Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
15 January 2026 17:50
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar kedelai dunia memasuki 2025/26 dengan suplai yang longgar. Melansir rilis USDA edisi Januari 2026 produksi kedelai global mencapai 425,68 juta ton, naik dari 427,15 juta ton pada 2024/25 dan jauh di atas level 2023/24 yang masih 396,35 juta ton.
Stok akhir dunia untuk 2025/26 juga naik ke 124,41 juta ton, dari 123,40 juta ton tahun sebelumnya. Angka ini menempatkan pasar kedelai global dalam posisi yang relatif aman dari sisi pasokan.
Kenaikan stok global terutama datang dari dua sumber, Brasil dan Amerika Serikat. Produksi Brasil pada 2025/26 direvisi naik menjadi 178 juta ton, dari sebelumnya 175 juta ton, sementara produksi AS naik ke 115,99 juta ton.
Kombinasi ini membuat total produksi dua negara itu menyentuh hampir 294 juta ton, setara sekitar 69% dari total produksi dunia. Inilah struktur dasar pasar kedelai global suplai dikendalikan oleh dua negara, sementara sisi permintaan ditarik oleh China.
China pada 2025/26 diproyeksikan mengimpor 112 juta ton kedelai. Itu setara 60% dari total impor dunia yang berada di kisaran 186 juta ton. Konsumsi China melalui proses crushing mencapai 108 juta ton, hampir dua kali lipat dari total crushing AS.
Struktur ini menjelaskan mengapa setiap gangguan hubungan dagang antara China dan Amerika Serikat langsung mengguncang harga kedelai global. Jika China mengurangi pembelian dari AS dan mengalihkannya ke Brasil, stok AS membengkak dan harga di Chicago tertekan.
Untuk 2025/26, ekspor kedelai AS direvisi turun menjadi 1,575 miliar bushel, sementara stok akhir melonjak ke 350 juta bushel. Harga rata-rata kedelai AS pun turun ke US$10,20 per bushel. Pada saat yang sama, Brasil justru meningkatkan ekspor hingga 114 juta ton, naik dari 112,5 juta ton. Pasar memberi sinyal yang jelas: Brasil menjadi outlet utama ketika China tetap agresif membeli, sementara AS harus menampung kelebihan pasokan di dalam negeri.
Indonesia Berada di Ujung Rantai dari Dinamika
Melansir Badan Pusat Statistik (BPS) impor kedelai Indonesia pada 2024 mencapai 2,6 juta ton, naik dari 2,2 juta ton pada 2023. Dari jumlah itu, Amerika Serikat memasok 2,3 juta ton, atau hampir 89% dari total impor. Kanada berada di posisi kedua dengan 261 ribu ton, sementara Brasil praktis tidak memasok pada 2024.
Dari sisi nilai, ketergantungan ini setara dengan US$1,40 miliar pada 2024. Amerika Serikat menyumbang US$1,249 miliar atau hampir 90% dari nilai impor kedelai Indonesia. Struktur ini membuat harga tahu dan tempe di dalam negeri pada dasarnya mengikuti pergerakan harga kedelai AS dan dinamika ekspor AS ke China.
Masalahnya, Indonesia tidak memiliki bantalan dari sisi produksi domestik. Produktivitas kedelai nasional pada 2022 hanya 1,54 ton per hektare, dengan total produksi 301 ribu ton. Kebutuhan nasional mendekati 2,8 juta ton per tahun. Defisit struktural sebesar 2,5 juta ton inilah yang memaksa Indonesia terus berada di pasar impor, terlepas dari apakah harga dunia sedang tinggi atau rendah.
Dalam konteks 2025/26, stok kedelai global yang besar dan tekanan harga di AS akibat ekspor yang melemah membuka peluang jangka pendek bagi Indonesia untuk mendapatkan harga impor yang lebih rendah.
Implikasinya bersifat struktural. Selama produksi domestik tetap di kisaran 300 ribu ton, sementara kebutuhan di atas 2,5 juta ton, Indonesia akan selalu menjadi price taker.
Setiap pergeseran arus dagang antara AS, Brasil, dan China akan langsung tercermin pada biaya produksi tahu dan tempe di pasar tradisional.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)


















































