Kebijakan Purbaya, AS dan China: 9 Isu Penentu Arah Pasar RI Hari Ini

2 hours ago 1
  • Pasar Keuangan Indonesia dakhirnya kompak berakhir di zona hijau, IHSG dan rupiah sama-sama menguat
  • Wall Street ambruk lagi
  • Rilis laporan SULNI, pergerakan DXY, dan nilai tukar Rupiah berpotensi menjadi penggerak pasar kemarin

Jakarta, CNBC Indonesia -  Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona hijau kemarin, Rabu (14/1/2026). Pasar saham dan nilai tukar akhirnya sama-sama menguat untuk pertama kalinya pada tahun ini.

Pasar keuangan Indonesia diharapkan kompak membaik pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level resistance 9.000. Pada akhir perdagangan sesi kedua kemarin, Rabu (14/1/2026), indeks melesat 0,94% atau menguat 84,28 poin ke level 9.032,58.

Ini merupakan rekor harga penutupan perdagangan tertinggi IHSG dan untuk pertama kalinya berhasil ditutup di atas level psikologi 9.000.

Sebanyak 440 saham naik, 240 turun, dan 128 stagnan. Nilai transaksi kemarin terbilang ramai, mencapai Rp 29,30 triliun, melibatkan 64,37 miliar saham dalam 3,43 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun kini menyentuh level Rp 16.459 triliun atau nyaris mencapai US$ 1 miliar.

Tercatat ada enam saham yang ramai diserbu dan menjadi incaran investor kemarin, yakni Bumi Resources (BUMI), Aneka Tambang (ANTM), GoTo Gojek Tokopedia (GOTO), Merdeka Battery Materials (MBMA), Archi Indonesia (ARCI) dan Darma Henwa (DEWA).

Transaksi di lima saham tersebut secara total mencapai Rp 12 triliun atau merepresentasikan lebih dari dua pertiga total nilai perdagangan kemarin.

BUMI, ANTM dan GOTO kompak menguat pada sesi pertama kemarin seiring dengan aksi beli investor. BUMI tercatat naik 2,96% ke level 418 dan ANTM 5,93% ke level 4.110 dan GOTO naik 5,97% ke Rp 71 per saham.

Mayoritas sektor perdagangan menguat dengan apresiasi terbesar dicatatkan oleh sektor infrastruktur dan konsumer non primer, sedangkan hanya sektor properti dan finansial yang terkoreksi kemarin.

Saham emiten konglomerat kompak menjadi penopang kinerja IHSG kemarin, setelah dua haru diperdagangkan secara volatil. Saham BREN Grup Barito milik Prajogo Pangestu, DSSA dan MORA Grup Sinar Mas serta BRMS dan BUMI Grup Bakrie kompak menjadi penopang kinerja IHSG.

Diketahui, aliran dana asing kembali masuk ke pasar modal Tanah Air sepanjang sesi 1 kemarin, Rabu (14/1/2026). Asing tercatat melakukan pembelian Rp 4,9 triliun dan penjualan Rp 4,2 triliun, sehingga asing membukukan net buy Rp 712,3 miliar.

Berdasarkan data perdagangan, saham komoditas menjadi incaran asing. Archi Indonesia (ARCI) menjadi saham dengan net buy terbesar, yakni Rp 235,4 miliar. Seiring dengan hal tersebut, saham ARCI naik 11,11% ke level 1.950 sepanjang sesi 1.

Kemudian Antam (ANTM) juga menjadi saham dengan net buy yang cukup besar, yakni Rp 186,6 miliar. Saham ANTM terkerek 5,41% ke level 4.090.

Lanjut ke nilai tukar Rupiah, nilai tukar rupiah berbalik menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan kemarin, Rabu (14/1/2026).

Melansir data Refinitiv, rupiah Garuda ditutup di level Rp16.855/US$ atau menguat tipis 0,03%. Penguatan ini terjadi setelah rupiah hampir sepanjang perdagangan bergerak di zona pelemahan, dengan rentang pergerakan di kisaran Rp16.850-Rp16.872 per dolar AS.

Penguatan tersebut sekaligus menandai pertama kalinya rupiah berhasil ditutup menguat sejak awal 2026. Dengan demikian, rupiah mematahkan tren pelemahan yang sebelumnya berlangsung selama delapan hari perdagangan berturut-turut.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau tengah mengalami sedikit pelemahan dengan tertekan tipis 0,02% di level 99,119. Meski demikian, secara tren DXY masih menunjukkan tren penguatan dengan hampir mendekati level psikologisnya di 100.

Pergerakan rupiah yang mampu berbalik menguat terjadi meskipun dolar AS masih berada di level relatif tinggi. Hal ini mengindikasikan adanya respons pasar terhadap langkah-langkah stabilisasi, serta persepsi bahwa tekanan global mulai diimbangi oleh faktor domestik.

Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi yang dijalankan secara berkelanjutan, baik melalui intervensi di pasar off-shore maupun domestik.

Di tengah meningkatnya tensi geopolitik dan ketidakpastian arah kebijakan moneter global, langkah tersebut dinilai mampu menahan volatilitas rupiah agar tetap bergerak sejalan dengan fundamental ekonomi.

Sementara dilihat dari pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun Indonesia menanjak cukup signifikan. Imbal hasil merangkak ke 6,24% kemarin dari 6,12% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang menanjak menandai harga SBN yang turun karena dijual investor.

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |