk menggelar pertunjukan wayang potehi, tari Ramayana juga datang dari luar negeri. Taman Ismail Marzuki Jakarta Pusat (Jakpus) menjadi lokasi yang akrab baginya.

"Kami beberapa kali diundang ke luar negeri, misalnya untuk Tari Ramayana di India. Warga India mau lihat Tari Ramayana versi Indonesia, dan itu semua dibiayai yang mengundang. Lalu ada pihak di Thailand suka mengundang kita untuk main Wayang Potehi, lalu Singapura juga mengundang. Taman Mini, TIM sering melibatkan kita dalam pertunjukan tari," sebut Kombes Tri dengan bangga.

Sosoknya yang lekat dengan pelestarian budaya, lanjut Kombes Tri, sempat membuat salah satu jenderal Polri bertanya soal manfaat kebudayaan terhadap Polri. Kombes Tri menyebut budaya telah yang membuat dirinya menyatu dengan masyarakat, dan meninggalkan Kesan masyarakat dapat berinteraksi dengan gaya komunikasi yang bebas dengan seorang polisi.

"Ada jenderal tanya apa korelasi saya dengan budaya, apa feedback-nya untuk Polri? Saya jawab manfaatnya banyak, kenapa saya ke mana-mana bicara budaya pakai seragam polisi. Agar polisi disebut baik. Pendekatan melalui budaya itu luwes, tidak kaku. Misalnya saya pakai seragam, saya tetap bisa merangkul anak-anak tanpa mereka merasa takut karena saya punya Boneka Unyil. Lalu kami juga punya sanggar tari, isinya anak-anak muda SMP dan SMA," terang Kombes Tri.

Kombes Tri Suhartanto, polisi pelestari budaya kelola 5 museum dan 18 sanggar tari.Kombes Tri Suhartanto, polisi pelestari budaya kelola 5 museum dan 18 sanggar tari. Foto: dok. istimewa

Dia menceritakan lebih lanjut ketika dicecar oleh salah satu narasumber dalam sebuah acara diskusi kebudayaan. Di acara tersebut, Kombes Tri juga hadir sebagai narasumber.

"Saya pernah diundang menjadi narasumber untuk acara budaya. Tapi pertanyaannya tentang polisi, 'Pak polisi bagaimana kiat-kiat supaya aksi-aksi keributan, kericuhan yang kompleks bisa diantisipasi atau ditanggulangi?'. Saya bilang sebetulnya saya datang ke acara budaya ini untuk memberi materi soal budaya kepada yang hadir, tapi karena ada pertanyaan itu, jawaban saya, 'Salam budaya. Budaya menyatukan bangsa," pungkas dia.

(aud/knv)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |