Jakarta, CNBC Indonesia - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai mengubah peta permintaan properti, khususnya untuk lahan dan aset penunjang data center. Lonjakan kebutuhan komputasi membuat sektor ini memasuki fase ekspansi besar-besaran dan ikut mendorong perburuan lokasi strategis di berbagai wilayah.
Kementerian Komunikasi dan Digital memperkirakan industri data center nasional tumbuh sekitar 14% per tahun hingga 2028, seiring meningkatnya jumlah pengguna internet dan aktivitas digital. Proyeksi Bank Dunia bahkan menempatkan pertumbuhan permintaan data center Indonesia hingga 16,8% per tahun, mempertegas daya tarik jangka panjang sektor ini bagi investor.
Sejalan dengan itu, peta investasi properti di Tanah Air mulai bergeser. Investor tidak lagi hanya berfokus pada sektor konvensional, melainkan aktif mencari segmen alternatif yang dinilai lebih defensif dan berpotensi tumbuh stabil.
"Pasar investasi properti di Indonesia saat ini tengah mengalami tren diversifikasi. Investor semakin aktif menjajaki sektor-sektor alternatif yang menawarkan stabilitas serta potensi pertumbuhan jangka panjang, dengan data center muncul sebagai salah satu segmen paling menarik, bersama dengan sektor logistik, kesehatan, dan pendidikan," ujar Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah dalam keterangannya, Kamis (15/1/2026).
Permintaan yang meningkat ini ikut mengerek nilai dan daya tarik lahan di lokasi-lokasi tertentu. Kawasan pusat bisnis Jakarta tetap relevan karena kedekatannya dengan pusat konektivitas internet utama atau internet exchange point.
Di luar Jabodetabek, kawasan industri seperti Cikarang dan Karawang mulai dilirik hyperscaler (fasilitas pusat data masif) berkat kesiapan lahan, infrastruktur, serta akses ke sumber listrik mandiri. Sementara itu, Batam semakin sering masuk radar investor sebagai calon hub data center regional, ditopang keunggulan konektivitas lintas negara.
Di tengah persaingan Asia Tenggara yang kian ketat, percepatan adopsi AI di Indonesia turut memperbesar kebutuhan akan infrastruktur digital yang andal dan berkapasitas tinggi. Kondisi ini membuat isu ketersediaan energi, air bersih, konektivitas, hingga kesiapan sumber daya manusia menjadi semakin krusial dalam perencanaan pengembangan data center ke depan.
"Ke depan, penguatan kesiapan infrastruktur (khususnya dalam ketersediaan listrik dan akses air bersih), konektivitas, serta pengembangan talenta akan menjadi faktor kunci untuk memastikan Indonesia tetap kompetitif sebagai tujuan investasi data center di kawasan," tambah Farazia Basarah.
Laporan Global Data Center Outlook 2026 dari JLL mencatat kapasitas data center global diperkirakan melonjak hampir dua kali lipat dari sekitar 103 gigawatt (GW) saat ini menjadi 200 GW pada 2030. Pertumbuhan ini sebagian besar dipicu oleh AI, yang bebannya diproyeksikan mencakup sekitar 50% dari total kapasitas global pada akhir dekade, naik tajam dibandingkan sekitar 25% pada 2025.
Dalam lima tahun ke depan, sektor data center global diperkirakan menyerap investasi hingga US$3 triliun. Angka ini mencakup peningkatan nilai aset properti sekitar US$1,2 triliun serta pembiayaan utang baru mendekati US$870 miliar, menandai dimulainya supercycle investasi infrastruktur digital. Meski tumbuh agresif, JLL menilai fondasi sektor ini masih solid dan belum menunjukkan gejala gelembung di pasar properti.
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]


















































