Jakarta, CNBC Indonesia-Rupiah terus melanjutkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. Kini dolar AS sudah berada di level Rp16.800.
Melansir data Refinitiv, rupiah Garuda ditutup di level Rp16.855/US$ pada perdagangan Rabu (14/1/2026).
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia di VIP Money Changer Menteng, Jakarta pada pukul 13.00 WIB kurs jual (rupiah ke dolar AS) masih berada di kisaran Rp16.930/US$. Sementara kurs beli (dolar AS ke rupiah) Rp16.890/US$.
Adapun di tempat penukaran uang lain, seperti di Smart Deal menawarkan kurs yang masih sama dengan VIP, yakni untuk rate beli Rp 16.890/US$ sedangkan rate jual Rp 16.985/US$.
Sementara itu, di money changer Java Arta Valasindo untuk harga beli mereka terhadap dolar AS malah sudah jauh lebih rendah, yakni Rp 16.750/US$, namun rate jualnya sudah tembus ke level Rp 17.010/US$.
Adapun nilai kurs di bank beberapa memang sudah menyentuh kisaran atas Rp 16.900/US$.
Bagaimana Analisa Bank Indonesia (BI)?
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia.
"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Erwin dalam pernyataan resmi.
Alhasil, kondisi ini mendorong rupiah melemah dan ditutup pada level Rp 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi sebesar 1,04% secara year-to-date. Meskipun demikian, pelemahan rupiah tersebut masih sejalan dengan pergerakan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global, antara lain won Korea yang melemah sebesar 2,46% dan peso Filipina sebesar 1,04%.
Erwin menegaskan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder.
Selain itu, berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.
"Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar USD156,5 miliar, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global," paparnya.
Erwin menegaskan BI akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas, sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Ramalan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Purbaya meyakini nilai tukar rupiah akan kembali menguat dalam dua minggu ke depan. Hal ini didasari dengan keyakinannya atas kembalinya aliran dana asing ke aset dalam negeri.
Purbaya menuturkan perihal rupiah merupakan wewenang Bank Indonesia. Namun, dirinya melihat jika ekonomi membaik, maka kepercayaan investor asing juga akan kembali bangkit. Alhasil, kondisi ini akan mendorong penguatan rupiah.
"Modal-modal asing akan masuk. Mereka masuk ke negara yang menjanjikan pertumbuhan yang lebih tinggi," kata Purbaya.
Dia memperkirakan pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal IV-2025 akan mencapai 5,45%. Ini akan menjadi basis kuat untuk selanjutnya tumbuh di arah 6% pada tahun ini.
"Kita akan dorong ke arah sana. Jadi kalau itu mereka udah yakin. Jadi Anda gak usah takut. Fondasi kita kuat," paparnya.
"Rupiah akan kuat karena modal akan masuk ke sini. Dan orang Indonesia yang naro uangnya di sana, ke luar negeri juga akan balik," ujan Purbaya.
Dia yakin uang-uang warga Indonesia yang di luar negeri juga akan kembali ke dalam negeri karena mereka tidak bisa berbisnis di luar negeri. "Mereka gak biasa bersaing sehat di sana," ujar Purbaya.
Terkait dengan aliran modal asing ini, dia tidak mempermasalahkan perihal Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) selama aset keuangan ini diserap oleh investor asing, bukan lokal.
"Kalau SRBI betul-betul menyerap dana asing ya gak apa2, tapi kan banyak juga domestik masuk situ," ujarnya.
(mij/mij)
[Gambas:Video CNBC]


















































