Jakarta, CNBC Indonesia - China mengumumkan strategi besar untuk mempercepat dominasi teknologi mereka. Pengumuman ini dilakukan hanya beberapa pekan sebelum pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam sidang tahunan National People's Congress (NPC) pekan ini, pemerintah China akan memaparkan laporan kerja tahunan, rencana anggaran, serta kerangka Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026-2030.
Dokumen ini menjadi sinyal resmi sektor mana saja yang akan diguyur pendanaan jumbo dan dukungan kebijakan. Fokus utama diperkirakan tertuju pada kecerdasan buatan (AI), robot humanoid, dan teknologi luar angkasa.
Tahun lalu, AI untuk pertama kalinya masuk dalam prioritas resmi pemerintah, termasuk teknologi "embodied intelligence" yang menggerakkan robot humanoid.
Momen pengumuman ini dinilai sangat strategis. Pertemuan Xi-Trump pada 31 Maret hingga 2 April diprediksi akan menyoroti isu kontrol teknologi dan ketahanan rantai pasok, dua area yang kini menjadi medan persaingan utama kedua negara.
Setahun terakhir, China mengejutkan dunia lewat lonjakan AI meski dibatasi akses chip canggih oleh AS. Startup DeepSeek bahkan memicu gejolak saham teknologi global saat meluncurkan model AI yang dinilai mampu menantang dominasi Amerika.
Kini, tantangan Beijing bukan lagi soal menciptakan terobosan, melainkan mengindustrialisasikannya.
Pemerintah diperkirakan akan mendorong integrasi "AI-plus manufacturing", dengan BUMN sebagai pengguna utama yang kemudian menarik startup dan pemasok ke dalam ekosistem produksi.
Namun, strategi ini berpotensi memperlebar kesenjangan antara perusahaan besar dan UKM karena kebutuhan modal tinggi untuk adopsi AI skala industri.
Di industri robotika, China menunjukkan kemajuan signifikan. Robot humanoid buatan dalam negeri tampil mencuri perhatian di Gala Festival Musim Semi CCTV. Kemajuan mekatronika, terutama dalam keseimbangan dan kontrol motorik, menjadi fondasi lompatan ini.
Sementara di sektor luar angkasa, perusahaan swasta LandSpace bersiap menguji kembali roket reusable Zhuque-3, mempertegas ambisi China dalam teknologi peluncuran orbit.
Meski demikian, laporan riset Rhodium Group menilai industri baru tersebut belum cukup untuk menopang target pertumbuhan ekonomi 5%. Artinya, ekspor tetap akan menjadi tulang punggung ekonomi China dalam waktu dekat.
Analis menilai Rencana Lima Tahun juga akan dicermati dari sisi bagaimana Beijing melindungi fondasi industri yang menopang dorongan teknologinya, di tengah rantai pasok yang kini menjadi instrumen tekanan geopolitik.
Dalam setahun terakhir, China memperluas penggunaan kontrol ekspor terhadap mineral tanah jarang dan semikonduktor kelas bawah, yang mengganggu rantai pasok global dan menegaskan daya tawar ekonomi Beijing.
Doug Friedman, CEO lembaga biomanufaktur AS BioMADE, mengatakan rantai pasok lain yang krusial bagi ekonomi global juga rentan terhadap ketergantungan pada China.
"Apa yang kita lihat terjadi pada tanah jarang juga terjadi di industri bahan kimia industri," katanya.
"Sekarang kita sejajar," ujarnya merujuk pada AS dan China. "Siapa pun yang menggandakan upaya dalam tiga hingga lima tahun ke depan akan meraih keunggulan nyata."
(fab/fab)
Addsource on Google

















































