Israel Serang Lebanon, Personel TNI Penjaga Perdamaian PBB Gugur

7 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Seorang personel penjaga perdamaian asal Indonesia gugur setelah sebuah proyektil meledak di dekat posisi pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon selatan, di tengah meningkatnya konflik kawasan yang turut mengancam keselamatan misi internasional. Insiden tersebut memicu kecaman keras dari pimpinan PBB dan seruan untuk deeskalasi segera.

"Helm biru" dari Indonesia yang bertugas bersama Misi Perdamaian PBB di Lebanon (United Nations Interim Force in Lebanon/UNIFIL) dilaporkan berada di pos dekat Adchit Al Qusayr ketika proyektil meledak. Seorang penjaga perdamaian lainnya mengalami luka serius akibat ledakan tersebut dan masih dirawat di rumah sakit.

UNIFIL menyatakan belum mengetahui asal proyektil itu dan telah meluncurkan penyelidikan untuk menentukan keadaan kejadian.

"Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa saat melayani tujuan perdamaian," kata misi tersebut, dikutip dari laman resmi PBB, Senin (30/3/2026).

Sekretaris Jenderal Antonio Guterres mengecam keras insiden tersebut, yang terjadi dalam konteks eskalasi konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan kejadian itu merupakan bagian dari serangkaian insiden yang membahayakan keselamatan pasukan penjaga perdamaian.

"Ini adalah salah satu dari sejumlah insiden yang membahayakan keselamatan dan keamanan penjaga perdamaian, termasuk selama 48 jam terakhir," kata Dujarric.

"Sekali lagi, Sekretaris Jenderal menyerukan kepada semua pihak untuk menegakkan kewajiban mereka di bawah hukum internasional dan memastikan keselamatan serta keamanan personel dan properti PBB setiap saat," imbuhnya.

Pimpinan PBB juga mengingatkan bahwa serangan terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius hukum humaniter internasional dan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, serta "dapat dianggap sebagai kejahatan perang". Resolusi tersebut menjadi dasar bagi UNIFIL untuk membantu mengakhiri permusuhan antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah hampir dua dekade lalu.

"Harus ada pertanggungjawaban," demikian pernyataan tersebut.

Sekretaris Jenderal menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga, teman, dan rekan penjaga perdamaian yang tewas, serta kepada Indonesia. Ia juga mendoakan pemulihan penuh dan cepat bagi petugas yang terluka.

Guterres turut menyampaikan penghargaan kepada pria dan perempuan yang bertugas di UNIFIL, seraya menegaskan pentingnya keselamatan, keamanan, dan kebebasan bergerak mereka. PBB juga mendesak semua pihak untuk segera melakukan deeskalasi dan mematuhi kewajiban di bawah resolusi Dewan Keamanan.

Respons Pemerintah RI

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri mengonfirmasi gugurnya personel penjaga perdamaian tersebut dan tiga personel lainnya yang terluka saat bertugas di UNIFIL.

"Serangan artileri tidak langsung mengenai posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr pada tanggal 29 Maret 2026. Insiden terjadi di tengah laporan saling serang antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan," tulis Kemlu RI melalui akun X.

Indonesia mengecam keras insiden tersebut dan menyerukan dilakukannya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan.

"Kami memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada personel yang gugur atas dedikasi dan pengabdiannya bagi perdamaian dan keamanan internasional. Doa dan simpati kami bersama keluarga yang ditinggalkan, serta mendoakan pemulihan sepenuhnya bagi personel yang terluka. Indonesia bekerja sama dengan UNIFIL untuk memastikan repatriasi jenazah dilakukan segera serta memberikan perawatan medis terbaik bagi yang terluka," lanjutnya.

Menurut Kemlu, keselamatan dan keamanan personel pemelihara perdamaian PBB harus senantiasa dihormati sepenuhnya, sesuai dengan hukum internasional. Setiap tindakan yang membahayakan penjaga perdamaian tidak dapat diterima dan mengganggu upaya bersama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas.

"Indonesia kembali mengecam keras serangan Israel di Lebanon selatan dan menyerukan kepada seluruh pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon, menghentikan serangan yang membahayakan warga dan infrastruktur sipil, serta kembali pada dialog dan diplomasi guna mencegah eskalasi lebih lanjut dan mewujudkan perdamaian," tulis Kemlu.

Tenaga Kesehatan Turut Menjadi Korban

Di tengah eskalasi yang sama, Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus melaporkan kematian tenaga medis lainnya di Lebanon selatan.

"Operasi militer Israel yang meluas di Lebanon selatan telah mengakibatkan kematian seorang lagi tenaga kesehatan hari ini," kata Tedros dalam pernyataan yang dipublikasikan di platform X.

Paramedis tersebut tewas dalam serangan terhadap ambulans di kota Bint Jbeil, sementara gudang medis di lokasi yang sama juga hancur akibat serangan.

"Sebelum serangan hari ini, WHO telah memverifikasi bahwa 51 tenaga kesehatan Lebanon telah tewas sejak 2 Maret, termasuk sembilan paramedis hanya kemarin," kata Tedros.

"Serangan terhadap fasilitas kesehatan harus segera dihentikan. Ini tidak boleh menjadi hal yang normal."

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |