KemenPPPA Beri Perlindungan Psikologis Ibu-Nenek Usai Anak SD Bunuh Diri di NTT

2 hours ago 1

Jakarta -

Informasi terkait bunuh diri dalam artikel ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, mengatakan kasus pelajar kelas IV SD YBR (10) di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) bunuh diri mengingatkan semua pihak bahwa perlindungan terhadap anak belum dipenuhi. Arifah berbicara ada beberapa faktor penyebab anak itu mengakhiri hidupnya.

"Bagi kami dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ini mengingatkan kita semua bahwa perlindungan terhadap anak belum sepenuhnya bisa kita penuhi karena terjadinya peristiwa ini. Namun, peristiwa ini bukan merupakan satu faktor penyebab saja. Saya kira ini banyak faktor-faktor pendukung di belakangnya sehingga kenapa anak ini melakukan hal-hal yang menurut kami ini di luar apa ya, di luar dugaan," kata Arifah kepada wartawan, Kamis (5/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arifah mengaku sudah mendapatkan informasi mengenai latar belakang keluarga YBR dari dinas terkait. Kata Arifah, orang tua YBR berpisah ketika YBR masih dalam kandungan, dan sang ibu sudah menikah tiga kali.

"Karena begini, kalau kami sudah melakukan koordinasi dengan Dinas Provinsi dan Kabupaten, Dinas P3A, beberapa informasi yang kami temukan adalah bahwa si Ananda ini memang orang tuanya berpisah ketika masih dalam kandungan. Kemudian si Ibu ini menikah sudah tiga kali," ungkapnya.

Almarhum YBR mempunyai empat saudara. Ada dua kakak YBR yang juga tidak melanjutkan sekolah hanya sampai tingkat SD.

"Jadi punya empat saudara. Yang dua sudah dewasa, sudah bekerja, kemudian yang dua itu 17 tahun, itu juga tidak melanjutkan sekolah, hanya lulus SD. Kemudian yang kedua kakaknya umur 14 tahun perempuan juga tidak melanjutkan sekolah, hanya sampai tingkat SD," katanya.

Arifah mengatakan Dinas PPPA Kabupaten telah melakukan pendampingan psikologis terhadap ibu dan nenek YBR. Arifah menyebut pendampingan itu untuk mengantisipasi adanya trauma akibat kejadian itu.

"Kemudian dari Dinas PPPA Kabupaten juga sudah berkunjung ke lokasi dan mencoba melakukan pendampingan dengan apa ya, pendekatan secara psikologis. Khawatir ada dampak atau trauma yang dialami oleh ibu, kemudian nenek, dan juga dua saudaranya," katanya.

"Tetapi informasi yang kami dapatkan karena di lokasi tersebut belum memiliki psikolog klinis, sehingga ini alternatifnya adalah dirujuk ke kabupaten/kota terdekat yang memiliki psikolog klinis atau mendatangkan psikolog klinis ke daerah tersebut. Ini salah satu yang sudah kami lakukan pendampingan," imbuhnya.

Lebih lanjut, Arifah mengatakan pihaknya sudah melihat bahwa keluarga YBR ini masuk dalam kategori keluarga tidak mampu. Kejadian ini, kata Arifah, menjadi introspeksi bersama untuk bisa memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.

"Kemudian kalau kita lihat secara keseluruhan keluarga ini adalah keluarga yang bisa dikatakan keluarga tidak mampu, sehingga ini menjadi perhatian kita bersama bagaimana dari seluruh stakeholder yang ada, ini mari bersama-sama untuk memberikan layanan-layanan terbaik bagi masyarakat yang membutuhkan dan seharusnya memang mendapatkan sapaan dan layanan dari kita selaku pemerintah," katanya.

"Ini menjadi introspeksi kita bersama supaya bisa saling menguatkan, men-support untuk bisa memberikan layanan kepada masyarakat," imbuhnya.

Siswa SD Tewas Gantung Diri

Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV sekolah dasar (SD) yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban menulis sosok ibunya dalam surat itu.

Surat itu ditulis YBR menggunakan bahasa daerah Bajawa. Satu baris surat itu berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya. Dalam surat itu, YBR menyebut ibunya pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan kepada ibunya.

Lihat juga Video 'Polisi Kirim Tim Psikolog Dampingi Keluarga Siswa SD yang Bunuh Diri':

(whn/dhn)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |