Kisah Perjuangan Eka dan Warda Bangun Usaha dengan Pinjaman Modal BRI

6 hours ago 6

Jakarta -

Eka Sinta Febriana tampak sibuk melayani pembeli pada malam takbiran Idul Adha. Di lapak kuliner rumahan miliknya, ia membakar menu makanan untuk disajikan kepada pelanggan yang datang.

Cara berkomunikasi Eka yang hangat membuatnya dekat dengan anak-anak yang datang ke depan rumahnya. Interaksi yang santai dengan pembeli itu menjadi salah satu daya tarik yang membuat usaha kuliner Eka ramai didatangi warga.

Di sela-sela melayani para pembeli, Eka bercerita panjang mengenai perjalanan usahanya yang dimulai sejak beberapa tahun lalu. Perempuan berusia 32 tahun itu awalnya merintis usaha kue kering pada 2022.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Usahanya sempat berjalan cukup baik dengan pesanan yang datang lewat promosi melalui WhatsApp. Saat itu, Eka mengajukan pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp 15 juta.

Namun dalam perjalanannya, usaha kue kering itu menemui kendala sehingga akhirnya berhenti total. Sampai akhirnya, Eka memutar otak agar bisa tetap menambah penghasilan keluarganya.

"Akhirnya minjem lagi KUR. Kita pinjam lagi buat modal, tapi kita ganti usaha lagi," kata Eka saat ditemui detikcom di rumahnya di kawasan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, (26/5/2026).

Ia kemudian mengajukan pinjaman KUR BRI yang kedua senilai Rp 23 juta. Dari modal itu, Eka membuka usaha kuliner dengan beragam menu bakaran, makanan ringan hingga minuman.

Usaha aneka bakaran itu mulai buka setiap hari mulai pukul 17.00 hingga 21.00 WIB. Selain melayani pembeli yang datang langsung, dagangan milik Eka juga bisa dipesan secara online melalui gerai bernama Aneka Bakaran Mom's Alya.

UMKM di Kebagusan Jakarta SelatanEka mengelola lapak kuliner rumahan (Foto: Kanavino/detikcom)

Dampak Ekonomi

Usaha kuliner rumahan milik Eka kini mampu menghasilkan keuntungan kotor sekitar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu per hari. Pendapatan tersebut digunakan kembali untuk modal usaha dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Alhamdulilah tercukupi, namanya jualan kan, kadang sepi kadang ramai, alhamdulillah cukup. Udah gitu kan orderan dari Gojek juga alhamdulillah. Jadi bisa nutup deh," kata Eka.

Para pelanggan usaha aneka bakaran milik Eka mayoritas merupakan warga setempat. Pesanan online juga bisa banyak dalam setiap harinya.

"Kalau dari online lebih dari 20 ojek," ujar Eka.

Eka dibantu oleh suami dalam mengelola usaha kulinernya ini, terutama saat pesanan sedang ramai di akhir pekan.

"Jumat sampai malam Minggu tuh paling ramai," imbuh dia.

Lapak kuliner milik Eka ini menarik banyak pengunjung, salah satunya karena ada fasilitas karaoke. Warga biasanya datang ramai-ramai untuk sekadar nongkrong di tempat Eka.

"Soalnya kan banyak anak-anak kos di sini gitu. Via WhatsApp entar ambil gitu, pada nongkrong, ada karaoke juga soalnya," ujar Eka.

Rencananya Eka ingin terus mengembangkan usaha tersebut. Ke depan, ia berharap bisa membuka cabang sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

"Iya pengennya tambah lagi, pengen kita pengen buka cabang," ujar Eka.

Ia merasa sangat terbantu dengan adanya modal KUR BRI. Pendapatan keluarga menjadi bertambah setelah Eka membuka usaha kuliner rumahan.

"Alhamdulillah sangat membantu terutama buat modal. Karena modal perlu banget, penting gitu kan untuk usaha kita. Apalagi buat tambah-tambah sehari-hari, jajan anak-anak," kata Eka.

Cerita Warda Ajukan KUR

Cerita mengenai manfaat KUR BRI dalam membantu pengembangan usaha juga dirasakan oleh warga lainnya bernama Warda Royani. Ia mengajukan pinjaman KUR BRI senilai Rp 25 juta pada 2016 lalu untuk menambah modal usaha toko sembako yang dibukanya di rumah.

Saat itu, Warda membutuhkan modal dari total kebutuhan usaha sekitar Rp 70 juta. Dana pinjaman tersebut digunakan untuk menambah stok kebutuhan dagangan, seperti tabung gas dan galon air minum.

