Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah dunia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (5/2/2026) pagi, seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah.
Pelaku pasar cenderung menurunkan premi risiko setelah adanya sinyal dialog antara Amerika Serikat dan Iran yang membuka peluang deeskalasi tensi.
Berdasarkan Refinitiv per pukul 09.50 WIB, harga minyak Brent tercatat di level US$68,19 per barel, turun cukup dalam dibandingkan penutupan hari sebelumnya yang masih berada di US$69,46.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$63,96 per barel, melemah dari US$65,14 pada perdagangan Rabu.
Melansir Reuters, kelemahan harga ini terjadi setelah reli tajam pada sesi sebelumnya, ketika pasar sempat diwarnai kekhawatiran meningkatnya konflik geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global.
Namun, ekspektasi berlanjutnya pembicaraan diplomatik antara Washington dan Teheran membuat pasar mulai kembali rasional, dengan fokus pada kemungkinan stabilitas pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, pasar minyak masih berada dalam fase volatil. Ancaman gangguan pasokan tetap membayangi mengingat kawasan Teluk merupakan jalur vital perdagangan energi global. Selat Hormuz, misalnya, menjadi lintasan bagi sekitar seperlima konsumsi minyak dunia, sehingga setiap perubahan situasi geopolitik di kawasan ini masih sangat sensitif terhadap pergerakan harga.
Di sisi lain, sentimen pasar sebelumnya sempat ditopang oleh data penurunan persediaan minyak di Amerika Serikat, yang memberi sinyal permintaan masih relatif solid
CNBC Indonesia
(emb/emb)
[Gambas:Video CNBC]


















































