Jejak Berdarah Operasi Mossad: 5 Aksi Senyap yang Bikin Dunia Gemetar

4 hours ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

04 March 2026 02:30

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama Mossad kembali menjadi sorotan global setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026)..

Informasi intelijen yang dikumpulkan bersama Central Intelligence Agency (CIA) disebut menjadi kunci serangan udara Israel yang menghantam kompleks kepemimpinan di Teheran.

Operasi tersebut memperlihatkan bagaimana Mossad bekerja dalam senyap melacak pertemuan rahasia, menentukan waktu serangan, hingga memastikan target berada di lokasi.

Peran ini kembali mengingatkan dunia pada jejak panjang operasi rahasia Mossad yang selama puluhan tahun dikenal berani, presisi, dan sering kali kontroversial.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei bukan satu-satunya yang tewas dalam serangan Israel-AS. Kematian Khamenei menimbulkan kekosongan kepemimpinan dan beragam reaksi di Republik Islam tersebut.

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah "melenyapkan" sejumlah tokoh paling senior di bidang keamanan dan pertahanan Iran.

Selain Khamenei, para komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta pejabat yang terkait dengan program rudal dan nuklir Teheran.

Pada Minggu, 1 Maret 2026, IDF mengklaim telah menyerang dan melenyapkan 7 anggota pimpinan tertinggi keamanan Iran di Teheran serta 40 komandan senior.

Berikut daftar pejabat senior yang dilaporkan tewas dalam serangan Israel-AS sejak 28 Februari:

  1. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei

  2. Abdol-Rahim Mousavi, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran

  3. Mohammad Hossein Bagheri, mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran

  4. Hossein Salami, Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)

  5. Gholam Ali Rashid, Komandan Markas Pusat Khatam al-Anbiya (Komando Darurat)

  6. Amir Ali Hajizadeh, Komandan Angkatan Udara IRGC

Menurut sejumlah laporan, termasuk media Iran IRNA dan Tasnim News Agency, serta Al Jazeera, Israel juga mengklaim telah menewaskan tokoh-tokoh berikut:

  1. Ali Shamkhani, penasihat dekat Khamenei dan Perwakilan Pemimpin Tertinggi di Dewan Pertahanan Tertinggi

  2. Menteri Pertahanan Iran Amir Nasirzadeh

  3. Mohammad Raad, pimpinan faksi parlemen Hizbullah

  4. Mayor Jenderal Basij Shahid Mohammad Shirazi, kepala kantor Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata

  5. Jenderal Shahid Saleh Asadi, deputi bidang intelijen di Staf Umum Angkatan Bersenjata

Aksi Mossad Paling Gila Sepanjang Sejarah

Sepanjang sejarahnya, Mossad terlibat dalam berbagai operasi lintas negara, mulai dari penculikan tokoh buronan hingga pembunuhan target bernilai tinggi.

Nama Mossad selama puluhan tahun identik dengan operasi rahasia Israel di luar negeri.

Badan intelijen ini dikenal sebagai instrumen utama negara tersebut dalam mengumpulkan informasi strategis, menjalankan operasi khusus, serta melindungi kepentingan nasional Israel di berbagai wilayah dunia. Keberadaannya sering muncul ke permukaan setiap kali terjadi operasi sensitif yang melibatkan target bernilai tinggi atau wilayah negara lain.

Didirikan pada 1949, Mossad memiliki mandat luas yang mencakup pengintaian, kontra-terorisme, serta operasi khusus di luar negeri.

Nama resminya adalah HaMossad leModi'in uleTafkidim Meyuchadim, yang berarti Institut untuk Intelijen dan Operasi Khusus. Dalam praktiknya, aktivitas lembaga ini kerap bersinggungan dengan wilayah abu-abu hukum internasional, terutama ketika operasi dilakukan tanpa persetujuan negara tempat target berada.

Sejumlah operasi Mossad menjadi perhatian dunia karena metode yang digunakan memicu perdebatan hukum dan politik.

1. Operasi Finale, Penangkapan Adolf Eichmann (1960)

Perburuan terhadap Adolf Eichmann menjadi salah satu operasi paling terkenal dalam sejarah Mossad. Pada akhir 1959, Perdana Menteri Israel David Ben-Gurion memerintahkan kepala Mossad Isser Harel untuk menemukan dan menangkap tokoh Nazi tersebut.

Eichmann dikenal sebagai pejabat SS yang berperan penting dalam pelaksanaan Holocaust, termasuk pengaturan deportasi jutaan orang Yahudi ke kamp konsentrasi. Setelah Perang Dunia II berakhir, ia melarikan diri ke Amerika Selatan dan hidup dengan identitas palsu.

Agen Mossad akhirnya menemukan Eichmann di Argentina. Target ditangkap pada malam 11 Mei 1960 ketika ia turun dari bus dalam perjalanan pulang kerja. Operasi tersebut dilakukan secara diam-diam tanpa pemberitahuan kepada pemerintah Argentina, sehingga memicu protes diplomatik karena dianggap melanggar kedaulatan negara tersebut.

Selama beberapa hari, Eichmann disembunyikan di rumah aman sebelum dibawa keluar dari Argentina menggunakan pesawat maskapai nasional Israel yang disewa khusus. Ia diterbangkan ke Israel dengan menyamar sebagai awak pesawat.

Setelah tiba di Israel, pemerintah secara terbuka mengumumkan penangkapannya. Eichmann kemudian diadili di Yerusalem, dinyatakan bersalah atas berbagai kejahatan perang, dan akhirnya dihukum mati.

