ESDM Targetkan Produksi Migas Non Konvensional Dalam Waktu Dekat

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan pengembangan migas non konvensional (MNK) dapat mulai diimplementasikan dalam waktu dekat. Hal ini penting untuk mengurangi ketergantungan impor.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan saat ini pemerintah bersama Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) tengah mempercepat penyelesaian kerangka regulasi guna mendukung pengembangan bukan migas biasa tersebut.

Menurut dia, pengembangan migas non konvensional menjadi salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan produksi minyak dan gas bumi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.

"Jadi untuk ini (MNK) sudah ada kajian awal yang dilakukan oleh Pertamina Hulu Rokan untuk pengembangan non konvensional ini. Jadi kita mengharapkan peningkatan produksi itu relatif signifikan," ujar Yuliot di Kementerian ESDM, Jumat (5/6/2026).

Ia membeberkan pemerintah tengah membahas sejumlah opsi teknologi yang ditawarkan berbagai pihak untuk mendukung pengembangan MNK. Beberapa penyedia teknologi telah dipertemukan dengan SKK Migas guna membahas peluang implementasi di lapangan.

Yuliot mengungkapkan SKK Migas menargetkan kerangka regulasi pengembangan migas non konvensional dapat diselesaikan pada akhir Juni. Dengan demikian, implementasi awal dapat dimulai pada Juli mendatang.

"SKK Migas itu minta kalau bisa akhir Juni ini sudah bisa diselesaikan kerangka regulasinya dan juga bisa diimplementasikan pada awal Juli. Jadi ini kita lagi berkejaran dengan waktu," ujarnya.

Sebelumnya, Praktisi minyak dan gas bumi (migas) Hadi Ismoyo menilai peningkatan produksi minyak melalui eksplorasi MNK di Blok Rokan patut didukung dan diapresiasi. Sebab, keberhasilan proyek MNK di AS bisa menjadi contoh, meski kondisi dan karakter teknik tidak sama persis.

Menurut Hadi, potensi MNK di Blok Rokan cukup besar, bahkan sumber daya MNK di Blok Rokan diperkirakan mencapai beberapa miliar barel.

"Sehingga eksplorasi MNK di sumur Gulamo#1 dan Kelok#1 menjadi pintu masuk untuk melihat apakah potensi MNK di Rokan itu secara teknis dan operational bisa komersial seperti di USA," kata Hadi kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (9/7/2024).

Hadi menjelaskan bahwa untuk merealisasikan produksi minyak melalui sumur MNK sejatinya membutuhkan waktu. Pasalnya, MNK adalah pengeboran pada layer unkonvensional, sehingga diperlukan teknik khusus untuk menguras minyak dari reservoir.

"Ini membutuhkan kajian yang mendalam sehingga produksi MNK ini optimum dan competitive. Mengingat MNK ini recovery factor rendah, untuk mendapatkan volume yang sama dari konvensional well, diperlukan jumlah sumur yang lebih banyak," katanya.

Sementara, jika ternyata dari production test di exploration well menunjukkan tanda tanda yang baik, maka perlu dilakukan pengeboran sumur deliniasi untuk melihat batasan size dan geometri reservoir.

"Baik vertikal maupun lateral, sehingga bisa dihitung dengan baik dan akurat volume OOIP MNK tersebut. Jadi harus bersabar beberapa bulan lagi sampai production test menunjukkan tanda tanda positif," katanya.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |