Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melonjak ke rekor tertinggi sejak Oktober 2024 atau hampir lima bulan lebih.
Merujuk Refinitiv, harga batu bara ditutup di posisi US$ 146,5 per ton pada perdagangan Jumat (20/3/2026). Harga ini adalah yang tertinggi sejak 17 Oktober 2024 atau lima bulan lebih.
Kenaikan harga batu bara kemarin juga memperpanjang tren positif harga batu bara dengan menguat 8,7% dalam tiga hari terakhir.
Harga batu bara melonjak seiring gangguan berkepanjangan terhadap aliran minyak dan gas global akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong pembangkit listrik di negara-negara besar semakin bergantung pada batu bara untuk produksi listrik.
\
Lonjakan harga gas alam juga membuat negara-negara Eropa meningkatkan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, meskipun produksi energi terbarukan juga meningkat.
Harga kontrak berjangka gas Eropa naik €59 per MWh atau ke level tertinggi dalam tiga tahun. Dalam sepekan harganya terbang 18% lebih. Lonjakan terjadi setelah Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas ekspor LNG terbesar di Qatar sebagai respons atas serangan Israel ke ladang gas South Pars milik Iran.
Di Australia, negara bagian New South Wales mengumumkan larangan pengajuan tambang batu bara baru sebagai bagian dari target net zero, yang semakin memperketat pasokan.
New South Wales sendiri mengekspor sebagian besar batu bara termalnya ke pembangkit listrik di Jepang, China, dan Taiwan.
Harga batu bara termal di China juga mulai menunjukkan penguatan, baik di level mulut tambang (mine-mouth) maupun di pelabuhan. Namun, di balik kenaikan ini, pasar masih menyimpan sejumlah keraguan besar.
Di level tambang, harga terus naik seiring membaiknya sentimen pasar. Ekspektasi permintaan listrik meningkat menjelang musim panas, sementara aktivitas industri mulai menunjukkan tanda pemulihan moderat.
Selain itu, pasokan juga cenderung mengetat. Pemerintah China memperketat pengawasan keselamatan tambang, yang berdampak pada pembatasan produksi di sejumlah wilayah. Di saat yang sama, stok batu bara di pembangkit listrik mulai menurun, mendorong utilitas kembali melakukan pembelian.
Kombinasi faktor ini membuat harga di level mine-mouth naik lebih cepat dibandingkan harga di pelabuhan, mencerminkan kuatnya permintaan domestik.
Namun, kondisi di pelabuhan menunjukkan cerita yang sedikit berbeda.
Harga batu bara di pelabuhan memang ikut menguat, tetapi kenaikan ini terutama didorong oleh permintaan batu bara kalori rendah (low-CV). Utilitas dan pelaku industri memilih jenis ini karena lebih murah dan membantu menekan biaya di tengah tekanan ekonomi.
Di sisi lain, aktivitas impor masih lesu. Batu bara impor dari negara seperti Indonesia dan Australia dinilai kurang kompetitif dibandingkan pasokan domestik. Selain itu, pelaku pasar juga cenderung berhati-hati, seiring pemulihan industri yang belum sepenuhnya solid.
Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga batu bara di China saat ini lebih didorong oleh faktor domestik, bukan lonjakan permintaan global.
Pelaku pasar pun mulai kembali masuk, tetapi dengan pendekatan yang sangat hati-hati. Pembelian dilakukan secara bertahap, menandakan bahwa kepercayaan terhadap tren kenaikan ini belum sepenuhnya kuat.
Di sisi lain, risiko tetap membayangi. Pemerintah China berpotensi melakukan intervensi jika harga naik terlalu tinggi. Selain itu, produksi bisa kembali ditingkatkan sewaktu-waktu untuk menjaga stabilitas pasar.
Dengan demikian, kenaikan harga batu bara China saat ini lebih mencerminkan perbaikan sentimen jangka pendek dan pengetatan pasokan, bukan perubahan fundamental yang kuat.
Artinya, tren penguatan ini berpeluang berlanjut dalam jangka pendek, namun tetap rapuh dan sangat bergantung pada arah kebijakan pemerintah serta kekuatan pemulihan ekonomi domestik.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google


















































