Dunia Berbalik Arah, Resep Abadi 60/40 Kembali Dipercaya

4 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

12 January 2026 16:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Arah investasi global terlihat mulai kembali menuju aset yang lebih defensif seperti surat utang dan emas. Setelah bertahun tahun banyak portofolio investasi diisi oleh aset berisiko, kini investor kembali berpikir ulang untuk kebutuhan akan perlindungan dan stabilitas investasi.

Di tengah tensi geopolitik yang makin sering meningkat hingga memicu guncangan di pasar keuangan global, serta kebijakan fiskal dan moneter di berbagai negara di dunia yang berubah cepat, membuat diversifikasi kembali jadi pilihan strategi.

Surat Utang Kembali Diminati

Obligasi kini mulai kembali merebut perhatian sebagai primadona portofolio, setelah bertahun tahun terasa seperti aset yang ditinggalkan. Bagi investor yang memiliki usia produktif, keputusan untuk memangkas bahkan nyaris menghapus porsi obligasi dalam portofolio sebelumnya bukan tanpa alasan.

Pasca krisis keuangan global, suku bunga ditekan rendah di banyak negara sehingga daya tarik imbal hasil obligasi memudar. Situasi itu makin diperkuat pada era pandemi covid-19, ketika langkah agresif bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) untuk meredam inflasi justru membuat yield melonjak dan menekan harga obligasi, memicu sentimen negatif yang semakin besar terhadap fixed income.

Namun dalam satu tahun terakhir, arahnya mulai berubah. Kinerja pasar obligasi membaik signifikan dan menjadi yang terbaik sejak 2020, mendorong banyak pelaku pasar kembali melirik peran bonds sebagai fondasi diversifikasi.

Hal ini terlihat dari penurunan yield US Treasury tenor 10 tahun sepanjang 2025 yang menjadi sinyal paling jelas bahwa minat pasar terhadap surat utang memang kembali menguat.

Yield yang semula berada di awal 2025 sebesar 4,571% kemudian turun ke 4,153% di penutupan tahun, atau turun sekitar 41,8 basis poin.

Pergerakan ini penting karena yield dan harga obligasi bergerak berlawanan arah. Ketika yield turun, itu mencerminkan harga obligasi yang naik, dan pada umumnya terjadi saat permintaan investor meningkat.

Turunnya yield ini juga memberi gambaran bahwa pasar mulai menempatkan obligasi kembali sebagai aset penyeimbang dalam portofolio investasi.

Dunia Kembali ke Strategi 60/40

Keadaan ini pun membuat strategi 60/40 dalam portofolio yang sempat dianggap usang pun kembali masuk pilihan, seiring investor menilai obligasi berpotensi lagi menjadi penyeimbang ketika pasar saham tidak berjalan mulus.

Di balik pembalikan tren ini, ada faktor penting yang mendukung. Setelah bertahun tahun dihantam badai kebijakan dan volatilitas pasar yang ekstrem, pergerakan yield obligasi mulai stabil dan membentuk pergerakan yang lebih rasional.

Stabilitas ini membuka peluang yang sebelumnya terasa sulit dibayangkan, yakni obligasi dapat memberi performa yang lebih baik dibanding saham dalam periode tertentu, terutama ketika pasar memasuki fase penurunan atau bearish.

Sejumlah analis menilai dalam sepuluh tahun belakang ini memang menjadi masa yang berat untuk investor fixed income.

Banyak produk obligasi berjatuh tempo panjang masih mencatat kerugian secara akumulasi sejak awal dekade. Meski demikian, pandangan terbaru mulai mengarah pada kesimpulan bahwa fase terberat sudah berlalu, dan pasar sedang memasuki babak baru di mana obligasi kembali menemukan fungsinya.

Pada saat yang sama, dinamika awal tahun juga membuat portofolio investor cenderung mengalami penyesuaian.

Banyak trader dan institusi mencoba merombak komposisi asetnya agar lebih sesuai dengan kondisi global yang semakin tidak menentu, termasuk dengan mengatur ulang porsi emas maupun bitcoin sebagai pelengkap strategi lindung nilai.

Di tengah tensi geopolitik, perubahan kebijakan fiskal, serta arus berita yang nyaris tanpa jeda, aset dengan profil defensif seperti obligasi kembali terlihat menarik meski upside nya terbatas.

Jika perlambatan ekonomi atau resesi benar benar terjadi, yield diperkirakan akan turun, dan pada fase itulah obligasi berpotensi kembali menunjukkan manfaatnya sebagai pelindung portofolio.

Emas Naik Kelas Jadi Aset Cadangan Utama Dunia

Jika kebangkitan pasar surat utang terlihat di level investor maka lonjakan peran emas tampak lebih struktural di level bank sentral. Emas kini berada di puncak sebagai aset cadangan global.

Menurut data World Gold Council (WGC), nilai cadangan emas global mendekati US$4 triliun. Sementara kepemilikan Treasury global sekitar US$3,9 triliun. Terakhir kali cadangan emas bank sentral melampaui kepemilikan Treasury terjadi pada 1996.

Secara persentasi pun mengalami lonjakan yang tinggi. Porsi emas dalam cadangan resmi global berada di 28% pada kuartal III-2025, menjadi level historis yang tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Secara total, kepemilikan emas bank sentral kini berada di kisaran 34.000 ton.

Seiring dengan kenaikan kepemilikan emas sebagai aset cadangan global ini, membuat harga emas dunia naik hingga lebih dari 64% di sepanjang 2025. Bahkan sejak Januari 2024 emas sudah melesat lebih dari 115%

Bank sentral global tercatat menambah cadangan emas lebih dari 1.000 ton selama tiga tahun berturut turut dan diproyeksikan 2025 menjadi tahun keempat.

Tahun 2024 tercatat sebagai ekspansi cadangan emas bank sentral terbesar ketiga dalam sejarah. Angkanya hanya 6,2 ton lebih rendah dari 2023 dan 91 ton lebih rendah dari rekor tertinggi 2022 sebesar 1.136 ton.

Tahun 2022 juga menjadi level pembelian bersih tertinggi sejak pencatatan 1950 termasuk setelah penghentian konvertibilitas dolar ke emas pada 1971

Sebagai pembanding pada periode 2010 hingga 2021 rata rata peningkatan cadangan emas bank sentral hanya sekitar 473 ton per tahun. WGC menilai bank sentral kemungkinan melanjutkan tren pembelian dan menyebutnya tetap tangguh meski harga naik cepat.

Beberapa pihak menilai lonjakan cadangan emas ini bagian dari tren de dolarisasi, ketika banyak pemerintah asing mengurangi ketergantungan pada aset berdenominasi dolar dan meningkatkan porsi emas.

Alasan Banyak Negara Mulai Menjauh dari Dolar AS

Pertama, sebagian khawatir terhadap weaponization mata uang AS. Dalam artikel Atlantic Council Kimberly Donovan dan Maia Nikoladze menyoroti bank sentral yang cemas terhadap risiko sanksi ingin melindungi diri dari potensi krisis keuangan global atau keduanya sehingga menimbun emas.

Selain itu, Kekhawatiran juga datang dari kondisi fiskal AS. Pada Oktober 2025, utang nasional menembus 38 triliun dolar AS dan belum terlihat sinyal perlambatan belanja dan pembiayaan defisit. JP Morgan juga mencatat polarisasi yang meningkat di AS dapat mengganggu tata kelola yang menjadi fondasi peran AS sebagai safe haven global.

Alasan selanjutnya, Emas semakin menarik karena tidak membawa risiko counterparty. Emas secara tradisional dipandang lebih aman dibanding mata uang fiat dalam situasi ketidakpastian global.

Tren de dolarisasi semakin terlihat nyata. Banyak negara mulai menerapkan kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada dolar misalnya Zambia yang mengizinkan pembayaran pajak tambang dalam mata uang yuan China.

Bagi AS ini menjadi tantangan karena permintaan global terhadap dolar dan aset dolar selama ini menopang kemampuan pemerintahnya untuk membiayai defisit besar.

Berdasarkan data terbaru dari International Monetary Fund (IMF) dalam laporan Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER) menunjukkan bahwa pangsa aset cadangan devisa global yang berdenominasi dolar AS turun menjadi 56,9% pada kuartal III-2025, lebih rendah dibanding 58,5% pada 2024.

Level tersebut juga tercatat sebagai yang terendah setidaknya sejak 1995 atau 30 tahun terakhir. Di mana pada saat itu pangsa pasar dolar AS sebagai cadangan mata uang global sebesar 59%.

Peran dolar sebagai mata uang cadangan global membuat permintaan bawaan terhadap dolar dan aset berdenominasi dolar yang membantu menyerap penciptaan uang dan menjaga kekuatan dolar.

Jika dunia membutuhkan lebih sedikit dolar maka sebagian dolar dapat kembali ke AS dan memicu kelebihan pasokan dolar yang menambah tekanan inflasi domestik. Dalam skenario terburuk nilai greenback bisa tertekan tajam dan memicu lonjakan inflasi yang sangat ekstrem.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |