Israel Pakai Buaya Nil untuk Jaga Tahanan Palestina

16 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Israel dilaporkan tengah menyiapkan langkah kontroversial untuk meningkatkan keamanan penjara tahanan Palestina. Sejumlah media memberitakan bagaimana Israel akan memanfaatkan buaya Sungai Nil sebagai bagian dari sistem pengamanan.

Mengutip rangkuman RT Senin (20/7/2026), rencana tersebut mencuat setelah pemerintah Israel mengubah status hukum buaya Nil dari satwa liar menjadi "tended wild animal" atau satwa liar yang dipelihara. Perubahan status ini dinilai membuka jalan bagi penggunaan reptil tersebut di fasilitas yang lebih luas, termasuk kompleks penjara.

"Gagasan penggunaan buaya pertama kali diusulkan pada akhir 2025 oleh Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir. Politikus sayap kanan itu mengusulkan agar penjara dikelilingi parit berisi buaya untuk mencegah upaya pelarian narapidana," muat laman Rusia itu.

Saat itu, usulan tersebut ditolak karena buaya Nil masih diklasifikasikan sebagai satwa liar yang hanya boleh dipelihara di kebun binatang atau kawasan konservasi. Namun, menurut laporan media Israel, pekan ini Menteri Perlindungan Lingkungan Israel, Idit Silman, mengubah klasifikasi hukum buaya Nil menjadi satwa liar yang dipelihara.

"Keputusan tersebut disebut menghapus hambatan hukum utama bagi penerapan rencana tersebut," tambah laporan tersebut.

Meski demikian, keputusan itu menuai keberatan. Penasihat hukum Kementerian Perlindungan Lingkungan dilaporkan telah memperingatkan bahwa sang menteri tidak memiliki kewenangan untuk secara sepihak mengubah status hukum buaya maupun membuka jalan bagi penggunaannya di penjara.

Lokasi Pertama

Lebih rinci, laporan menyebut Ben-Gvir ingin menerapkan program tersebut pertama kali di Penjara Ketziot, fasilitas pemasyarakatan di wilayah selatan Israel yang sebagian besar dihuni tahanan Palestina. Setelah usulan itu disampaikan, Israel Prison Service (IPS) disebut melakukan kajian internal.

Meski begitu, sejak Januari lalu, sejumlah petugas penjara sudah dikirim ke peternakan buaya Hamat Gader untuk mempelajari karakteristik reptil tersebut. Media Israel, Maariv, melaporkan IPS memberikan respons positif terhadap usulan tersebut.

Otoritas penjara bahkan mempertimbangkan menggunakan buaya berukuran lebih kecil dengan harga sekitar US$8.000 (sekitar Rp130 juta, asumsi kurs Rp16.300/US$) per ekor, dibandingkan buaya dewasa yang harganya mencapai US$20.000 (sekitar Rp326 juta) per ekor. Seorang sumber IPS yang dikutip Maariv mengatakan biaya tersebut relatif kecil dibandingkan investasi keamanan yang dibutuhkan sebuah penjara.

Hingga kini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Israel mengenai kapan atau apakah rencana tersebut akan benar-benar diterapkan. Namun, wacana tersebut telah memicu perhatian luas karena dinilai sebagai salah satu usulan pengamanan penjara yang paling tidak lazim di Israel.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |