Diresmikan Prabowo, Ini Data dan Fakta Proyek Kilang Minyak Terbesar RI

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan proyek kilang raksasa Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada Senin (12/1/2026). Adapun, proyek ini menelan investasi sekitar Rp123 triliun dan menjadi kilang minyak terbesar di Indonesia dengan kapasitas pengolahan 360.000 barel per hari.

Prabowo pun menyampaikan rasa syukur atas rampungnya proyek yang dinilai bersejarah tersebut. Terlebih proyek peresmian kilang terakhir kali dilakukan pada tahun 1994, atau sekitar 32 tahun lalu di era kepemimpinan Presiden ke-2 Soeharto.

Karena itu, ia mengapresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam suksesnya proyek ini. Mulai dari para insinyur, pekerja, aparat keamanan, pemerintah daerah, manajemen, hingga masyarakat Balikpapan.

"Tadi sudah disebut bahwa acara seperti ini pernah dilakukan tahun 1994. Berarti 32 tahun yang lalu. Ya lumayan cukup bersejarah. Tentunya saya menyambut bahagia dan merasa sangat bangga atas yang kita hasilkan hari ini dengan persemaian ini," kata Prabowo dikutip Selasa (13/1/2026).

Mengutip akun instagram Kementerian ESDM, proyek RDMP Balikpapan merupakan investasi strategis negara yang dikerjakan oleh Pertamina sejak 2019. Proyek ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam mengejar target swasembada energi sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.

Dengan nilai investasi mencapai Rp123 triliun (sekitar US$ 7,4 miliar), kilang ini kini dilengkapi teknologi modern yang mampu memproses berbagai jenis minyak mentah secara lebih efisien dan ramah lingkungan.

Terpisah, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman mengatakan peresmian RDMP sejalan dengan Asta Cita pemerintahan Presiden Prabowo, terutama butir kedua mengenai swasembada energi serta butir kelima terkait kelanjutan hilirisasi.

Ia memerinci fasilitas terintegrasi RDMP Balikpapan mencakup peningkatan kapasitas kilang dari 260 ribu barel minyak per hari (BOPD) menjadi 360 ribu BOPD. Selain itu, kapasitas tangki timbun crude oil Lawe-Lawe juga ditingkatkan dari 5,6 juta barel menjadi 7,6 juta barel.

Proyek ini juga dilengkapi pembangunan tangki timbun BBM dan Terminal Tanjung Batu berkapasitas 125.000 kiloliter (KL) beserta empat dermaga, dan pembangunan pipa gas pasokan bahan bakar kilang dari Senipah ke Balikpapan sepanjang 78 kilometer dengan kapasitas 125 MMSCFD.

Laode menyampaikan, saat ini Indonesia memiliki delapan unit kilang pengolahan minyak bumi dengan total kapasitas sekitar 1,182 juta BOPD, sementara kebutuhan BBM nasional telah mencapai sekitar 1,6 juta BOPD.

Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, produksi dalam negeri akan diperkuat melalui tambahan gasoline, diesel, avtur, LPG, serta produk petrokimia seperti propilena. Total produksi ini berpotensi menurunkan nilai impor BBM hingga sekitar Rp68 triliun per tahun.

"Selain itu, proyek ini juga menyerap puluhan ribu tenaga kerja, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, serta memberi kontribusi signifikan terhadap PDB nasional hingga Rp514 triliun," ujarnya.

Salah satu unit kunci dalam pengembangan kilang terintegrasi ini adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Unit ini menjadi simbol keberhasilan strategi hilirisasi migas yang selama ini didorong oleh Menteri ESDM, karena memungkinkan konversi residu menjadi BBM dan produk bernilai tambah tinggi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan daya saing kilang nasional.

Lepas dari impor BBM

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bertambahnya kapasitas RDMP Balikpapan membuka peluang Indonesia menghentikan impor BBM karena kebutuhan nasional bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

"Insyaa Allah begitu RDMP Kilang Balikpapan diresmikan pengoperasiannya mulai tahun ini, impor solar dihentikan. Hal ini dilakukan dalam rangka mendorong kedaulatan energi dengan tidak lagi mengandalkan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri melalui impor," kata Bahlil ditemui sesaat sebelum peresmian RDMP Balikpapan, Kalimantan Timur, dikutip Selasa (13/1/2026).

Bahlil menjelaskan keseimbangan antara kebutuhan dan pasokan solar nasional. Kebutuhan solar Indonesia tercatat sebesar 39,8 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah tersebut, program B40 menyumbang pasokan Fatty Acid Methyl Este (FAME) sebesar 15,9 juta kiloliter (kl) per tahun, sehingga kebutuhan solar murni (B0) tersisa 23,9 juta kl per tahun. Dengan produksi nasional yang saat ini mencapai 26,5 juta kl per tahun, pemerintah menargetkan penghentian impor solar mulai pertengahan 2026 untuk produk CN 48 maupun CN 51, mulai pertengahan 2026.

Mengenai produk bensin, Bahlil menyampaikan bahwa kebutuhan nasional mencapai sekitar 38,5 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan tersebut terdiri atas bensin RON 90 sebesar 28,9 juta kl per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta kl per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kl per tahun.

Ia menjelaskan, melalui optimalisasi RDMP Kilang Balikpapan, produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 dapat ditingkatkan hingga 5,5 juta kl per tahun. Dengan tambahan kapasitas tersebut, impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 dapat ditekan hingga sekitar 3,6 juta kl per tahun.

"Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90," ungkap Bahlil.

Pemerintah menegaskan pemenuhan kebutuhan BBM dalam negeri merupakan bagian dari amanat konstitusi. Sesuai Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 menyebutkan bahwa cabang-cabang produksi yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Karena itu, bagi Bahlil, penguatan dan pengembangan kilang dipandang sebagai wujud tanggung jawab negara dalam menjamin ketersediaan pasokan energi bagi masyarakat.

Untuk mencapai kemandirian energi, pemerintah menyiapkan tiga langkah utama. Pertama, meningkatkan kapasitas kilang, seperti yang dilakukan melalui pengembangan Kilang Balikpapan. Kedua, mendorong diversifikasi energi dengan mengoptimalkan program biodiesel, termasuk B40, guna mengurangi ketergantungan pada solar berbasis fosil. Ketiga, menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan energi nasional agar ketersediaan BBM tetap terjaga.

(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kepri Bersatu| | | |