"Dampaknya kalau selama uang itu kita pinjam untuk usaha, alhamdulillah bisa diputerin," kata Warda saat ditemui terpisah.

Usaha yang dikelola Warda itu sempat berjalan cukup lama. Namun pandemi COVID-19 membuat usaha toko sembako tersebut menurun hingga akhirnya ditutup.

UMKM di Kebagusan Jakarta SelatanWarda Royani (Foto: Kanavino/detikcom)

Beberapa tahun kemudian, Warda kembali mengajukan pinjaman ke BRI, namun kali ini masuk ke program Kupedes. Pinjaman uang senilai Rp 30 juta digunakan untuk merenovasi kontrakan dan membiayai anak sekolah.

Selain memiliki usaha kontrakan, Warda saat ini menjual berbagai macam makanan di kantin sekolah. Modal usahanya ini berasal dari uang pribadi.

Warda mengatakan pemasukan bersih dari usaha jualan makanan di kantin sekolah bisa mencapai Rp 150 ribu per hari. Ia bersyukur pendapatan itu bisa menambah kebutuhan ekonomi keluarganya.

"Sebenarnya kalau full hari-hari biasa gitu, dari kelas 3 sampai kelas 1 masuk, ya alhamdulillah sehari itu kita bisa kantongin uang Rp 450 ribu, Rp 400 ribu. Ya dihitung-hitung kalau pemasukan bersih kita, ya dapatlah 150 sehari bersih," kata Warda.

Warda menyampaikan pemasukan utama keluarga berasal dari usaha kontrakan. Sedangkan hasil jual makanan di kantin sekolah digunakan untuk kebutuhan harian dan tambahan uang jajan keluarga.

Ia mengaku memilih BRI karena proses pengajuan pinjaman yang menurutnya terbilang cepat dan mudah. Selain itu, menurut Warda, bunga cicilan KUR juga dinilai cukup ringan bagi para pelaku usaha.

"Terus kayak misalkan yang Kupedes ini, itu juga istilah kata tuh gini, bagi saya enggak terlalu sulit lah. Nggak terlalu sulit prosedurnya. Mudah-mudah aja. Mungkin juga, mungkin dilihat dari BI checking saya juga memang enggak pernah ada ketelatan," ujar Warda.

Ia mengatakan setiap pinjaman dari bank selalu diputar agar menghasilkan uang kembali. Ia bersyukur usahanya itu memberikan dampak bagi kebutuhan sehari-hari.

"Saya nggak mikir untungnya berapa, yang penting tiap hari itu kalau kita puterin pasti ada untungnya dong. Memang nggak banyak, tapi untuk kita hari-hari alhamdulillah ada," ujar Warda.

Dukungan BRI ke UMKM

Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus, menyambut positif atas perkembangan UMKM di wilayahnya. Ia menegaskan komitmen BRI untuk selalu memajukan UMKM di Indonesia.

"Tentunya kami sangat bersyukur apabila dari pelaku-pelaku UMKM yang menikmati pembiayaan atau modal kerja, untuk usahanya dari Bank BRI. Saya turut bersyukur dan bangga," ujar Arbi saat ditemui di kantornya.

Pimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus ArbifirdausPimpinan Cabang BRI Pasar Minggu, Yanuar Akademikus Arbifirdaus (Foto: Kanavino/detikcom)

Ia juga menyampaikan bahwa BRI akan terus mempermudah transaksi keuangan bagi para pelaku UMKM melalui layanan BRImo, QRIS BRI dan produk BRI lainnya. Saat ini, menurut Arbi, ada dua kantor cabang pembantu, tiga kantor kas, dan delapan unit yang berada di bawah BRI kantor cabang Pasar Minggu.

Ia berharap BRI bisa terus membantu masyarakat dengan penyaluran KUR. Selain itu, warga yang mendapatkan pinjaman modal tersebut diharapkan terus bisa meningkatkan usahanya ke level yang lebih tinggi.

"Tentunya ini jadi harapan kita semua. Kita bisa menyalurkan khususnya KUR, ke pelaku usaha UMKM ini untuk apa? Men-generate kemampuan usaha pelaku UMKM itu sendiri. Dengan bertambahnya modal, atau dia dengan kredit investasi buka tempat baru, sehingga bisa memperluas usaha dan memajukan usaha dari pelaku-pelaku UMKM," ujar Arbi.


(knv/knv)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |