Duduk Perkara Tukang Cukur di Bogor Dimarahi karena Tak Pasang Bendera

1 week ago 18
Kabupaten Bogor -

Video tukang cukur di Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Jabar) dimarahi karena belum memasang bendera Merah Putih ramai jadi sorotan. Tukang cukur itu telah bertemu dengan Camat Rancabungur, Dita Aprilia.

Pihak yang marah kepada tukang cukur juga sudah diketahui. Momen tukang cukur dimarahi karena belum memasang bendera terjadi tak lama setelah kunjungan Camat Rancabungur pada Jumat (7/8).

Dita saat itu mendatangi tempat usaha Nurhidayat atau Kang Abuy untuk sosialisasi pemasangan bendera Merah Putih. Dia datang bersama perangkat Kecamatan Rancabungur dan pihak lain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Nah, pas di tukang cukur itu karena kan kita juga ya di Rancabungur tahu, oh tukang cukurnya masih muda, masih produktif, ramai juga di situ kan. Nah, waktu itu memang untuk di daerah situ saya sudah habis benderanya, jadi saya imbau gitu, 'wah, ini belum pasang bendera, pasang ya', gitu," tutur Dita, Rabu (12/8/2026).

Di sela kunjungan singkat itu, sempat ada perbincangan soal pembagian bendera. Dita mengatakan saat itu stok bendera yang dibagikannya mulai menipis karena sudah dibagikan sejak tanggal 1 Agustus.

Bendera juga dibagikan secara selektif mengingat banyaknya desa yang perlu mendapat pembagian. Kemudian sempat ada perdebatan antara tukang cukur dengan 'teman media' yang ikut rombongan kecamatan tentang ucapan 'belum merdeka'.

Video itu viral di media sosial (medsos). Tukang cukur itu terus dicecar soal alasan belum memasang bendera dan ucapan 'belum merdeka'. Abuy yang awalnya menanggapi dengan santi sambil melayani pelanggan akhirnya merasa terganggu dengan cecaran perekam.

Camat Tepis Kabar Intimidasi

Dita mengatakan pemasangan bendera Merah Putih sebagai simbol nasionalisme di bulan kemerdekaan. Tukang cukur juga sepakat soal imbauan memasang bendera.

Menurutnya, imbauan pemasangan tersebut sudah sesuai dengan Surat Edaran Bupati Bogor melalui Bakesbangpol. Sehingga ada yang menjadi landasan aturan atas tindakannya itu.

Saat berada di lokasi tukang cukur itu, Dita mengaku sempat mengambil jeda sejenak untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan. Namun ternyata orang yang disebut Dita sebagai 'teman media' itu terlibat adu mulut dengan tukang cukur.

Dia menegaskan tidak ada maksud dari pemerintah kecamatan untuk memaksa maupun mengintimidasi warga agar memasang bendera.

"Saya tidak ada niat sedikit pun untuk memaksa, mengintimidasi seseorang memasang bendera," katanya.

Dita mengatakan pihak kecamatan tak pernah memerintahkan Abuy membuat video permohonan maaf sambil memegang bendera. Ia menyebut Abuy sempat datang bersama RT dan RW untuk meluruskan persoalan agar tidak berlanjut.

Dia mengatakan video Abuy memegang bendera dan menyampaikan permohonan maaf tanpa sepengetahuan dirinya maupun pegawai kecamatan. Video itu dibuat Abuy karena diminta orang yang mengaku dari pihak media.

"Nah videonya tukang cukur yang naik juga saya juga nggak tahu gitu ya kan, jadi kayak disidang gitu kan ya sifat dia pegang bendera kayak yang disidang gitu kan," terangnya.

Camat Tegur Perekam

Dita menilai cara 'rekan media' menegur tukang cukur tidak tepat. Dia mengatakan 'rekan media' tersebut ikut rombongan bukan karena diajak pihaknya.

"Nah, pada saat itu ada, ada teman media ya yang membantu kita nih. Awalnya sih bukan mau bantu publikasi gitu, dia mau bantu mengimbau warga, mau bantu kebersihan juga, awalnya bukan mau bantu kita untuk publikasi," terangnya.

"Tapi kan kita juga sama, saya juga ke teman media saya yang itu cara menegur itu tidak seperti itu, jangan emosional yang kita hadapi itu kan warga masyarakat ya, nah seperti itu sudah, sudah kita sampaikan juga ke beliau," imbuhnya.

Tukang Cukur Buka Suara

Abuy bertemu dengan Camat Rancabungur, Dita Aprilia. Dalam pertemuan itu, Abuy menyampaikan dirinya tidak menerima intimidasi dari pihak kecamatan saat sosialisasi pemasangan bendera itu seperti dalam video yang beredar.

"Saya Kang Abuy atau Nurhidayat selaku pengusaha pangkas rambut di Desa Bantarkambing membenarkan bahwasanya tidak ada tindak intimidasi dari kecamatan maupun Bapak Satpol PP yang ikut serta mensosialisasikan untuk pemasangan bendera pada hari itu," kata Abuy.

Abuy menyatakan ada pihak yang mengaku-ngaku sebagai pihak media yang memintanya memasang bendera dan membuat video klarifikasi sekaligus minta maaf terkait keramaian tersebut. Pihak media tersebut terus merekam video dan mencecarnya dengan sejumlah pertanyaan hingga membuatnya terganggu saat melayani pelanggan.

"Adapun yang memaksa saya membuat video klarifikasi adalah dari pihak media tersebut," jelasnya.

Dilansir detikJabar, Abuy mengaku tidak pernah menolak memasang Merah Putih. Ia juga membantah terpaksa mengibarkan bendera.

"Nggak ada sama sekali. Nggak ada. Jadi udah inisiatif sendiri," ujarnya menjawab Merah Putih yang sudah berkibar di depan tempat kerjanya di Jalan Atang Sanjaya, Bantar Jaya, Rancabungur.

Abuy juga menjelaskan soal ucapan 'belum merdeka' yang sempat viral. Dia menjelaskan maksud ucapan tersebut karena belum tanggal 17 Agustus sehingga bendera belum dipasang.

"Sebenarnya enggak menjurus ke situ, ya. Maksud saya itu 'belum merdeka' artinya belum hari H-nya Hari Kemerdekaan. Belum tanggal 17," katanya.

Selain itu, dia memaknai 'belum merdeka' dalam konteks kondisi perekonomian seperti harga bahan pokok, ongkos bensin, jumlah pelanggan yang datang, serta kemampuan membawa pulang penghasilan untuk keluarga.

"Makna merdeka, ya, dari segi ekonomi sih saya pribadi memang belum merdeka. Masih ngerasa kekurangan lah mungkin. Indonesia udah merdeka, tapi bagi saya, bagi diri saya sendiri itu belum," katanya.

(jbr/aik)

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |