Jenazah Khamenei Disemayamkan, 20 Juta Orang Diperkirakan Hadir

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Jenazah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei disemayamkan di Masjid Agung Mosalla, Teheran, pada Jumat waktu setempat. Prosesi tersebut menjadi awal rangkaian pemakaman selama beberapa hari yang diperkirakan berubah menjadi demonstrasi besar perlawanan Iran terhadap Barat.

Melansir Wall Street Journa, Otoritas Iran memperkirakan lebih dari 20 juta orang akan menghadiri rangkaian upacara yang dimulai Sabtu hingga enam hari ke depan. Khamenei diketahui tewas bersama sejumlah anggota keluarganya dalam gelombang pertama serangan udara Israel dan Amerika Serikat ke Teheran lebih dari empat bulan lalu.

Menjelang dimulainya prosesi, sejumlah pejabat asing hadir untuk memberikan penghormatan terakhir. Di antaranya Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev dan Wakil Ketua badan legislatif tertinggi China He Wei, serta perwakilan dari Pakistan, Irak, India, Turki dan sejumlah negara lainnya.

Media pemerintah Iran menayangkan lima peti jenazah sederhana yang dibalut bendera Iran di dalam masjid tersebut. Salah satunya merupakan peti kecil yang berisi jenazah cucu perempuan Khamenei yang masih berusia satu tahun dan disebut turut tewas dalam serangan udara tersebut.

Pemerintah Iran berupaya memanfaatkan mobilisasi massa dalam pemakaman ini untuk memperkuat dukungan publik di tengah gencatan senjata yang masih rapuh dengan Amerika Serikat. Konflik yang berlangsung selama berbulan-bulan sebelumnya telah menimbulkan kerusakan besar di berbagai wilayah Iran.

Seorang penerjemah bernama Hossein Ansari yang berencana menghadiri pemakaman terakhir di Kota Mashhad pada 9 Juli mengatakan kerumunan besar akan menjadi pesan bagi dunia. Menurutnya, kehadiran jutaan orang menunjukkan bahwa banyak warga Iran tetap menghormati Khamenei meski tidak semuanya religius.

Beberapa hari sebelum pemakaman, banyak toko di Teheran tutup dan area parkir pusat perbelanjaan dipenuhi kendaraan pengunjung. Warga dari berbagai daerah berdatangan ke ibu kota untuk mengikuti rangkaian penghormatan terakhir tersebut.

Pemakaman pendahulu Khamenei, Ayatollah Ruhollah Khomeini, pada 1989 pernah dihadiri sekitar 10 juta pelayat. Acara tersebut bahkan sempat memicu kekacauan ketika aparat hampir kehilangan kendali atas peti jenazah Khomeini akibat membludaknya massa.

Prosesi pemakaman di Teheran akan berlangsung selama tiga hari dengan sebagian wilayah udara ibu kota ditutup sementara. Setelah itu jenazah akan dipindahkan ke Kota Qom pada Selasa sebelum dibawa ke Najaf dan Karbala di Irak pada Rabu.

Najaf dan Karbala merupakan dua kota suci Syiah yang memiliki hubungan erat dengan Iran. Khamenei kemudian dijadwalkan dimakamkan pada Kamis di kota kelahirannya, Mashhad, yang berada di wilayah timur Iran.

Pemerintah Iran hingga kini belum mengumumkan apakah Mojtaba Khamenei, putra sekaligus penerus Khamenei, akan muncul dalam rangkaian upacara tersebut. Mojtaba dilaporkan mengalami luka dalam serangan yang menewaskan ayah, istri, dan sejumlah kerabatnya dan belum terlihat di depan publik sejak saat itu.

Perlawanan terhadap musuh asing telah lama menjadi bagian penting dari ideologi Republik Islam Iran selama hampir lima dekade terakhir. Negara itu lahir dari Revolusi Islam 1979 yang bernuansa anti-Barat dan kemudian memperkuat kekuasaannya melalui perang delapan tahun melawan Irak.

Tokoh senior Iran sekaligus kepala negosiator saat ini, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut pemakaman tersebut sebagai pembaruan sumpah bangsa terhadap jalan para syuhada. Ia juga mengatakan prosesi itu menjadi pengingat atas nilai-nilai Revolusi Islam yang menjadi fondasi negara.

Di Teheran, berbagai poster besar bergambar Khamenei dipasang menjelang pemakaman. Sejumlah warga menyebut Khamenei akan dikenang karena gaya hidup sederhana serta upayanya memperkuat kedaulatan dan kemampuan militer dalam negeri Iran.

Seorang warga perempuan mengatakan warisan politik Khamenei adalah Iran-sentrisme dan perlawanan terhadap kekuatan besar dunia. Menurutnya, Khamenei selalu menekankan bahwa rakyat Iran harus menentukan masa depan mereka sendiri tanpa campur tangan pihak luar.

Meski demikian, Khamenei meninggalkan Iran yang selama puluhan tahun mengalami perpecahan tajam. Banyak generasi muda tumbuh di tengah represi politik dan kesulitan ekonomi sehingga memiliki pandangan negatif terhadap kepemimpinannya.

Associate Professor Johns Hopkins School of Advanced International Studies, Narges Bajoghli, mengatakan perang terbaru telah mengubah persepsi sebagian masyarakat terhadap Khamenei. Kemampuan Iran bertahan dari serangan dan memberikan tekanan kepada musuh dianggap sebagian warga sebagai pembenaran atas strategi garis keras yang selama ini diterapkannya.

Menurut Bajoghli, kematian Khamenei mengubah citranya dari sosok represif menjadi arsitek strategi yang dinilai berhasil menjaga keutuhan Iran menghadapi ancaman terbesar dalam sejarah modern negara tersebut. Namun ia menegaskan catatan domestik pemerintahan Khamenei tetap tidak bisa diabaikan.

Seorang mahasiswa berusia 23 tahun di Teheran menilai sejarah kemungkinan akan memperlakukan Khamenei lebih baik dibanding penilaian saat ini. Ia mengatakan masyarakat Iran cenderung mengagumi pemimpin yang mampu memperluas pengaruh negaranya di panggung internasional.

Meski popularitas Khamenei menurun dalam beberapa tahun terakhir, jutaan warga Iran yang didominasi kelompok konservatif tetap mendukung kepemimpinan ulama dan militer. Kelompok tersebut menilai kekuatan militer Iran menjadi salah satu pencapaian terbesar selama masa pemerintahannya.

Dalam beberapa hari terakhir, tokoh konservatif dan petinggi militer terus menyampaikan pidato anti-Israel dan anti-Amerika Serikat. Mereka menyebut persediaan rudal serta kemampuan drone Iran sebagai bagian penting dari warisan Khamenei.

Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menghadapi tekanan dari kelompok yang lebih moderat untuk memperoleh pencairan dana Iran yang dibekukan melalui negosiasi dengan Amerika Serikat. Namun pembicaraan tidak langsung yang berlangsung di Doha pekan ini gagal menghasilkan pelonggaran sanksi maupun pencairan dana baru.

Kegagalan itu terjadi setelah Iran menolak menyerahkan kendali atas Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia. Jalur tersebut berada di bawah pengaruh Korps Garda Revolusi Islam Iran yang kerap memiliki pandangan berbeda dengan pemerintah sipil.

Sejumlah analis menilai kebijakan garis keras Khamenei justru menjadi faktor yang pada akhirnya menyebabkan dirinya menjadi sasaran serangan. Direktur Timur Tengah Chatham House, Sanam Vakil, mengatakan kebijakan regional Iran yang dianggap destabilisatif memicu tindakan militer Israel terhadap negara tersebut.

Vakil menilai rezim Iran harus tetap menghormati warisan Khamenei selama proses pemakaman berlangsung. Namun ia mempertanyakan apakah pemerintah juga akan mempertahankan ide-ide lama Khamenei atau justru menggunakan momentum ini untuk mengubah arah kebijakan Iran di masa depan.

(fsd/fsd)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |