Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara akhirnya naik setelah ambruk tiga hari beruntun. Kenaikan ditopang menguatnya permintaan di tengah gelombang panas.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada Senin (29/6/2026) ditutup di US$ 127,45 per ton atau menguat 1,77%.
Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 4,4% dalam tiga hari beruntun sebelumnya.
Permintaan batu bara naik di tengah gelombang panas serta musim panas yang tengah melanda Amerika Serikat dan Eropa.
Musim panas di Eropa membuat permintaan listrik meningkat. Di tengah kenaikan permintaan, Jerman menghadapi persoalan rendahnya permukaan air Sungai Rhine. Sungai ini adalah jalur transportasi batu bara tersibuk di Eropa sehingga rendahnya permukaan akan menghambat pengiriman batu bara.
Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan, terutama ketika suhu tinggi diperkirakan akan meningkatkan permintaan listrik sekaligus menurunkan efisiensi pembangkit listrik berbahan bakar gas dan tenaga surya.
Dari Amerika Serikat, Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, mengeluarkan perintah darurat untuk mempertahankan operasional salah satu unit pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di Colorado guna memastikan pasokan listrik tetap andal. Hal tersebut disampaikan oleh Departemen Energi AS pada Jumat.
Perintah tersebut menginstruksikan Tri-State Generation and Transmission Association, Platte River Power Authority, Salt River Project, PacifiCorp, serta Public Service Company of Colorado, anak usaha Xcel Energy, agar tetap menjaga Craig Station Unit 1 dalam kondisi siap beroperasi sesuai arahan Southwest Power Pool.
Sebelumnya, unit tersebut dijadwalkan pensiun pada akhir 2025. Namun, Wright telah menerbitkan perintah darurat serupa pada Desember 2025 dan Maret 2026 yang mewajibkan pembangkit tersebut tetap tersedia untuk dioperasikan.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump telah menggunakan kewenangan darurat untuk mempertahankan operasi sejumlah pembangkit listrik tua berbahan bakar batu bara dan gas melampaui jadwal pensiun yang telah direncanakan. Langkah ini diambil dengan alasan menjaga keandalan jaringan listrik nasional.
Wright mengatakan bahwa penghentian pembangkit listrik yang masih andal berpotensi mengancam keandalan jaringan listrik sekaligus meningkatkan biaya listrik selama periode permintaan puncak pada musim panas.
Departemen Energi juga menyoroti adanya kekhawatiran terhadap keandalan pasokan listrik di kawasan Pegunungan Rocky (Rocky Mountain), termasuk karena banyaknya pembangkit termal yang telah menua serta kendala pada rantai pasok.
Perintah darurat terbaru tersebut berlaku mulai 29 Juni hingga 26 September 2026.
Sementara itu, China melaporkan pasokan batu bara kokas (coking coal) di China masih ketat akibat kecelakaan tambang mematikan di Provinsi Shanxi pada akhir Mei 2026. Insiden tersebut memicu inspeksi keselamatan besar-besaran dan penutupan sementara sekitar 155 tambang, sehingga produksi domestik belum sepenuhnya pulih.
Kondisi pasokan yang terbatas menopang harga batu bara kokas. Harga sempat mencapai level tertinggi dalam 19 bulan pada awal Juni karena kekhawatiran kekurangan pasokan, meskipun kemudian mulai terkoreksi ketika sebagian tambang kembali beroperasi.
Pembeli mulai mengurangi aktivitas pembelian setelah reli harga yang tajam. Banyak pabrik baja dan pedagang memilih menunggu karena margin industri baja masih tipis, prospek permintaan baja belum pasti, selisih harga antara batu bara domestik dan impor semakin menyempit sehingga insentif impor berkurang.
Stok tambang yang terus menurun tetap menjadi faktor pendukung harga. Inventori di area tambang menyusut sehingga pasokan di pasar spot masih terbatas, walaupun kenaikan harga mulai memicu resistensi dari pembeli.
Impor China tetap meningkat, terutama dari Australia dan Kanada, untuk menutup kekurangan pasokan domestik.
Namun volume pembelian tidak seagresif sebelumnya karena para importir menilai harga sudah terlalu tinggi dan risiko penurunan harga masih ada.
Ekspor dari Australia Melonjak
Kenaikan permintaan untuk musim panas sudah tercermin sejak Mei 2026.
Ekspor batu bara dari pelabuhan-pelabuhan Australia di Hay Point, Dalrymple Bay Coal Terminal (DBCT), Abbot Point, dan Gladstone yang berada di negara bagian Queensland pada Mei 2026 meningkat. Ekspor naik 11,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) dan 7,4% secara bulanan (month-on-month/mom) menjadi 17,28 juta metrik ton (mt). Data tersebut dirilis oleh North Queensland Bulk Ports Corporation dan Gladstone Ports Corporation.
Secara rinci, ekspor batu bara dari Dalrymple Bay Coal Terminal (DBCT) pada Mei mencapai 4,86 juta ton, naik 17,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pengiriman dari Hay Point meningkat 14,3% yoy menjadi 4,21 juta ton.
Di sisi lain, pengiriman dari Abbot Point tercatat 2,6 juta mt, turun 0,3% yoy. Selain itu, ekspor batu bara dari Pelabuhan Gladstone meningkat 11,6% dibandingkan Mei 2025 menjadi 5,59 juta ton.
Pada Mei, pengiriman batu bara dari Gladstone ke Jepang menyumbang 27,4% dari total ekspor. Sementara itu, Korea Selatan, India, dan Vietnam masing-masing menyerap 25,7%, 18,6%, dan 8,9% dari total ekspor tersebut.
Sementara itu, total pengiriman batu bara dari keempat pelabuhan tersebut selama periode Januari-Mei 2026 mencapai 76,35 juta metrik ton, menurut informasi yang diperoleh SteelOrbis.
(mae/mae)
Addsource on Google


















































