- Pasar keuangan Indonesia berakhir beragam, saham menguat sementara rupiah stagnan
- Wall Street ambruk berjamaah karena memanasnya perang
- Perkembangan perang dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar keuangan hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia ditutup beragam pada perdagangan kemarin. Bursa saham menguat sementara nilai tukar rupiah stagnan.
Pasar keuangan Indonesia hari ini diperkirakan menghadapi banyak tekanan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen pasar keuangan hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan kemarin, Selasa (1/9/2026) dengan penguatan signifikan. Indeks berhasil menembus level 6.600 meski sempat bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan.
IHSG ditutup naik 74,46 poin atau 1,14% ke level 6.599,94. IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.608,18 dan terendah 6.535,80. Penguatan IHSG ditopang oleh mayoritas saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan indeks dengan sumbangan 13,98 poin, disusul PT Bank Central Asia (BBCA) sebesar 9,39 poin dan PT Bank Mandiri (BMRI) sebesar 7,82 poin.
Penguatan juga tercermin dari pergerakan sektoral. Sektor konsumer non-primer menjadi sektor dengan kenaikan terbesar, yakni 3,08%, diikutiutilitas 2,68%, energi 1,98%, dan finansial 1,96%. Sementara itu, hanya dua sektor yang bergerak di zona merah, yakni teknologi yang turun 1,7% sertabahan baku yang melemah 0,53%.
Sebanyak 407 saham menguat, 215 saham melemah, dan 169 saham stagnan.
Investor asing mencatatkan net buy sebesar Rp2,03 triliun di seluruh pasar pada perdagangan kemarin.
Aktivitas perdagangan juga cukup tinggi dengan volume mencapai 59,7 miliar saham, nilai transaksi sekitar Rp20,7 triliun, serta frekuensi sebanyak 2,65 juta kali.
BBRI menjadi saham yang paling banyak diborong asing dengan net buy Rp838 miliar, disusul BBCA Rp435,4 miliar dan BMRI Rp172,3 miliar.
Dari pasar mata uang, nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan hari ini dengan bergerak stagnan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda mampu bertahan meski indeks dolar AS menguat sepanjang perdagangan Asia.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Selasa (1/9/2026), rupiah stagnan di posisi Rp17.710/US$ atau tidak berubah dari penutupan Senin (31/8/2026). Adapun, sepanjang perdagangan rupiah bergerak cukup stabil di rentang level Rp17.699-Rp17.730 per dolar AS.
Dari pasar obligasi, imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 6,99%.


















































