Jakarta, CNBC Indonesia - Industri mobil otomatis tanpa sopir (Autonomous Vehicles/AV) membawa tren taksi tanpa sopir (robotaxi) yang mulai meluas. Mulanya dikembangkan perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS) dan China, ekspansinya sekarang mulai meluas ke Timur Tengah dan Asia.
Namun, industri AV dan robotaxi masih memiliki hambatan regulasi yang berbeda-beda di setiap negara, utamanya menyorot soal keamanan penumpang.
Sejak kemunculan robotaxi, raksasa teknologi diwajibkan untuk terlebih dahulu melakuka uji coba sebelum diluncurkan secara komersil. Dalam masa uji coba, kerap muncul berita soal AV dan robotaxi yang tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas, hingga tabrakan dan kecelakaan karena sistem yang belum sepenuhnya 'canggih'.
Terbaru, Waymo yang merupakan anak usaha Alphabet (Google) dilaporkan mengalami insiden serius. Waymo merupakan salah satu perusahaan robotaxi yang sudah mendapat izin komersil dan meluncurkan layanannya di beberapa negara bagian AS.
Seorang penumpang Waymo dilaporkan terpaksa melompat ke luar gara-gara robotaxi tersebut berhenti tepat di jalur rel kereta api. Ia harus melompat karena ada kereta api tepat di belakangnya yang sedang melaju.
Jika tak lompat, bisa jadi penumpang tersebut tak bisa selamat dari insiden tabrakan. Insiden ini terjadi di Phoenix selatan pada Rabu (7/1) pagi pekan lalu, waktu setempat, dilaporkan 12 News, dikutip dari Complex, Selasa (13/1/2026).
Penumpang tersebut dengan cepat meninggalkan mobil setelah sebuah kereta api ringan berbelok di belakangnya. Robotaxi tersebut mencoba bergerak maju di sepanjang rel dan kemudian tampak sedikit mundur.
Video yang direkam oleh masyarakat sekitar viral di media sosial dan telah ditonton lebih dari 5,5 juta kali di TikTok. Polisi Phoenix mengatakan pihaknya menerima telepon terkait insiden tersebut, tetapi unit Waymo telah pergi ketika petugas sampai di lokasi.
Dilaporkan pula bahwa tak ada gangguan pada jalur kereta api, sehingga Waymo seharusnya bisa terus berjalan dan tidak berhenti tepat di rel tersebut.
Andrew Maynard, progesor di Arizona State University yang mengajar tentang teknologi canggih, mengatakan kepada 12 News bahwa situasi seperti itu memang bisa saja terjadi, tetapi jarang.
"Manusia sangat pandai melihat situasi baru dan mencoba mencari cara untuk mengatasinya. Waymo tidak memiliki kemampuan itu," katanya.
"Mereka lebih pintar daripada manusia untuk mengenal jalan, tetapi mereka bingung ketika berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar," ia menambahkan, dikutip dari Complex.
Ia mencatat bahwa area tersebut dikelilingi oleh pembangunan dan stasiun kereta ringan dibangun dalam setahun terakhir, yang mungkin berkontribusi pada insiden tersebut.
"Mobil-mobil itu dengan sengaja mengikuti jalan yang sudah dipetakan. Mereka bagus jika, misalnya, ada pekerjaan perbaikan jalan di sana, tetapi tidak begitu bagus jika ada perubahan struktural pada tata letak jalan," jelas Maynard.
"Waymo akan bereaksi sangat cepat jika mereka melihat masalah seperti ini. Mereka akan memeriksa software, mencari tahu di mana letak bug-nya, di mana mereka perlu memperbaruinya, dan mereka akan segera merilis pembaruan tersebut," ia menambahkan.
Insiden tersebut terjadi pada area yang baru saja diperbarui, sebagai bagian dari penambahan jalur kereta api di Valley Metro, Phoenix. Jalur ini baru dibuka pada pertengahan tahun lalu, setelah bertahun-tahun dibangun.
Insiden ini kembali mengingatkan pentingnya pengembangan robotaxi yang benar-benar memprioritaskan keselamatan penumpang, sebelum dirilis ke pasar. Pasalnya, eror sedikit saja di jalanan, taruhannya merupakan nyawa manusia.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

















