2. Operasi Damocles, Target Ilmuwan Program Rudal Mesir (1962)

Operasi lain yang banyak dibahas adalah Operasi Damocles, yang diarahkan untuk menghentikan pengembangan rudal Mesir pada awal 1960-an. Program tersebut mendapat perhatian serius Israel setelah Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mengumumkan keberhasilan uji coba rudal pada 1962.

Investigasi Israel menemukan bahwa proyek tersebut melibatkan sejumlah ilmuwan Jerman yang sebelumnya bekerja pada program persenjataan Nazi. Pemerintah Israel kemudian memerintahkan Mossad untuk menghentikan proyek tersebut dengan berbagai cara.

Pada tahap awal, Mossad mengirimkan ancaman dan tekanan terhadap ilmuwan serta pihak yang terlibat dalam pendanaan proyek. Informasi mengenai keterlibatan ilmuwan Jerman juga disampaikan kepada pemerintah Jerman Barat, yang kemudian mencoba menarik kembali sebagian tenaga ahli tersebut.

Ketika pendekatan tersebut dianggap tidak cukup efektif, operasi berkembang menjadi tindakan yang lebih keras. Salah satu kasus yang paling dikenal adalah hilangnya ilmuwan Jerman Heinz Krug, yang diyakini dibunuh dalam operasi Mossad.

Operasi Damocles akhirnya dihentikan setelah beberapa agen Mossad ditangkap di Swiss dan sejumlah insiden menimbulkan korban di luar target utama.

3. Operasi Diamond, Mendapatkan Jet Tempur MiG-21 (1966)

Pada masa Perang Dingin, Mossad juga terlibat dalam operasi untuk memperoleh teknologi militer negara lawan. Salah satu operasi paling terkenal adalah upaya mendapatkan pesawat tempur MiG-21 buatan Uni Soviet yang digunakan negara-negara Arab.

Pesawat tersebut dianggap sebagai teknologi penting yang ingin dipelajari Israel dan sekutunya. Setelah beberapa upaya awal gagal, Mossad berhasil menjalin kontak dengan seorang pilot Angkatan Udara Irak bernama Munir Redfa.

Pilot tersebut diyakinkan untuk membelot dengan imbalan perlindungan bagi keluarganya, kompensasi finansial, dan jaminan masa depan di Israel. Setelah persiapan yang panjang, rencana akhirnya dijalankan pada 16 Agustus 1966.

Redfa menerbangkan pesawat MiG-21 dari Irak menuju Israel sejauh sekitar 900 kilometer. Ia menggunakan pola penerbangan yang tidak biasa untuk menghindari radar Irak dan negara tetangga.

Keberhasilan operasi ini memberi Israel kesempatan mempelajari teknologi pesawat tempur Soviet secara langsung, meskipun tindakan tersebut juga dianggap sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain.

4. Operasi Wrath of God, Balasan Tragedi Munich (1972)

Operasi Wrath of God diluncurkan setelah serangan terhadap atlet Israel dalam Olimpiade Munich 1972. Serangan yang dilakukan kelompok Black September menewaskan 11 atlet Israel dan mengguncang opini publik internasional.

Sebagai tanggapan, pemerintah Israel memerintahkan Mossad untuk memburu individu yang diduga terlibat dalam serangan tersebut. Target operasi mencakup anggota kelompok Black September serta tokoh organisasi Palestina di berbagai negara.

Tim operasi khusus Mossad melakukan serangkaian pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap bertanggung jawab. Operasi dilakukan di berbagai negara Eropa tanpa proses pengadilan.

Salah satu insiden paling kontroversial terjadi di Norwegia ketika agen Mossad membunuh seorang warga sipil yang keliru diidentifikasi sebagai pemimpin Black September Ali Hassan Salameh. Kasus ini kemudian dikenal sebagai Lillehammer Affair.

Operasi tersebut sempat dihentikan setelah insiden itu, namun dilanjutkan kembali beberapa tahun kemudian hingga target utama berhasil dibunuh.

Sepanjang sejarahnya, Mossad sering dipandang sebagai salah satu badan intelijen paling efektif di dunia. Namun berbagai operasi rahasia yang dilakukan di luar wilayah Israel juga terus memicu perdebatan. Sejumlah pengamat menilai aktivitas Mossad menunjukkan bagaimana operasi intelijen dapat mempengaruhi dinamika politik internasional dan keamanan global.

5. Operation Grim Beeper (17 September 2024)

Pada 17 September, ribuan pager milik operatif Hizbullah meledak, menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai banyak lainnya di Libanon. Senior Fellow Michael Doran menyebut serangan ini sebagai Operation Grim Beeper, salah satu operasi intelijen paling mencengangkan dalam sejarah modern.

Pada saat serangan itu terjadi, Israel dan Hizbullah tengah terlibat dalam konflik yang terus memburuk sejak Hizbullah menembaki posisi-posisi Israel sehari setelah serangan besar-besaran Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023.

Operasi ini terdiri dari empat tahap besar yakni memetakan rantai pasokan Hizbullah, menyisipkan bahan peledak mini yang bisa diaktifkan jarak jauh ke dalam perangkat, menguasai jaringan pengadaan musuh, lalu meledakkannya secara serentak di wilayah luas. Jika satu tahap saja gagal, seluruh operasi bisa runtuh.

Serangan ini disebut sebagai pembunuhan massal terarah pertama, karena setiap target dipilih secara individual dan dihantam pada waktu yang sama. Rasio korban luka yang tinggi juga dinilai strategis karena membebani sistem musuh. Operasi ini sekaligus disebut menggagalkan taktik "perisai manusia" Hizbullah.

Secara politik, operasi tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya Israel memulihkan daya tangkal terhadap Hizbullah dan Iran. Dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis-memicu kebingungan internal dan ketidakpercayaan, termasuk potensi retaknya hubungan antara Beirut dan Teheran.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |